<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859</id><updated>2012-02-16T11:08:00.603-08:00</updated><category term='J50K'/><title type='text'>karena hidup adalah metamorfosis</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-4402899450299455245</id><published>2012-01-31T09:08:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T09:10:13.168-08:00</updated><title type='text'>Touchdown 50K! Kata Magis di Bulan Januari</title><content type='html'>Malam-malam nih baru sempat menulis pengalaman menarik dan sangat menarik selama sebulan menulis novel di ajang Januari 50K.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang ini pengalaman ternekat pertama saya seumur hidup. Menulis novel! Berani amat! Sedang &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menulis cerpen efektif baru setahun belakangan ini. Latar belakang pendidikan menulis tidak ada. Pengalaman menulis di media massa tidak punya. Menulis di majalah dinding jaman sekolah saja belum pernah. Saya cuma suka membaca. Itu saja. Jadi, saking miskinnya pengalaman, pengetahuan dan latar belakang menulis, saya sempatkan membaca 4 novel yang sekiranya dapat membimbing saya untuk memberikan pengetahuan bagaimana membuat alur cerita dan mengembangkan tokoh untuk cerita dengan genre yang akan saya tulis. Genre yang saya pilih untuk Januari 50K adalah drama rumah tangga. Oleh karenanya dari koleksi novel fiksi yang saya punya, saya memilih Tea for Two (Clara Ng), Cinta Sebuah Rumah Dihatimu (Ollie Salsabeela), Alpha Wife (Ollie Salsabeela), dan Ascolta La Mia Voce (Suzanna Tamaro).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu pertama di bulan Januari adalah hari-hari yang penuh perjuangan untuk menulis. Bagaimana tidak. Meskipun saya sudah mengusahakan untuk membuat seisi rumah tahu kalau saya punya tugas berat selama bulan Januari 2012 ini, tetap saja yang namanya menemani anak-anak liburan sekolah itu tidak mungkin dihindari. Alhasil, jumlah kata yang dihasilkan di minggu pertama bulan Januari melaju bak siput merayap. Belum lagi mood di awal penulisan belum benar-benar baik. Bingung bagaimana baiknya naskah ini diawali. Dengan bab yang mengisahkan bagian mana supaya pembaca tertarik untuk menyentuh bab berikutnya. Idealisme di awal penulisan novel itu bagi saya ternyata menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi keinginan untuk tidak mengecewakan pembaca selalu ada (baca: banyak gaya padahal amatir), disisi lain ternyata hambatan banyak dialami saat saya menginginkan sebuah kesempurnaan didalam tulisan saya. Kalau sudah pusing begini saya memilih tidur saja atau bermain dengan anak-anak. Percuma menulis, tidak ada yang bisa ditulis juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menginjak minggu kedua, saya mulai merasakan menikmati bercerita kepada diri sendiri ini (karena blog saya 'private' selama menulis). Meski demikian, ternyata masalah lain muncul. Saya mulai kebingungan mempertahankan alur cerita. Belum lagi karakter yang lupa-lupa ingat pada masing-masing tokoh. Mau kesal dan pergi tidur tidak mungkin karena waktu makin sempit. Akhirnya saya mencari padanan tiap tokoh yang saya tulis dengan beberapa orang teman, kerabat maupun tetangga saya. Tentunya yang sifatnya mirip-mirip dengan tokoh-tokoh dalam cerita saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu ketiga dipenuhi oleh hari-hari dimana kegiatan anak-anak di sekolah sudah mulai meningkat. Bersamaan dengan meningkatnya mood menulis saya. Saya mulai dihinggapi keraguan apakah saya yang pemula, hanya modal nekat dan repot dengan urusan keluarga ini akan dapat menyelesaikan naskah sebanyak minimal 50.000 kata ini di akhir Januari. Perlahan saya mulai menjauh dari tulisan saya. Menjaga jarak dengan tokoh-tokoh yang saya ciptakan sendiri. Mungkin takdir mereka nantinya bukan saya yang menentukan. Tapi ternyata saya rindu bertemu dengan mereka. Sedih rasanya berpisah setengah hari saja dengan mereka. Saya merasa mereka memanggil-manggil saya. Menolak ditentukan takdirnya oleh orang lain. Saya baru sadar ternyata saya tidak hanya nekat, tapi juga gila. Lengkap sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dengan tertatih-tatih ke hulu, sampai juga saya ke minggu keempat di bulan Januari. Minggu dimana kepanikan merajalela di pikiran saya. Bagaimana tidak, bahkan di awal minggu tersebut sudah ada yang mengumpulkan 50.000 kata! Saya mulai kelabakan. Tidak hanya waktu yang terus bergerak, tapi berbagai kegiatan di luar rumah juga mulai meningkat. Saya tidak dapat meninggalkan kegiatan-kegiatan tersebut begitu saja. Jadi, apa boleh buat, tiap malam saya begadang mari begadang sampai pagi. Oya, begadang sih setahu saya rutinitas biasa ya bagi penulis. Tapi bagi amatir seperti saya, rupanya hal ini belum menjadi kebiasaan. Akhirnya, tiap pagi saya bak zombie bangkit dari kubur mengantar anak-anak ke sekolah. Wajah kuyu tidak beraturan menjadi pemandangan orang-orang di rumah saya tiap pagi. Satu hal lagi, saya tidak biasa minum kopi. Selama mengikuti Januari 50K ini tidak setetes kopi pun saya minum. Sengantuk apapun itu. Kafein saya hanyalah semangat yang saya pupuk sendiri dan juga suntikan semangat dari sana sini teman-teman dan panitia yang baik hati dan tidak sombong penghuni grup Januari 50K di facebook.Setiap kali semangat akan runtuh, saya membuka grup tersebut di facebook dan simsalabim! Semangat ada lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membuka grup yang penuh semangat itu, ada satu hal lagi yang membuat saya terus melangkah untuk mencapai garis finish 50K. Itu adalah pelengkap kegilaan yang sudah saya miliki sebelumnya. Terobsesi dengan kata Touchdown 50K! Ya, kata-kata tersebut mulai menghantui kepala saya di minggu keempat bulan Januari. Saya ingin menjadikan kata-kata itu seolah tagline saya di bulan Januari. Berbekal keinginan tersebut, saya mulai ngebut sengebut-ngebutnya. Hari Jumat tanggal 27 Januari, sepulang dari mengantar anak saya dan rombongan sekolahnya lomba tari Saman di Istora Senayan, terus terang saya merasa sangat lelah. Tenaga saya sudah saya habiskan selama menjadi suporter anak saya di lomba tersebut. Meski demikian, kata-kata magis tadi telah masuk ke aliran darah saya rupanya. Membuat saya setengah mati kecanduan untuk menulis. Akhirnya, pukul 11 malam saya paksa tangan saya untuk mengetik kelanjutan cerita yang sedang saya buat. Sampai mata ini tidak mau kompromi lagi, saya baru berhenti menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih banyak lagi pengalaman menarik lainnya. Tapi saya sedang ingin membalas dendam kekurangan tidur saya sebulan yang lalu. Jadi saya sudahi dulu cerita saya tentang pengalaman menempuh Januari 50K sampai disini :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah akhirnya saya bisa mencapai 50K, menyelesaikan cerita yang saya buat meski masih amburadul sangat, dan meneriakkan Touchdown 50K! untuk diri saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk panitia atas pengalaman menarik dan mengesankan yang bakal sulit saya lupakan ini. Terima kasih juga untuk rekan-rekan penulis nekaders yang telah membuat saya makin menyukai dunia penulisan dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, salam semangat 'Touchdown 50K!' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 31 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-4402899450299455245?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/4402899450299455245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/touchdown-50k-kata-magis-di-bulan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4402899450299455245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4402899450299455245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/touchdown-50k-kata-magis-di-bulan.html' title='Touchdown 50K! Kata Magis di Bulan Januari'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-1621540774288777781</id><published>2012-01-31T07:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:39:35.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>PENUTUP</title><content type='html'>Debur ombak pantai Senggigi mempesona dua insan yang tak bosan-bosan melepas suasana senja di pinggir pantai. Mereka sibuk menimbun tubuhnya dengan pasir putih yang terasa hangat sore itu. Yang pria mengenakan kaos putih bergambar suasana tepi pantai yang sengaja dibelinya di sebuah kios tidak jauh dari tempatnya menginap di Lombok. Yang perempuan terlihat lebih berhati-hati menggerakkan tubuhnya. Seperti &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;ada benda berharga yang selalu dibawanya kemana-mana. Ia tak ingin benda itu jatuh ataupun terluka.&lt;br /&gt;Menjelang matahari terbenam, keduanya duduk beralaskan tikar yang digelar di dekat sebuah timbunan pasir mirip kastil mungil hasil karya mereka.&lt;br /&gt;Santi menyandarkan kepalanya di bahu Anto. Tak bosan-bosan dirinya menikmati kehangatan pelukan suaminya yang seolah baru dikenalnya. Santi memejamkan mata. Hari-hari yang telah dilaluinya bersama Anto berkelebat di kepalanya. Ia segera menepis semuanya. Ia telah memulai babak baru dalam hidupnya. Setelah potongan-potongan puzzle yang tak kunjung lengkap akhirnya menemukan bentuknya masing-masing. Terangkai menjadi sebuah gambar yang tak pernah ia duga sebelumnya. Sebuah mozaik kehidupan yang terbuat dari kaca beraneka warna dengan beragam goresan di dalamnya. &lt;br /&gt;Kala warna langit makin menua, kedua insan tadi masih saja bercakap-cakap sambil menikmati air kelapa muda yang disajikan dalam wadah aslinya.&lt;br /&gt;“Kenapa sih pake rahasia-rahasiaan segala…,” ucap lelaki yang tak bosan-bosan menatap wajah perempuan di hadapannya. Baginya, sang perempuan adalah jelmaan bidadari yang hadir menemaninya untuk berlibur melepas lelah di Lombok. Wajahnya selalu membawa kedamaian di hati sang lelaki. Rambut sebahunya menampakkan kepraktisan ala perempuan masa kini. Sorot tajam matanya seolah telaga yang tak pernah kering airnya. &lt;br /&gt;“Bukan merahasiakan, hanya ingin buat kejutan aja. Katanya suka…”&lt;br /&gt;Anto mendehem perlahan. Ia merasa sebagian pasir yang menyelimuti kaki telanjangnya tertelan sebagian. Menggelitik tenggorokannya yang tak kunjung selesai menghembuskan nafas cinta yang dirasakannya saat ini. Kejadian seminggu yang lalu, kala Santi tiba-tiba muncul di tempat kerjanya adalah hadiah terindah bagi dunianya yang kian hari kian sepi. Santi memeluknya haru di depan seluruh anak buahnya. Hanya Anto dan Santi yang dapat memaknai pelukan penuh arti itu. Anak buahnya hanya tahu bahwa Santi hadir kala itu untuk menyampaikan sebuah ucapan selamat yang istimewa dengan datang langsung ke kantornya. Mereka tidak perlu tahu. Cukup hatinya dan hati Santi yang bicara. Mewakili seluruh gelora perasaan yang hadir saat itu.&lt;br /&gt;“Suka sih…sama kejutan. Tapi kalau jantung copot gimana…”&lt;br /&gt;“Ganti aja pakai jantung ikan!”&lt;br /&gt;“Biar bisa berenang di…”&lt;br /&gt;“Stop ngegombal!”&lt;br /&gt;Anto dan Santi tertawa bersama.&lt;br /&gt;Hari-hari Anto yang hilang bersama Santi tertebus sudah. Surat dari Ratri yang ditujukan untuk Santi telah berhasil menjawab kegelisahan Santi dan memanggil kembali hatinya yang telah meringkuk dalam kelamnya luka. &lt;br /&gt;Sebuah surat yang hingga kini masih tersimpan rapi di dalam kotak mungil berwarna merah jambu dengan hiasan pita diatasnya. Surat yang disampaikan dengan indah oleh Budi, yang ternyata adalah sepupu Ratri. Sebuah lingkaran yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa untuknya. &lt;br /&gt;Santi yang kusayangi,&lt;br /&gt;Terima kasih untuk kedatanganmu ke rumahku waktu itu. Perkenalan kita terbilang singkat. Kita mungkin memang ditakdirkan untuk bertemu agar semua yang kita rasa benar selama ini terlihat sebagaimana yang seharusnya. &lt;br /&gt;Aku telah berlaku tidak adil terhadapmu dan Anto. Menabur kebencian di hati kalian. Menggali kesalahan demi kesalahan yang akhirnya menghancurkan diriku sendiri. Kalau aku boleh memilih, aku ingin dilahirkan dengan segenap keberanian seperti dirimu. Tegar menghadapi masa lalu dan kemelut rumah tangga sendiri tanpa harus menyalahkan keadaan dan orang lain. Bukan pengecut yang berpura-pura bahagia sementara sesungguhnya ia sedang menunggu kehidupan orang lain menjadi kering, meranggas dan akhirnya binasa.&lt;br /&gt;Budi pasti sudah bercerita padamu bahwa pernikahanku dengan Anto bukanlah berdasarkan cinta sejati. Budi juga aku minta menceritakan sebagian kisahku dan Anto yang selama ini aku tutupi darimu. Kamu tahu mengapa aku melakukan ini semua. Ya, karena aku pengecut. &lt;br /&gt;Santi,&lt;br /&gt;Pandanglah hidupmu ke depan. Anggap kejadian demi kejadian yang telah kau lalui selama ini sebagai bagian dari melodi yang hanya dirimu yang mengerti bagaimana mengakhirinya menjadi sebuah nyanyian yang indah.&lt;br /&gt;“Ehm…ehm…”&lt;br /&gt;Suara Anto membuatnya terkejut. Membuyarkan lamunannya tentang kalimat demi kalimat yang tertulis di dalam surat Ratri untuknya.&lt;br /&gt;“Boleh tanya ngga?” Anto berbicara sambil menyentuh perut Santi yagn sudah mulai kelihatan membuncit.&lt;br /&gt;“Ngga, ga boleh…” jawab Santi menggoda.&lt;br /&gt;“Ya udah, ngga apa-apa, aku pulang duluan aja”&lt;br /&gt;“Heyy…apaan sih kok jadi sensi gitu,” Santi merengut manja.&lt;br /&gt;“Sensi laah…dikerjain melulu sama ibu hamil,” sahut Anto sambil mencubit hidung Santi.&lt;br /&gt;Bulan mulai bangun dari peraduannya. Mengingatkan matahari untuk berhenti bermain-main di langit. Tirai senja sengaja digelar agar setiap orang dapat menikmati pergantian tugas raja dan ratu langit itu.&lt;br /&gt;Anto menggamit tangan istrinya, membantunya bangkit dari tikar yang mereka pasang sebagai alas duduk.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;“Mau tanya apa sih?” ujar Santi memasang tampang serius.&lt;br /&gt;“Mau tau aja, kenapa sih istriku yang cantik ini memilih Lombok sebagai tempat berlibur?”&lt;br /&gt;Santi melingkarkan tangannya ke pinggang Anto, tersenyum penuh arti, lalu berbisik,”Karena pantainya indah…”&lt;br /&gt;Sekilas Santi memandang deretan kata di akhir surat Ratri untuknya di batas cakrawala senja kala itu…&lt;br /&gt;Wirendra suka denganmu. Ia mengatakannya padaku. Aku bilang kita berdua akan selalu mendoakan kebaikan untuk Om Anto dan Tante Santi. Ia mengangguk. &lt;br /&gt;Aku berharap di suatu waktu di kala senja, kau akan mengingat wajah kami berdua…&lt;br /&gt;Salam kami,&lt;br /&gt;Ratri &amp;amp; Wirendra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-1621540774288777781?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/1621540774288777781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/penutup.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1621540774288777781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1621540774288777781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/penutup.html' title='PENUTUP'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-6663438644854446921</id><published>2012-01-31T07:37:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:37:15.576-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>TIGA PULUH</title><content type='html'>“Pertimbangan kami memilih Pak Anto untuk menjadi kepala cabang di kantor Surabaya adalah berdasarkan pengalaman bekerja dan prestasi yang selama ini diraih. Selamat, Pak. Kami memberi waktu satu bulan untuk mempersiapkan kepindahan Bapak dan pengalihan pekerjaan Bapak di Jakarta kepada manajer baru”&lt;br /&gt;Anto bahagia mengetahui hasil kerjanya selama ini dihargai dengan baik oleh pihak perusahaan. Kepindahan &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;yang diikuti kenaikan jabatannya kali ini akan menjadi hadiah istimewa di hari ulang tahunnya nanti di akhir bulan Maret. Ia harus segera mempersiapkan segala sesuatunya agar proses kepindahannya lancar.&lt;br /&gt;“Pak, saya dengar Bapak mau pindah ya…naik jabatan! Wah, selamat ya Pak!,” seorang anak buahnya menyalami Anto pada waktu jam istirahat kantornya di hari yang sama dengan dirinya menghadap kepala HRD perusahaan tempatnya bekerja.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, beberapa anak buahnya yang lain turut memberi selamat. Tidak terkecuali Yuli, asisten setianya, yang merasa sangat kehilangan atas rencana kepindahannya. Setelah memberi selamat pada Anto, hingga jam istirahat usai, Yuli tidak nampak batang hidungnya. Ia meminta izin kepada Anto melalui sms untuk keluar sebentar menjenguk temannya yang berada di rumah sakit.&lt;br /&gt;Anto duduk di meja kerjanya sambil membolak-balik catatan hariannya. Ternyata setelah dibuat urutan pekerjaan yang harus dilakukannya sebelum pindah ke Surabaya, ia tidak yakin apakah waktu sebulan yang diberikan oleh pihak HRD dapat dipenuhi olehnya. Sebisa mungkin sebagian dari pekerjaan ini harus ia delegasikan kepada anak buahnya yang dianggap sudah cukup memadai untuk melakukan tugas-tugasnya. Penggantinya akan membutuhkan bantuan dari anak buahnya juga kelak. &lt;br /&gt;Anto mendengar pintu ruang kerjanya diketuk. Begitu ia membuka pintu, lebih dari sepuluh anak buahnya berdiri memadati bagian luar ruang kerjanya. Yuli berada di tengah kerumunan dengan membawa sebuah tiramisu cake ukuran 30x30cm. Anto terharu dibuatnya. Mereka masih akan bersamanya untuk paling tidak satu bulan kedepan.&lt;br /&gt;“Saya masih punya satu bulan bersama kalian. Saya tidak mengerti bagaimana sebaiknya mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang baik selama ini. Mestinya saya yang menghadiahi kalian dengan…”&lt;br /&gt;Anto tidak diberi kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Perlahan tapi pasti, kerumunan anak buahnya itu menyeruak satu per satu membentuk lorong bagi Anto untuk melihat dan bertemu dengan hadiah yang sesungguhnya…yaitu seseorang yang mungkin sudah tidak lagi sempat diingatnya disela kesibukan promosi jabatannya…seorang yang dinanti dengan seluruh jiwa dan raganya…yang ternyata juga menantinya selama ini.&lt;br /&gt;“Santi!” Anto tertegun tak percaya dengan apa yang dilihatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-6663438644854446921?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/6663438644854446921/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tiga-puluh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6663438644854446921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6663438644854446921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tiga-puluh.html' title='TIGA PULUH'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-6110330414649965228</id><published>2012-01-31T07:33:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:33:24.744-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH SEMBILAN</title><content type='html'>Santi mengemasi barang-barangnya. Pagi ini ia sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Kesehatannya sudah jauh lebih baik. Seorang suster yang pagi itu meletakkan obat-obatan yang harus Santi bawa pulang terlihat lebih segar dari biasanya. Mungkin karena bucket bunga yang ada di tangannya.&lt;br /&gt;“Indah sekali, Suster,” Santi terpesona dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Ini untuk Ibu,” ujarnya.&lt;br /&gt;“Untuk saya? Wah, bahagianya yang menjadi pasien rumah sakit ini. Di hari terakhirnya mendapat seikat bunga secantik ini,” ujar Santi tanpa melepas pandangannya pada bunga yang ada di tangan sang suster.&lt;br /&gt;“Bukan dari rumah sakit, Bu Santi. Ini dititipkan oleh teman Ibu. Saya hanya membantu menyampaikan saja. Sepertinya teman Ibu terburu-buru, jadi tidak dapat menyampaikannya langsung,” sang suster menerangkan sambil tertawa geli mendengar dugaan Santi tentang hadiah dari rumah sakit.&lt;br /&gt;“Ada ucapan di dalam amplop kecil merah muda ini,” lanjutnya sambil menyerahkan bucket bunga beserta amplop kecil yang dimaksud kepada Santi.&lt;br /&gt;“Terima kasih, Suster,” &lt;br /&gt;Tidak lama setelah sang suster pergi, Santi membuka amplop merah muda itu untuk mengetahui siapa pengirim bucket bunga tersebut.&lt;br /&gt;Senang melihatmu segar kembali…&lt;br /&gt;Budi Susanto&lt;br /&gt;Santi tersenyum kemudian memasukkan kartu ucapan dengan gambar lukisan bunga mawar didalam pot dengan hati-hati. Ia tak ingin membuatnya terlipat atau rusak. Ia ingin menjaganya. Seperti pengirim kartu itu menjaga cintanya selama ini pada Santi.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Masih boleh mengajak makan siang?&lt;br /&gt;Sebuah sms diterima Santi sehari setelah dirinya kembali ke rumah Irma. Sebuah perusahaan shipping berskala international mengirimkan surat panggilan untuk test tertulis dan wawancara minggu depan. Santi berharap tak lama lagi dirinya akan mendapat pekerjaan, dan tak perlu menjadi beban Irma lagi. ia memandang sms yang baru saja diterimanya sambil menimbang-nimbang. Minggu depan ia akan disibukkan dengan urusannya ke pengadilan agama serta mengikuti test tertulis dan wawancara. Mungkin minggu ini memang waktu yang tepat untuk berterima kasih pada Budi yang sudah banyak membantunya. Tak lama kemudian sebuah sms diketik di teepon genggamnya sebagai balasan sms dari Budi.&lt;br /&gt;Belum ada yang melarang &lt;br /&gt;Budi menjemput Santi ke rumah Irma. Irma turut bahagia dengan perkembangan teman dekatnya itu belakangan ini. Wajahnya terlihat lebih ceria semenjak Irma bercerita tentang Budi yang masih saja menanyakan keadaannya hingga kini. Semua orang suka diperhatikan. Perhatian yang diberikan Budi memang datang tepat pada waktunya. Santi sedang membutuhkan dukungan saat ini. Santi perlu merasa yakin bahwa dirinya masih diterima dengan baik oleh lingkungan sekitarnya meski mungkin ia berpikir bahwa ia tidak sedang menjalani kehidupan ini seperti apa yang dicita-citakan sebelumnya.&lt;br /&gt;Irma sendiri sesungguhnya sedang bimbang dengan kembalinya Bima di hidupnya. Pria yang sudah cacat di matanya ini bukan hanya mengharapkan dirinya kembali ke dalam pelukannya, tapi juga menjadikan Irma satu-satunya harapan untuk melanjutkan hidupnya. Bima mengaku pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan mengiris nadi di pergelangan tangannya. Bima beruntung karena seorang tetangganya yang kebetulan ingin bertamu ke rumahnya menemukannya dan langsung membawanya ke rumah sakit. Tapi Irma tidak dapat percaya begitu saja. Luka di pergelangan tangan Bima bisa saja sengaja dibuat beberapa saat sebelum bertemu dengan Irma. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, Budi dan Santi lebih banyak diam. Obrolan singkat yang mereka buat lebih banyak membahas tentang pekerjaan, cuaca yang tidak menentu, dan lalu lintas kota Jakarta yang semakin semrawut. &lt;br /&gt;“Jakarta makin lama makin tidak manusiawi untuk wanita bekerja. Berapa jam ia harus meninggalkan rumahnya kalau perjalanan pulang pergi ke kantornya saja sudah 4 jam. Terlebih musim penghujan seperti sekarang ini. Jalanan makin hari makin banyak yang berlubang. Perjalanan yang semula memang sudah memakan waktu kini makin menggila,” Budi berkicau sementara Santi sibuk melamun sendiri.&lt;br /&gt;“Kamu serius dengan rencanamu untuk bekerja?” lanjut Budi berusaha mendapatkan perhatian Santi.&lt;br /&gt;“Iyalah. Aku harus mampu menghidupi diriku dan anakku kelak…” Santi terkejut menyadari ucapannya yang mungkin kurang dipahami Budi.&lt;br /&gt;“Irma sudah bercerita padaku tentang…Anto. Aku turut menyesal. Mengapa semua ini terjadi pada kita”&lt;br /&gt;“Pada kita? Maksudnya?” Santi heran mendengar ucapan Budi yang terasa janggal ditelinganya.&lt;br /&gt;“Ya. Kamu dan Anto, dan aku dan Titin,” Budi menjawab lirih.&lt;br /&gt;“Kamu dan Titin…”&lt;br /&gt;“Kami resmi bercerai…”&lt;br /&gt;“Oh, maaf,” Santi tidak menyangka kenyataan yang dihadapinya ternyata menimpa Budi dan Titin, dua orang teman lamanya yang telah dikaruniai dua orang anak.&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya baru mau mengatakan ini padamu nanti…tapi rupanya…”&lt;br /&gt;“Sudah terlanjur. Tak apa. Bagaimana dengan anak-anak?”&lt;br /&gt;“Anak-anak baik. Mereka bersama Titin. Tidak ada yang lebih baik bagi anak-anak kecuali berada di dekat ibunya. Aku sering rindu pada mereka. Tapi kami berpisah baik-baik. Titin masih mengizinkanku untuk menengok dan mengajak anak-anak bermain”&lt;br /&gt;Budi terlihat bahagia kala menceritakan tentang anak-anaknya.&lt;br /&gt;“Kehidupan pernikahan memang penuh misteri. Aku dan Titin tidak pernah menyangka pernikahan kami akan berakhir begini. Tidak ada orang ketiga, bukan karena masalah finansial, dan…ah, kamu pasti bosan mendengarnya. Macam kisah perceraian artis saja,” Budi tersenyum mengingat betapa dirinya telah bertingkah layaknya presenter infotainment di hadapan Santi. Tapi semua yang dikatakannya benar adanya. Entah apakah Titin menyembunyikan sesuatu darinya, tapi sepanjang ia tahu, kesenjangan komunikasi antara dirinya dan Titin memang sudah berlangsung lama. Saat masalah timbul dalam keluarga mereka, bukan kedekatan yang terbentuk, tapi jurang yang sudah ada bertambah dalam. Kesibukan Budi dan Titin sehari-hari di tempat kerjanya telah membuat mereka melupakan hal-hal sederhana yang dapat dilakukan untuk saling menyentuh hati masing-masing, seperti makan malam bersama, bercerita untuk anak-anak menjelang tidur, ataupun sekedar menanyakan kabar masing-masing di sela-sela kesibukan di kantor. &lt;br /&gt;Budi merasa perpisahannya dengan Titin justru membuat mereka kini lebih dekat ke anak-anak yang telah lama haus akan kasih sayang mereka. Tapi keraguan untuk terus hidup bersama terlanjur telah menjalar di pikiran Budi dan Titin. Perpisahan adalah hal terbaik yang dapat mereka tempuh saat ini.&lt;br /&gt;Santi terus mendengarkan kata demi kata yang mengalir dari bibir Budi hingga akhirnya mereka berdua tiba di sebuah rumah makan Sunda di kawasan Jakarta Barat.&lt;br /&gt;Selesai memilih menu favorit masing-masing, Budi melirik jam tangan miliknya.&lt;br /&gt;“Mesti buru-buru ke kantor ya?” Santi berusaha menebak pikiran Budi dari gesture tubuhnya.&lt;br /&gt;“Ngga juga. Aku udah titip kerjaan kok sama temen seandainya sampai di kantor terlambat”&lt;br /&gt;“Kalau kamu tidak punya banyak waktu, kita bisa makan makanan ringan saja. Kalau kamu lapar, makan siangnya dibungkus saja untuk dimakan di kantor nanti,” ujar Santi penuh pengertian.&lt;br /&gt;“Ngga apa-apa. Jangan risau gitu dong. Aku udah menantikan hari ini, Santi…”&lt;br /&gt;Santi memperbaiki posisi duduknya. Ia sedikit ragu apakah dirinya kali ini mampu menerima keadaan dirinya yang sedang berdua dengan seorang yang jelas ia tahu telah lama menanti hatinya. &lt;br /&gt;Tanpa berkata-kata, Budi mengeluarkan kotak mungil dari saku celananya. Kotak berwarna keemasan dengan hiasan pita indah diatasnya.&lt;br /&gt;“Aku tidak memintamu untuk memejamkan mata…”&lt;br /&gt;“Aku hanya ingin kau membuka kotak ini sebagai jawaban ‘ya’, dan membiarkan kotak ini tertutup sebagai jawaban ‘tidak’…”&lt;br /&gt;“Budi, sebelum aku menentukan sikapku, bolehkan aku bertanya?”&lt;br /&gt;“Sure!,” jawab Budi yakin.&lt;br /&gt;“Seberapa yakin kamu dengan perasaanmu saat ini?”&lt;br /&gt;“Seyakin aku mencari celah untuk mendapatkan sinar rembulan di waktu malam”&lt;br /&gt;Santi tersenyum bahagia. Ia merasa nyaman kali ini. Kini tak ada lagi kekhawatiran seperti saat dirinya pertama kali bertemu dengan Budi. Tak ada pula rasa bersalah perasaan yang telah lama tersembunyi. Apapun keputusan yang diambilnya sekarang, akan ia jadikan saat yang berharga dalam hidupnya.&lt;br /&gt;Ia telah berbeda. Pengalamannya berhalusinasi hebat di rumah sakit menyadarkan dirinya bahwa ia telah terlalu jauh meninggalkan dunia spiritual yang telah membimbingnya sejak kecil. Di hari kedua dirinya bermalam di rumah sakit, ia meminta bantuan Irma untuk mengambil sajadah dan mukena yang terlipat rapi di dalam kopernya. Kedua benda yang telah sekian terkubur di dalam lemari pakaiannya. Menantinya untuk suatu saat disentuh dan dinikmati oleh sang empunya. Seperangkat alat sholat tunai yang diserahkan Anto dihari pernikahan mereka. Dua buah benda yang telah lama menjadi simbol dalam ijab kabulnya. Sebuah tanda tanpa makna dalam hidupnya kecuali sebagai ‘hadiah pernikahan’. Gemetar tangan dan kakinya saat ia kembali mengambil air wudhu di rumah sakit. Meski telah lama ia tidak melakukannya, tangan dan kakinya dengan lincah menuntunnya untuk segera mendekatkan diri pada Sang Maha Pemberi. Ia merasa nikmat saat itu. Sangat nikmat. Ia menengadah dan memohon. Meratap dalam bahagia. Ia harus menjadi pemenang, terhadap segala keinginannya untuk menjauh dari dunia spiritualnya. Dan ternyata, ia mampu. Kini Anto tidak lagi disisinya. Namun makna ‘hadiah pernikahan’ itu telah ditemukannya sendiri. Dalam sepi hatinya, ia merasa direngkuh dan diraih oleh kedamaian yang telah lama tidak dirasakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-6110330414649965228?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/6110330414649965228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-sembilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6110330414649965228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6110330414649965228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-sembilan.html' title='DUA PULUH SEMBILAN'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-3860041538425597125</id><published>2012-01-31T07:31:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:31:15.504-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH DELAPAN</title><content type='html'>Anto bergegas menuju mobil miliknya begitu jam istirahat di kantornya dimulai. Setelah mengetahui persoalan yang membelit keluarganya dan keluarga Ratri, ia merasa perlu untuk menemui Ratri. Menjelaskan segala hal yang melatarbelakangi dendam yang telah dipelihara Ratri terhadap keluarganya. Anto juga ingin memindahkan Wirendra ke sekolah yang lebih baik karena bagaimanapun juga, Wirendra adalah darah &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;dagingnya. Ia harus membuat Ratri mengerti bahwa ia berhak atas masa depan Wirendra. Diluar semua rasa benci ibunya terhadap Anto.&lt;br /&gt;Anto membunyikan bel pagar tempat kediaman Ratri. Sekali. Dua kali. Tidak ada seorangpun yang keluar. Anto mendongakkan kepalanya agar dapat melampaui tinggi pagar. Sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia mencoba menekan bel rumah tersebut sekali lagi. Kemudian sekali lagi, sebelum ia akan memutuskan menelpon nomor telepon rumah tersebut siapa tahu ada orang di dalam rumah tapi tidak mendengar bunyi bel yang ditekannya. Atau bel yang seharusnya berbunyi di bagian dalam rumah, entah bagaimana tidak lagi berbunyi. Tetap sama. Tidak ada respon apapun dari dalam. Anto akhirnya menekan nomor telepon rumah itu melalui telepon genggamnya. Berkali-kali nada sambung berbunyi. Tidak ada yang mengangkat. Anto kemudian mencoba menghubungi nomor telepon genggam Ratri. Jawaban yang diterima berasal dari operator telepon selular yang menyatakan bahwa telepon yang dituju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.&lt;br /&gt;Anto tidak ingin menyerah. Ia melihat seorang lelaki paruh baya sedang membersihkan teras rumahnya yang terletak di sebelah rumah Ratri persis. &lt;br /&gt;“Selamat siang, Pak. Maaf kalau saya mengganggu,” sapa Anto.&lt;br /&gt;Bapak yang disapa bergeming. Anto bersuara lebih keras agar terdengar lebih jelas.&lt;br /&gt;“Selamat siang, Pak. Boleh numpang tanya?” Anto sampai terkejut mendengar teriakannya sendiri.&lt;br /&gt;Sejenak bapak yang ditanya menoleh. Akhirnya, bisik Anto dalam hati.&lt;br /&gt;“Ada apa ya Nak?”&lt;br /&gt;“Mau numpang tanya, Pak. Apa rumah sebelah ini tidak ada orangnya ya? Dari tadi saya menekan bel tidak ada yang membukakan”&lt;br /&gt;“Rumah Bu Ratri, maksudnya?”&lt;br /&gt;“Iya, Pak. Betul, rumah Bu Ratri…”&lt;br /&gt;“Kemarin bu Ratri dan anaknya mampir kemari, Nak. Dia bilang, ada tawaran pekerjaan di luar kota. Jadi dia pamitan pada kami sekeluarga…”&lt;br /&gt;Oh Ratri, mengapa jurang selalu terbentang diantara kita. Kamu harus tahu yang terjadi antara orang tuamu dan orang tuaku. Kamu tidak bisa selamanya menyimpan dendam tanpa tahu penyebabnya. Anto mengusap-usap dagunya mencoba berpikir apa yang kemudian akan ia lakukan untuk membuka sebuah kebenaran di hadapan Ratri.&lt;br /&gt;“Kenapa, Nak? Sini, duduk dan minum saja dulu. Dari kantor ya?”&lt;br /&gt;“Iya, Pak. Tidak, tidak usah, terima kasih banyak informasinya”&lt;br /&gt;Bapak separuh baya itu dapat membaca kegelisahan Anto yang terlihat dari gerak tubuhnya. Ia memberikan Anto sebuah alamat pembantu Ratri yang sudah diberhentikan karena majikannya pindah kemarin. &lt;br /&gt;“Mungkin ia bisa memberikan alamat baru Bu Ratri,” ucapnya ramah,”Saya semula ingin mempekerjakan dia karena saya dengar kerjanya rapi dan jujur. Tapi rupanya istri saya memandang kami tidak perlu pembantu. Untuk apa keluarga pensiunan punya pembantu. Toh kami berdua sudah tidak ada yang bekerja di luar rumah.”&lt;br /&gt;Anto menyambut kertas berisi alamat pembantu Ratri dengan senyum. Segera ia berterima kasih dan berpamitan. Ia penasaran ingin mengetahui kemana Ratri pergi kali ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Seorang nenek sedang meninabobokkan cucunya di depan rumahnya. Sebuah bale-bale bambu menjadi tempatnya beristirahat sambil menimang cucunya yang montok. Anto menghentikan mobilnya tepat didepan pagar rendah yang terbuat dari kayu yang sudah mulai melapuk.&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum!” sapa nenek itu sebelum Anto sempat menyapanya terlebih dahulu. Tinggal di kampung memang berbeda dengan di kota. Meskipun kampung tempat tinggal nenek itu masih termasuk wilayang Tangerang yang berbatasan langsung dengan Jakarta, suasana ramah dan saling tegur sapa terasa sangat kental disana. Berbeda jauh dengan perumahan tempat Anto tinggal yang lebih banyak ditempati oleh pasangan bekerja yang nyaris hanya saling tegur sapa di akhir minggu. Itupun kalau kebetulan berpapasan dan saling pandang. &lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam,” jawab Anto,”Apa benar ini rumah Mpok Minah?”&lt;br /&gt;“Saya Mpok Minah. Silakan duduk dulu. Saya taruh cucu saya di tempat tidurnya sebentar”&lt;br /&gt;Keramahan demi keramahan yang ditemui Anto hari ini benar-benar menyiram jiwanya yang tengah kusut terbelenggu masalah. Ia seperti disadarkan oleh kenyataan bahwa hidup tidaklah pernah seburuk yang diduga orang. Sekali kita membuka diri untuk berbaik sangka pada orang lain, orang-orang disekeliling kita pun akan melakukan hal yang sama. Kini, bahkan sebelum Anto mengemukakan maksudnya, orang lain telah lebih dahulu menyambutnya dengan hati terbuka. &lt;br /&gt;“Ada yang bisa dibantu?” ia merapikan bantal-bantal usang yang berserakan di bale-bale bambunya.“Rumah mpok begini aja. Di dalam belum dirapiin bekas main cucu-cucu. Disini aja ya Nak ngobrolnya”&lt;br /&gt;“Iya, Nek, disini aja. Nama saya Anto, Nek,” Anto memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;“Apa ini Nak Anto yang pernah disebut-sebut Bu Ratri ya…”&lt;br /&gt;“Mmm…iya kali, Nek,” Anto salah tingkah.&lt;br /&gt;“Kalau benar ini Anto yang sering disebut Bu Ratri, saya ada surat untuk Nak Anto yang dititipkan Bu Ratri kemarin”&lt;br /&gt;“I-iya, surat itu untuk saya…,” Anto gugup mengetahui bahwa Ratri meninggalkan surat untuknya.&lt;br /&gt;Mpok Minah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil surat yang dimaksud. Tidak lama kemudian ia keluar menemui Anto dengan sebuah amplop di tangannya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Anto yang aku cintai,&lt;br /&gt;Sekian lama waktu berjalan telah mempertemukan dan memisahkan kita dalam kurun waktu yang berbeda-beda. Dalam berjuta rasa yang membuat kita bahagia dan menangis bersama. &lt;br /&gt;Anto, kisah kita penuh luka. Karena sejatinya memang tidak ada kebahagiaan bisa diraih bila kebencian menjadi tonggak awal sebuah kepalsuan. Kepalsuan yang telah aku berikan sebagai balasan atas ketulusan cintamu. &lt;br /&gt;Sepulang dari Bogor bersamamu beberapa hari yang lalu, aku lebih banyak berpikir tentang kita. Tentang masa lalu yang salah. Aku ingin mengulang semua kisah kita dahulu. Memperbaiki keadaan semampu aku. Tapi aku tahu sebaik apapun aku, telah ada Santi yang mengisi harimu. Mengisi penuh sanubarimu dan menutup perih yang pernah kugores di hatimu.&lt;br /&gt;Setelah menjemput Wirendra kemarin, aku berkemas untuk meninggalkan kota ini. Seorang bekas pegawai ayahku dulu menawariku untuk mengelola sebuah rumah makan miliknya di Lombok. Kebetulan yang indah. Tawaran itu datang di saat aku menyadari bahwa aku tidaklah pantas tinggal di kota yang sama dengan seorang yang pernah kukhianati cintanya. Ia, yang dengan hati penuh luka, telah menyadarkanku bahwa kebaikan tidak akan pernah sirna di muka bumi ini selama kita sanggup untuk mengahdapi kenyataan hidup ini dengan senyuman.&lt;br /&gt;Sampaikan maafku sebesar-besarnya pada Santi. Ia lah permata hatimu. Bawalah ia dan hatinya selalu kemanapun kamu pergi. Aku berjanji akan mengusahan pendidikan yang terbaik untuk Wirendra.&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Ratri Gunawan&lt;br /&gt;Anto menutup surat dari Ratri dan meletakkannya di meja kerjanya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menahan keinginannya mengeluarkan air mata. Ia belum pernah merasa sehancur ini. Sekarang semuanya terlambat sudah. Santi telah pergi meninggalkannya. Surat panggilan dari pengadilan agama telah diterimanya kemarin. Surat panggilan untuk memenuhi keinginan istrinya untuk tidak bersamanya lagi. Masih ada tahapan mediasi dari pihak pengadilan. Tapi apalah gunanya semua itu bila Santi tidak pernah lagi menghendaki dirinya? Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Menatap langit-langit ruang kerjanya dengan pandangan kosong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-3860041538425597125?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/3860041538425597125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-delapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/3860041538425597125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/3860041538425597125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-delapan.html' title='DUA PULUH DELAPAN'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-6400637799986939823</id><published>2012-01-31T07:28:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:28:19.066-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH TUJUH</title><content type='html'>Santi memainkan air kolam dengan kaki telanjangnya. Air kolam pagi ini terasa hangat. Kram di pergelangan kakinya yang sering kali terasa setiap kali bangun tidur semenjak kehamilannya berkurang karena gerakan-gerakan kecil tadi. Irma, yang juga sedang asyik menikmati pagi mengajaknya untuk berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Olah raga baik untuk menjaga kesehatan wanita hamil katanya. Santi tahu itu. Meski &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;demikian, dirinya masih saja terkesan dengan perhatian teman setianya ini.&lt;br /&gt;“Bagaimana kabar Bima?” ujar Santi ditengah kegiatan jalan pagi yang dilakukannya bersama Irma pagi itu.&lt;br /&gt;“Aku sebenarnya tidak ingin mengetahui kabar apapun tentang dia lagi. Tapi selalu ada saja yang menceritakan perihal Bima padaku. Seorang bekas tetanggaku dulu sering menelponku. Ia bercerita kalau Bima berencana menjual rumah tempat tinggal kami dulu. Ia mau pindah… Ya jelaslah kalau dia dengan pasangan homonya tidak merasa betah tinggal di tempat itu. Mana ada orang yang mau punya tetangga pasangan homo? Aku rasa mereka terpaksa meninggalkan tempat tersebut karena diusir secara halus oleh warga setempat,” Irma bersemangat membagi ceritanya.&lt;br /&gt;“Satu hal yang aku syukuri saat ini adalah, aku dan dia belum dikaruniai anak. Tentunya nggak gampang menjelaskan kepada anak kita siapa ayahnya itu sesungguhnya…,” ujarnya lesu.&lt;br /&gt;“Maaf, San, bukan berarti aku berkata bahwa kamu bakal kesulitan memberitahu anakmu nantinya loh,” Irma berkata penuh penyesalan.&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa, Ir, sudah takdirku harus menerima keadaan ini,” Santi berusaha untuk tegar, meski hatinya pilu. Kepalanya belakangan ini dipenuhi masa-masa indahnya bersama Anto. Ah, seandainya tidak perlu ada perpisahan…&lt;br /&gt;Sesekali, Santi dan Irma berhenti untuk melakukan gerakan senam ringan di tempat. Irma terlihat bahagia memandang wajah optimis Santi ditengah kesulitan yang melandanya. Mereka berdua sesungguhnya sedang menjalani sebuah drama kehidupan yang dapat dibilang serupa, meski tidak sama persis. Kehilangan orang yang selama ini menjadi tempat berteduh dan membilang asa yang belum juga sempat diraih.&lt;br /&gt;“San, kemarin Budi menelponku,” ujar Irma memecah keheningan.&lt;br /&gt;“Hah? Budi? Kenal dari mana kamu?”&lt;br /&gt;“Dia mengirim friend request ke aku di facebook. Trus, ya gitu deh, dia minta kenalan. Emang kenapa dia kamu remove?”&lt;br /&gt;Santi tak habis pikir. Temannya yang satu ini masih saja berusaha untuk menghubungi dirinya.&lt;br /&gt;“Ceritanya panjang, Ir. Nanti deh kalau sampai rumah aku ceritakan selengkap-lengkapnya tentang apa yang terjadi antara aku dan dia”&lt;br /&gt;“Ehm…ehm…ketinggalan berita nih aku sepertinya,” Irma menggoda Santi yang tiba-tiba tersipu-sipu mendengar nama Budi disebut.&lt;br /&gt;“Apaan sih… Sok tau kamu!” Santi tersenyum menanggapi sikap Irma.&lt;br /&gt;“Sok tau apanya…liat dong, pipi kamu yang semu-semu merah itu”&lt;br /&gt;Santi mencubit lengan Irma yang berusaha menjauh dari sikap salah tingkah temannya itu.&lt;br /&gt;“Udah deh, ceritanya sekarang aja. Ngga usah pake nunggu-nungguan sampai rumah segala,” ujar Irma penasaran.&lt;br /&gt;“Intinya, dia bilang kalau aku adalah wanita yang diinginkannya selama ini. Ia sejak dulu mempunyai perasaan yang sulit dijelaskan ketika berdekatan denganku. Perasaan selalu ingin bersama, selalu ingin melindungi. Itu yang ia katakana padaku sewaktu kita bertemu di sebuah rumah makan untuk pertama kalinya setelah berpisah sekian lama…”&lt;br /&gt;“Ada satu yang aku sesali…atau entah apalah itu namanya. Harus aku akui sejak dulu aku pun merasa nyaman berada di dekatnya. Tapi entah mengapa aku menjadi kesal justru pada saat ia mengungkapkan isi hatinya itu. Semacam ada pengkhianatan terhadap pertemanan yang sudah dibina sekian lama. Aneh memang. Apakah sebagian orang memang ada yang merasa risih kala harus menerima kenyataan bahwa pertemanannya yang indah serta perasaan istimewa yang tersimpan rapi dalam sanubari masing-masing mesti terungkap lewat kata-kata dan seolah menuntut jawaban atas nama cinta untuk saling memiliki?”&lt;br /&gt;“Diluar itu semua, ia adalah suami Titin…”&lt;br /&gt;Tanpa terasa Santi dan Irma telah tiba di depan pavilion dimana Santi dan Irma tinggal. Santi berjanji tidak akan lama tinggal di rumah itu. beberapa surat lamaran kerja telah dilayangkan ke perusahaan yang menurutnya memungkinkan dirinya diterima walau dalam keadaan mengandung dan kurang dari satu tahun akan mengajukan cuti melahirkan.&lt;br /&gt;Hari ini mereka berencana untuk berjalan-jalan menyusuri koridor mal-mal besar di Jakarta untuk melepas penatnya beban pikiran yang menggelayuti mereka berdua sebulan terakhir ini. Santi juga merasa perlu mulai membeli beberapa pakaian longgar untuk wanita hamil. Perjalanan ini akan menyenangkan, pikir Santi. Selama ini ia selalu kagum dengan wanita yang bangga dengan kehamilannya. Memperlihatkan perut buncitnya ke mana-mana dengan beraneka model pakaian khusus wanita hamil. Kini ia akan menjadi bagian dari mereka. Memahami bahwa kehamilan adalah anugerah itu ternyata indah. Ia sebagai bagian dari generasi mandiri yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mengejar rasa tertinggal seorang wanita terhadap peradaban tidak menyangka akan dapat menempatkan dirinya pada keadaan seperti sekarang ini. Hamil dan sangat menginginkan kehadiran buah hati yang dikandungnya. Santi menghitung persediaan vitamin dan obat-obatan dari dokter yang merawatnya. Tinggal tersisa untuk 3 hari kedepan. Artinya ia harus menjadwalkan diri untuk bertemu sang dokter lagi guna mengkonsultasikan kesehatannya dan buah hatinya ini.&lt;br /&gt;“Wah, yang mau jadi ibu…sibuk bener nih menghitung obat,” Irma memperhatikan kegiatan Santi yang menurutnya tidak seperti biasanya. Santi yang dikenalnya adalah pribadi tegar namun kurang suka memperhatikan hal-hal kecil seperti hitung menghitung persediaan obat yang dilakukannya saat ini. hal terakhir yang Irma ingat tentang Santi dan obatnya adalah ketika suatu hari Santi diminta untuk meminum obat mag nya secara rutin oleh dokter. Saking cueknya dengan persediaan obat yang harus diminumnya, Santi kerap lupa dimana ia meletakkan obat yang harus diminumnya itu. Oleh karenanya, ia sengaja meminta dokter memberinya resep dua kali dari jumlah yang seharusnya dimium agar ia dapat meletakkan sebagian di dalam tas kerjanya, dan sebagian lagi di rumah. Benar-benar kecerobohan yang berbahaya. Resep semacam itu hanya mungkin diperoleh dari seorang dokter yang memang berteman cukup dekat dengan Santi. Setidaknya ia percaya bahwa Santi meminta jumlah ganda hanya untuk mengatasi sifat pelupanya, dan menyingkirkan kemungkinan over dosis.&lt;br /&gt;“Besok pagi aku harus ke dokter kandungan untuk meminta resep lanjutannya…fiuhh, repotnya mesti perhatian dengan hal-hal kecil begini. Anyway, I am happy doing it!” ujar Santi dengan senyum bangga.&lt;br /&gt;Taksi yang mereka panggil untuk mengantar ke pusat perbelanjaan di bilangan Jakarta Pusat yang paling sering mereka kunjungi sudah tiba. Kini saatnya untuk bersenang-senang. &lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari seorang pengendara sepeda motor dengan helm tertutup rapat mengikuti taksi yang mereka tumpangi dari belakang.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pintu masuk menuju pusat perbelanjaan yang dituju sudah terlihat. Santi dan Irma bersiap-siap untuk turun. Terlihat antrian panjang menuju mobil dan taksi di pintu masuk tersebut. Santi san Irma bukanlah tipe orang yang mau menunggu antrian panjang sementara sesungguhnya mereka dapat memasukinya dengan berjalan kaki. Menunggu antrian panjang tersebut juga berarti menambah ongkos taksi mereka.&lt;br /&gt;Kurang lebih 100 meter sebelum pintu masuk yang disediakan untuk mobil, Irma dan Santi turun dari taksi yang mereka tumpangi. Setelah menerima kembalian atas pembayaran ongkos taksi, berdua mereka menyusuri jalan. Mobil dan motor lalu lalang disamping mereka. Tidak banyak memang pejalan kaki yang menyusuri jalan tersebut waktu itu. Jam istirahat kantor-kantor disekitarnya belum lagi mulai. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan rambut Santi dan Irma. Bagi Santi, berjalan kaki adalah salah satu kegiatan yang ingin dilakukannya sesering mungkin untuk melatih otot-otot kakinya terhadap beban yang akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia kehamilannya. &lt;br /&gt;Santi sedang asyik menikmati langkah-langkah cepatnya kala sebuah teriakan keras terdengar. Seseorang memandangnya dengan mata melotot sambil menunjuk sesuatu di dekatnya.&lt;br /&gt;“AWAAAS!!!”&lt;br /&gt;Suara decit rem sepeda motor terdengar sebelum akhirnya segalanya gelap bagi Santi.&lt;br /&gt;Telinganya sempat menangkap suara teriakan marah dan derap langkah cepat dengan jelas, kemudian melemah, dan hilang.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Rasanya ia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Tapi dimana, ia sulit mengingat. Hening dan putih adalah sebuah kesatuan yang melingkari dirinya saat ini. Tak ada warna lain, tak ada suasana lain. Perut buncitnya makin lama terasa makin membesar. Hingga di suatu waktu, pertumbuhannya berhenti. Kemudian, tanpa bantuan persalinan dari siapapun bayi yang ada di perutnya terlahir begitu saja. Bayi itu begitu lembut, begitu manis hingga tak ada sedikitpun tangis yang terdengar dari mulutnya. Santi merasa sangat bahagia menyambut kedatangan buah hati yang dinantinya. Hingga seseorang dengan pakaian hitam tiba-tiba muncul di hadapannya dan memaksa dirinya menyerahkan bayi yang ada di pangkuannya itu. ‘Tidak! Jangan pernah berharap aku akan menyerahkannya! Pergi kau!’ bentak Santi. Yang diajak bicara bergeming. Santi ingin bangkit dan berlari kencang dari tempatnya berbaring. Ia tak mampu menggerakkan kakinya. Ia mendapati kakinya terikat. Ia berteriak kencang, sangat kencang berharap seseorang akan datang dan membantunya melepas tali yang mengikat kedua kakinya. Hingga akhirnya…&lt;br /&gt;“Lepaskaaan!!”&lt;br /&gt;Sebuah tangan dingin seperti es menyentuh lengannya. Santi meronta. Ia membuka matanya. Peluh membasahi tempat tidurnya. Di hadapannya Irma menanti penuh cemas. Disebelah Irma ada seorang pria. Pria yang pernah ditemuinya. Yang pernah hadir di masa lalunya. Budi berdiri disamping Irma memandang Santi penuh harap.&lt;br /&gt;“Ia sudah berhenti berhalusinasi rupanya,” suara berat datang dari seorang pria yang tangan dinginnya menyentuh lengan Santi tadi.&lt;br /&gt;“Apa berarti ia sudah sadar sepenuhnya, Dok?” gantian Irma kini yang berbicara.&lt;br /&gt;“Semoga demikian,” ucap seseorang yang dipanggil dokter itu lembut. Dan memang benar, matanya memancarkan kelembutan yang dapat segera ditangkap oleh mata Santi yang ketakutan dan bingung.&lt;br /&gt;Santi berusaha membuka mulutnya, tapi tak sepatah katapun terdengar oleh telinganya.&lt;br /&gt;‘Masih normalkah ia kini?’&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan bayi dalam kandungannya, Dok?” suara Irma kembali terdengar. Irma kini duduk di depan kursi dokter bersama Budi.&lt;br /&gt;Sang dokter menyentuh pergelangan tangan Santi sembari melirik jam tangannya, menghitung denyut nadi sang pasien.&lt;br /&gt;“Denyut nadinya sudah mulai normal. Kami akan memeriksa keadaan kandungannya sebentar lagi. Karena tidak ada pendarahan, kami berharap bayinya sehat. Tapi kami akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikannya.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, sang dokter keluar dari kamar tempat Santi dirawat. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan akibat halusinasi yang kemungkinan dapat terjadi lagi pada diri Santi, dua orang perawat diminta siaga di kamar tersebut sementara sang dokter memeriksa pasien yang lain.&lt;br /&gt;Irma dan Budi keluar dari kamar dan membiarkan Santi beristirahat.&lt;br /&gt;“Kalian tidak tahu kalau diikuti?” ujar Budi pada Irma.&lt;br /&gt;“Kalau tahu, kami pasti sudah lapor polisi. Atau paling tidak meminta supir taksi untuk melindungi kami,” Irma geram mengingat betapa ia tak dapat menjaga Santi.&lt;br /&gt;“Aku nggak habis pikir, siapa kira-kira yang ingin mencelakakan Santi dan apa motif dibalik itu…,” Budi berjalan menuju sebuah mesin penyedia minuman di dekatnya. Ia menawarkan Irma minuman bersoda yang langsung disambut Irma dengan anggukan.&lt;br /&gt;“Aku juga penasaran. Rasanya Santi tidak pernah punya masalah serius dengan siapapun. Anto, suaminya, meskipun kaku dan kadang terlihat seperti kurang perhatian pada istrinya, bukanlah lelaki yang kasar. Kejadian ini juga bukanlah usaha perampokan. Tidak ada yang diinginkan sepertinya dari diri Santi kecuali kecelakaan yang mungkin berujung pada maut. Ah, sudahlah. Polisi yang menanganinya berjanji untuk memberi kabar kalau pemeriksaan sudah selesai dilakukan”&lt;br /&gt;Irma menyisir rambutnya dengan tangan sebelum akhirnya melanjutkan,”Ada kemungkinan juga salah sasaran…”&lt;br /&gt;“Maksudnya?”&lt;br /&gt;“Santi bukanlah orang yang ingin dicelakakan. Itu kata salah seorang yang membantu kami tadi”&lt;br /&gt;“Untung yang menabrak tidak habis dihajar massa,” ucap Budi miris mengingat sekian banyak kejadian penghakiman oleh massa yang terjadi di Jakarta ini.&lt;br /&gt;“Sebenarnya, orang-orang sudah berlarian mengepung pengendara motor tadi. Tapi ada dua orang satpam yang berhasil meredakan amarah mereka. Mereka batal mengeroyok,” Irma menjelaskan kronologi peristiwa kepada Budi.&lt;br /&gt;“Kebetulan tak lama kemudian kamu menelponku dan spontan aku menceritakan keadaan ini,” lanjut Irma.&lt;br /&gt;“Sampai kapan Santi akan tinggal di rumahmu?”&lt;br /&gt;“Entahlah, mungkin sampai ia mendapatkan pekerjaan. Santi berencana untuk berkunjung ke rumah ibunya besok pagi. Tapi aku rasa ia perlu cukup waktu untuk beristirahat disini. Aku akan mengantarnya setelah ia lebih sehat dan kita semua mendapat penjelasan dari pihak kepolisian”&lt;br /&gt;Irma dan Budi menengok Santi yang masih terkulai lemah di tempat tidur. Senyum mulai dapat&amp;nbsp; ditampilkan oleh bibirnya yang pucat. Malu-malu ia memandang Budi. Santi teringat cerita Irma tentang bagaimana Budi masih saja mengharapkannya. &lt;br /&gt;“Bagaimana keadaannya, Suster? Apa ibu Santi sudah lebih baik?” tanya Budi pada kedua suster yang diminta untuk menjaga Santi.&lt;br /&gt;“Sejauh ini kondisi emosinya terlihat stabil. Denyut nadinya juga bagus. Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap janin yang ada di rahim ibu Santi. Dan hasilnya bagus, janinnya sehat!”&lt;br /&gt;Irma menghambur ke arah Santi, memeluknya penuh haru. Kekhawatiran akan kondisi Santi musnah sudah. Yang dipeluk terbatuk-batuk sebelum akhirnya bersuara lemah,”Makasih banyak ya, Ir, juga Budi…”&lt;br /&gt;Budi mendekat ke tempat tidur Santi dan menatap wajah orang yang dikasihinya itu dengan bahagia.&lt;br /&gt;“Sekarang kamu sudah yakin bahwa janin dalam kandunganmu sehat. Banyak istirahat ya, jangan terlalu risau, nanti kamu berhalusinasi lagi seperti tadi,” Budi mencoba memberi sedikit nasihat.&lt;br /&gt;“Benar, Bu. Kami punya pengalaman buruk pada salah satu pasien kami yang melukai dirinya sendiri saat dirinya mengalami halusinasi hebat. Kalau ibu tenang dan percaya semuanya akan baik-baik saja, alam bawah sadar ibu akan terhindar dari kemungkinan berhalusinasi,” ucap salah satu suster yang menjaga Santi mendukung nasihat Budi padanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Irma duduk di depan dua orang berseragam polisi yang sedari tadi sibuk menceritakan keterangan apa saja yang diperoleh mereka dari pengendara motor yang dengan sengaja menabrak Santi.&lt;br /&gt;“Semula ia tidak mau membuka mulut. Seperti biasa, orang-orang semacam dia berada dibawah ancaman pelaku utama. Tetapi kami menawarkan untuk menjemput keluarganya di rumah dan membawanya ke kantor polisi untuk mendapatkan perlindungan… Akhirnya, ia mau bicara,” seorang berseragam polisi yang lebih tua menjelaskan kepada Irma.&lt;br /&gt;“Maaf, apa benar ibu yang bernama Irma Puspitasari?” lanjutnya.&lt;br /&gt;“Iya, benar,” jawab Irma.&lt;br /&gt;“Dan nama suami ibu adalah bapak Arya Bima?”&lt;br /&gt;“Ya, benar…ada apa ya?” Irma menjadi bertanya-tanya.&lt;br /&gt;“Ibulah sebenarnya yang dituju oleh pengendara motor itu. ibu beruntung pengendara motor itu salah menabrak teman ibu”&lt;br /&gt;“Apa saya tidak salah dengar? Ba-bagaimana itu bisa terjadi? Mak-maksud saya, mengapa saya…,” Irma terbata-bata menyadari kenyataan yang benar-benar diluar dugaannya.&lt;br /&gt;“Mohon maaf sebelumnya kalau mungkin pertanyaan kami bersifat agak pribadi. Kalau ibu keberatan untuk bicara disini tidak apa, kami dapat mendampingi ibu untuk bicara di kantor kami saja”&lt;br /&gt;Irma memandang sekelilingnya. Di ruangan itu hanya Irma dan kedua polisi itu saja yang tinggal di ruang tunggu pasien di depan bagian pendaftaran rawat inap. Saat itu pukul 11 malam. Hanya beberapa petugas jaga yang kadang terlihat lalu lalang. &lt;br /&gt;“Disini sekarang saja, Pak,” ujarnya kemudian.&lt;br /&gt;“Baik. Benarkah ibu saat ini sedang tidak tinggal serumah dengan pak Arya Bima?”&lt;br /&gt;“Benar”&lt;br /&gt;“Ibu kenal dengan seorang yang bernama Andi? Andi Hermawan?”&lt;br /&gt;Irma terkejut mendengarnya. Sungguh sebuah nama yang tidak ingin diingatnya lagi! &lt;br /&gt;“Saya…tahu,” Irma menjawab ragu. Haruskah ia mengatakan yang sesungguhnya bahwa ia tidak cuma sekedar tahu tapi mengenal dengan baik? Bahkan sebelum suaminya mengenal orang ini dan kini…merampas suaminya?&lt;br /&gt;“Ibu hanya tahu, atau mengenalnya?” &lt;br /&gt;Pertanyaan yang dibenci Irma akhirnya harus ia jawab juga.&lt;br /&gt;“Ya, saya mengenalnya!” Irma menarik nafas panjang. Ia lega sekaligus menyesal harus mengakuinya.&lt;br /&gt;“Pengendara sepeda motor ini disuruh oleh seorang yang bernama Andi Hermawan ini…”&lt;br /&gt;“U-untuk me…”&lt;br /&gt;“Ya, untuk menabrak ibu,” lanjut polisi dihadapannya itu mantap. Tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.&lt;br /&gt;Irma kehilangan kata-kata. Apa yang telah terjadi antara suaminya dan Andi? Cemburukah Andi dengannya? Gila! Ini benar-benar gila!&lt;br /&gt;“Ibu dapat memberikan alamat bapak Andi Hermawan dan suami ibu, bapak Arya Bima kepada kami untuk penyelidikan lebih lanjut? Terlalu berbahaya bila orang semacam pak Andi Hermawan ini dibiarkan berkeliaran. Berbahaya untuk ibu, dan mungkin juga untuk orang lain”&lt;br /&gt;Irma menuliskan alamat yang diminta di secarik kertas yang disediakan oleh kedua polisi yang menemuinya malam itu dan menyerahkannya pada mereka. &lt;br /&gt;“Terima kasih untuk semua keterangan yang ibu berikan. Malam ini, seorang anggota kami akan berjaga di rumah sakit ini, menghindari kemungkinan buruk yang dapat terjadi”&lt;br /&gt;Bapak polisi yang menanyai Irma berdiri, kemudian berpamitan pulang. Sebelumnya, ia menjelaskan bahwa temannya akan tinggal di rumah sakit ini untuk berjaga-jaga.&lt;br /&gt;Irma merasakan lututnya terlalu lemas untuk membantu tubuhnya tegak berdiri dan melepas kepergian polisi yang telah membantunya tadi. Ia merenung seperti orang linglung. Polisi yang bertugas menjaganya meminta diri sebentar untuk melihat-lihat keadaan rumah sakit di sekitar ruangan tempat Irma terduduk.&lt;br /&gt;Malam itu, Irma menemani Santi bermalam di rumah sakit. Setelah menghubungi orang tuanya bahwa ia tidak pulang ke rumah malam itu, Irma masuk ke kamar Santi. Dilihatnya teman sekaligus sahabatnya sudah tertidur pulas. Tak dapat dibayangkan olehnya bila Santi sampai kehilangan nyawanya ataupun nyawa bayi dalam kandungannya. Ia tidak akan dapat memaafkan dirinya sendiri. Ia adalah sasaran sesungguhnya, bukan Santi yang kini terbaring lemah di hadapannya.&lt;br /&gt;Irma diliputi perasaan takut sekaligus benci. Tak cukup kebencian yang ia miliki selama ini kepada suaminya yang ternyata gay itu dan kekasihnya. Andi Hermawan!! Ekspresi jijik tidak pernah berhasil disembunyikannya tiap kali Irma mengingat nama teman lamanya yang satu itu, yang kini nyaris mencelakakan nyawa Santi.&lt;br /&gt;Irma belum mengatakan masalah antara dirinya dan Bima yang sesungguhnya kepada kedua orang tuanya. Ia hanya mengatakan bahwa dirinya sedang kehilangan rasa percayanya pada suaminya dan membutuhkan waktu untuk sendiri. Sementara semua yang diperlukan untuk mengurus perceraiannya telah disampaikan ke kantor pengadilan agama. Kini ia membutuhkan dukungan orang tuanya. Keluarganya. Ia tak mampu mencoba berdiri sendiri ditengah percobaan mencelakakan dirinya yang dilakukan oleh kekasih suaminya. Kepalanya berdenyut-denyut. Ia belum sanggup untuk berterus terang kepada orang tuanya. Mengakui bahwa lelaki yang dinikahinya memilih untuk menjadi gay adalah neraka dunia baginya. Bagaimana keluarganya akan memandang dirinya? Salah pilih suami? Hanya tergiur pada ketampanan? Tidak becus menjadi istri? Membiarkan suami mencari kesenangan di luar rumah? Ingin rasanya Irma membenturkan kepalanya ke tembok tempatnya bersandar saat ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Harusnya kamu ada di kantor polisi. Bukan disini!” bentak Irma.&lt;br /&gt;“Ada yang ingin aku jelaskan…”&lt;br /&gt;“Jangan berani-berani mendekat, atau aku telepon polisi sekarang juga!” Irma kehilangan kesabarannya.&lt;br /&gt;“Aku suamimu, Irma! Dan aku ingin bicara baik-baik…,” ujar Bima memelas.&lt;br /&gt;“Aku harap kamu tahu kalau teman kita, Santi, dirawat di rumah sakit saat ini karena ulahmu!”&lt;br /&gt;“Bukan!”&lt;br /&gt;“Siapapun itu yang jelas ia berhubungan denganmu! Berhentilah mengelak. Aku tidak tertarik dengan penjelasan apapun yang datang dari kamu…,” Irma berusaha bersikap tegas. Ia telah kehilangan rasa percaya pada suaminya. Meski harus Irma akui bahwa bila Bima berkata bahwa ia ingin bicara baik-baik, biasanya ia serius dengan keinginannya.&lt;br /&gt;Kecipak air yang berasal dari kolam ikan di pavilion tempat Irma dan Santi tinggal meninggalkan bekas di sepatu kulit Bima. Tepat di hari kedua Santi dirawat di rumah sakit, Irma pulang ke rumahnya untuk mengambilkan beberapa setel pakaian Santi. Tanpa disangka, Bima telah menantinya. &lt;br /&gt;“Irma, kali ini aku mohon. Sekali saja, setelah itu kamu boleh mengusirku…”&lt;br /&gt;“Polisi telah memanggilku untuk menjalani pemeriksaan kemarin. Mereka banyak memberikan pertanyaan padaku. Aku tidak mengira sama sekali Andi akan melakukan hal senekat itu. Awalnya, aku begitu tertekan kala mengetahui bahwa uang yang aku tanamkan di sebuah proyek perumahan bersama Andi dan teman-teman yang lain dibawa kabur oleh pimpinan proyek. Aku termasuk yang paling banyak mempercayakan tabungan kita pada proyek tersebut. Aku berniat berinvestasi untuk masa depan keluarga kita, Irma”&lt;br /&gt;“Setelah sekian lama hidup dalam kondisi tertekan, aku tidak tahan lagi. Aku jadi sering pergi ke kelab malam bersama Andi. Menganggap bahwa kami dapat melepas segala beban hidup ini di termpat tersebut. Yang terjadi sebaliknya. Andi yang aku anggap teman baik ternyata mencintaiku layaknya perempuan mencintai laki-laki”&lt;br /&gt;Bima terduduk di pinggir kolam. Ia tidak perduli lagi seandainya Irma mengusirnya, ataupun memanggil polisi untuk menggiringnya ke penjara. Yang ingin dilakukannya saat ini di depan istrinya hanyalah menyesali semua perbuatannya.&lt;br /&gt;“Aku…aku terjerumus. Itu harus kuakui. Kira-kira seminggu yang lalu, aku menyadari tidak seharusnya aku terjebak dalam dunia kelam bersama Andi. Aku berniat mengakhiri semuanya. Kembali ke kehidupan normalku seperti dulu. Andi menangis di hadapanku kala aku mengemukakan niatku. Aku tidak menyangka ia akhirnya menyewa seorang pengendara sepeda motor untuk mencelakakan kamu. Ia tidak ingin aku kembali padamu. Itu saja yang ingin kukatakan. Sekarang kuserahkan semua keputusan padamu”&lt;br /&gt;Irma merasakan matanya menghangat. Hatinya melunak. Ingin rasanya ia memeluk suaminya dan tidak pernah melepasnya lagi. Namun pemandangan menjijikkan antara suaminya dan Andi yang idak sengaja pernah dilihatnya menyurutkan niatnya. Ia tidak ingin tertipu. Bima bisa saja bohong. Atau keinginannya kembali pada Irma hanyalah sesaat. Irma ngeri membayangkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-6400637799986939823?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/6400637799986939823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-tujuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6400637799986939823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6400637799986939823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-tujuh.html' title='DUA PULUH TUJUH'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-2132841175507204641</id><published>2012-01-31T07:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:24:06.763-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH ENAM</title><content type='html'>Suamiku, Anto Wirya Atmaja…&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih dua tahun kita berjalan bersama, banyak hal tentang kehidupan yang makin aku pahami. Meski harus aku akui bahwa pada saat yang sama banyak pula hal yang makin jauh dari pemahamanku tentang arti sebuah pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dari sekian banyak peristiwa berharga yang telah aku lalui selama tinggal di rumah yang kita bangun atas nama cinta ini, aku ingin berterima kasih atas seulas senyum paling indah yang aku lihat saat pertama kali kita bertemu. Tidak perlu aku sebutkan dimana dan kapan itu terjadi, karena mungkin hanya aku yang dapat merasakan getaran itu. Senyum itu begitu tulus, seolah malaikat ada dan bersanding di dekatnya. Mengajakku untuk mendekat dan mengenal pemilik senyum itu lebih banyak. Kini aku tidak yakin apakah sang pemilik senyum itu masih sama dengan seseorang yang tinggal bersama dan mengukir hari-hariku di rumah ini. Aku hanya bisa berharap. Tidak lebih. Aku tahu itu.&lt;br /&gt;Sementara diri ini terus berharap, roda dunia ternyata tidak selalu menapakkan jejaknya di tanah yang licin nan lembut. Ia ingin membawaku bermain dalam gelombang dan riak air laut. Mendapati diriku dan dirimu disana, ternyata membawaku pada dua kemungkinan, yaitu mengarunginya bersamamu, atau mencoba mengarunginya sendirian karena ternyata aku hanyalah beban bagimu. Tentunya teramat sulit untuk terus bergandengan tangan selama melawan gelombang yang ternyata kekuatannya diluar batas kemampuan kita untuk bertahan. Aku tidak ingin kau tenggelam sia-sia. Kita akan tetap hidup hingga gelombang itu surut dan membawa kita ke tempat yang berbeda. Ke tempat dimana kita dapat mendengar desir angin pantai dan tawa canda anak manusia yang akan selalu mengisi rongga telinga kita dengan caranya sendiri. Mereka akan berkisah tentang hidupnya, seperti laut yang selalu bercerita tentang cinta, kasih sayang, dan kecemburuan.&lt;br /&gt;Kita selalu berharap dimensi waktu akan memeluk kita dalam sebuah kesatuan. Merangkai hari demi hari hingga dunia bosan menemani kita. Itu benar. Tapi itu dulu. Kini dimensi waktu itu akan menyerahkan dirinya pada kita untuk sebuah akhir. Aku ingin berkata padanya ‘kita tidak ingin’. Namun apa daya.&lt;br /&gt;Suamiku…&lt;br /&gt;Semalam kita berbicara dalam sepi. Mengukir sebuah kesepakatan yang hanya diri kita masing-masing yang tahu. Percakapan kita tak ada artinya lagi. Seluruhnya hanyalah serpihan putus asa atas sebuah kegagalan. Aku mempercayaimu karena kau suami yang aku hormati. Namun, diluar itu semua, jiwa ini berteriak untuk dikembalikan pada suatu masa saat semuanya masih berupa kejujuran yang semu. Saat kita masih saling melihat dan menilai sebungkus kado dari indahnya pita yang ditempelkan di bagian luarnya.&lt;br /&gt;Atas nama kenangan akan masa-masa indah yang telah kita lalui bersama, aku berharap engkau akan selalu memberikannya tempat di sebuah sudut di hatimu. Bingkailah ia dengan senyum yang selalu kau ciptakan untuk keluarga barumu nanti.&lt;br /&gt;Bila engkau meragu suatu saat nanti, ingatlah bahwa kau pernah melampaui sebuah hari dimana ego hanyalah sebagian kecil dari taburan debu di angkasa. Debu itu pernah kau lepaskan bersama dengan kepergianku hari ini.&lt;br /&gt;Aku yang selalu mendoakan kebahagiaan untukmu,&lt;br /&gt;Santi&lt;br /&gt;Anto tak pernah merasa dunia sehampa ini. Tangannya gemetar memegang surat yang ditulis Santi untuknya. Ia merasa tubuhnya ringan dan melayang, menjauh dari segala hiruk pikuk dunia. Menjemput sepi yang telah datang tanpa permisi. Ia ingin berteriak dan berlari kencang, pergi ke tempat dimana tak seorang pun dapat menemukannya kecuali ia dan masa-masa penuh kebahagiaannya bersama Santi. Ditangannya, seikat bunga mawar segar berwarna-warni dimana surat dari Santi melekat tadi. Mungkin kisah cintanya memang layak disamakan dengan seikat mawar ditangannya. Indah, banyak warna, segar, tapi tak mampu kehilangan durinya. &lt;br /&gt;Tak lama Anto turun dari kamar tidurnya. Kamar yang menjadi tempatnya bercengkerama bersama Santi dulu kini terasa begitu sempit. Ia khawatir sesak nafas kalau terlalu lama di kamar itu. Ipah, pembantunya dilihatnya duduk di lantai ruang keluarga. Anto tidak akan menaruh perhatian pada sikap pembantunya itu seandainya ia tidak melihat tas dan dua kardus yang diikat tali plastik seadanya tersusun rapi disamping tempat Ipah duduk.&lt;br /&gt;“Ipah, mau kemana kamu?”&lt;br /&gt;“Ipah mau pamit, Pak,” katanya tegas.&lt;br /&gt;“Ipah, kamu…”&lt;br /&gt;“Mau pulang kampung, Pak. Mumpung belum terlalu malam, Ipah mau bermalam di rumah Bang Sanip dulu, besok pagi-pagi berangkat naik bis,” ucapnya tenang.&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Ipah barusan, Anto berjalan sambil memijit-mijit keningnya. Meninggalkan kamar tidurnya semula ia pikir dapat mengurangi sedikit beban yang sedang dirasakannya.&lt;br /&gt;“Ipah, tidak ada yang meminta kamu untuk pergi juga seperti…,” Anto menyesal mengucapkan kata-kata yang seolah menegaskan kepergian istrinya untuk selamanya. Negosiasi yang ia lakukan semalam atas keputusan istrinya tidak membuat Santi merubah pendiriannya sedikitpun.&lt;br /&gt;“Ini keinginan Ipah sendiri, Pak. Kemarin Bang Sanip bilang kalau di kampung ada pekerjaan untuk Ipah. Selain itu, rumah bapak Ipah dulu ngga ada yang ngerawat. Ipah satu-satunya harapan keluarga, Pak.”&lt;br /&gt;Anto tahu Ipah tidak mengatakan yang sesungguhnya. Caranya berbicara yang patah-patah seperti menghafalkan teks pidato itu yang membuat Anto yakin bahwa pembantunya ragu untuk terus bekerja di rumah ini tanpa Santi. Bagaimana ia akan melarang Ipah sekarang? Sedang dirinya sendiri saja tidak yakin sampai kapan mampu bertahan dalam kesendirian ini.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau itu keinginanmu. Saya sebenarnya keberatan…saya membutuhkan kamu disini. Saya berterima kasih seandainya Ipah mau menimbang ulang keputusan untuk pulang kampung sekarang,” ujar Anto tidak kalah kikuk dengan Ipah yang seperti menghafal teks tadi.&lt;br /&gt;Anto mendesah. Satu per satu penghuni rumah ini pergi meninggalkannya. &lt;br /&gt;Mengapa mereka tidak mau menunggu dirinya menyelesaikan semua kemelut ini terlebih dahulu? Tahu apa mereka tentang dirinya dan Ratri? Anto tahu apapun yang telah terjadi pada dirinya malam ini, ia tetap harus menuntaskan semua keraguan atas yang terjadi antara dirinya dengan Ratri. Menghubungkan rantai-rantai yang putus dalam ingatannya.&lt;br /&gt;Anto menatap langit dan tidak melihat bintang disana. Ia mengunci pintu pagar setelah melepas Ipah pergi. Kembali dalam keheningan hatinya malam itu, Anto tak kunjung dapat memejamkan matanya di tempat tidur. Ia tak sabar menanti hari esok. Besok pagi sebuah tugas besar menantinya. Menantang nyalinya untuk memperjuangkan apa yang selama ini terlewat begitu saja dari pandangannya. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Sampai kapan kamu akan menjelaskan semuanya padaku? Semua yang terjadi dibalik sandiwaramu itu”&lt;br /&gt;“Aku kira kamu mengajakku ke sini untuk mengenang perjalanan kita dulu”&lt;br /&gt;“Ratri, aku inginkan penjelasan darimu. Mengapa waktu itu kau menjebakku?”&lt;br /&gt;“Kita kesini untuk membicarakan itu?”&lt;br /&gt;“Ya,” jawab Anto ketus.&lt;br /&gt;Anto memandang sekeliling. Cuaca kota Bogor hari itu memang mendukung untuk berjalan-jalan. Setelah berhari-hari diguyur hujan, kota yang sejuk ini menawarkan kehangatan matahari di akhir pekan. Dedaunan kering yang terinjak oleh kaki Anto dan Ratri menimbulkan bunyi yang terus menemani langkah kedua manusia dengan keinginan yang berbeda itu.&lt;br /&gt;“Tidak bisa sebentar saja kita mengenang sedikit saja bagaimana dulu kau membelikan aku kincir angin dari kertas yang dijual oleh abang-abang yang membutuhkan ongkos untuk pulang dan dagangannya belum ada satupun yang laku?”&lt;br /&gt;“Atau wortel yang kita beli banyak-banyak agar kita bisa lebih lama memberi makan rusa yang ada di dalam pagar istana?”&lt;br /&gt;“Kalau saja waktu itu kita sudah bisa membeli handphone dengan kamera seperti sekarang, pastilah banyak sekali foto-foto kita bersama rusa yang selalu kelaparan itu di dalamnya. Tidak perlu meminta jasa tukang foto keliling. Menghabiskan uang saja.”&lt;br /&gt;“Ratri, aku serius dengan permintaanku tadi…”&lt;br /&gt;“Aku serius dengan jawabanku. Itu kulakukan karena rasa cinta…,” ujar Ratri ringan.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Dengar, Ratri. Banyak hal aku pelajari dari kehidupanku bersama Santi. Cinta, kasih sayang, pengorbanan, bukanlah sesuatu yang dapat kita raih secara paksa. Hanya keikhlasan kuncinya”&lt;br /&gt;“Kamu mau menguliahi aku, Anto?”&lt;br /&gt;“Ya, terpaksa”&lt;br /&gt;Pohon-pohon yang dibiarkan tumbuh secara liar di Kebun Raya Bogor menjadi saksi kedua insan yang sedang beradu pendapat. Beberapa dari pepohonan yang tumbuh adalah pohon dengan umur diatas 100 tahun. Ia telah mengalami pasang surut kehidupan di bumi. Di matanya, Anto dan Ratri hanyalah anak ingusan yang sedang mencoba peruntungannya pada nasib. Sementara disisi lain dari Kebun Raya, terdapat tanaman dan pohon langka yang tak henti mencemooh perbedaan pendapat yang disuarakan oleh Anto dan Ratri secara perlahan tapi pasti. Manusia gemar mempermasalahkan perbedaan. Sementara mereka hidup bersama dengan sekian banyak species langka yang tidak pernah berebut makanan bahkan sampai bermusuhan. Mereka disibukkan dengan aktivitas menyediakan oksigen bagi manusia. Sementara sang manusia tidak memberikan penghargaan yang pantas selain meminta mereka menonton perseteruan demi perseteruan dalam mempertahankan kepentingan golongan masing-masing.&lt;br /&gt;“Kalau hanya itu yang kamu mau, kenapa kita harus sampai disini?”&lt;br /&gt;“Aku perlu udara segar,” ujar Anto bosan dengan gaya bicara Ratri yang berputar-putar.&lt;br /&gt;“Sudah, itu saja?”&lt;br /&gt;“Ratri. Setelah semua yang kau lakukan padaku atas nama cintamu itu, kemana kamu pergi sewaktu aku mencarimu di Surabaya, hah?,” Anto menghentikan langkahnya. Suaranya mengeras. Seorang anak kecil yang semula menikmati permen yang dijilatnya sambil bermain-main di dekat Anto terkejut dan berlari menjauh.&lt;br /&gt;Anto menemukan sebuah bangku dari semen untuk tempat beristirahat pengunjung. Ia segera duduk dan menarik tangan Ratri untuk duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;“Sekarang aku minta kamu menjawabnya!”&lt;br /&gt;“Aku berusaha mencari pekerjaan”&lt;br /&gt;“Kalau cuma mencari pekerjaan, kenapa mesti sembunyi-sembunyi? Apa yang perlu disembunyikan kalau pekerjaan yang kau cari itu halal? Jangan anggap aku bodoh!”&lt;br /&gt;“Cukup, Anto! Kamu menghina aku!”&lt;br /&gt;“Kamu sedang menghina dirimu sendiri, Ratri! Sejak dulu hingga sekarang!”&lt;br /&gt;Mata Ratri mulai berkaca-kaca.&lt;br /&gt;“Jangan kau anggap air matamu kini dapat melunakkan aku. Mestinya aku dari dulu tahu siapa kamu sesungguhnya. Tidak begitu saja percaya dengan segala kelembutan yang berusaha kamu tunjukkan ke semua orang”&lt;br /&gt;“Hidupku sulit, Anto,” Ratri mulai terisak.&lt;br /&gt;“Kamu pikir hidupku tidak sulit? Sejak pertama kali kau datang di hidupku. Lalu kau coba menghubungiku lagi 5 tahun yang lalu saat kau kembali ke Jakarta. Dan kini…kini kau mengeluh tentang hidup sulit? Apa aku tidak salah dengar? Berapa orang yang sudah kau persulit hidupnya? Tidak pernah kau hitung? Atau kau sudah lupa pada mereka? Jawab!!”&lt;br /&gt;“Tidak. Aku tidak lupa,” isaknya tertahan. Kini suara tegas keluar dari mulutnya.&lt;br /&gt;“Aku tidak lupa bagaimana bisnis yang dibangun oleh orang tuaku perlahan tapi pasti menyusut perlahan karena kebijakan-kebijakan baru yang dibuat oleh ayahmu. Aku juga masih ingat bagaimana ayahku kemudian sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia. Aku mendengar percakapan mereka. Suatu malam, kala mereka mengira aku sudah tidur”&lt;br /&gt;Anto berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia tidak menyangka sama sekali sebuah fakta terkubur bertahun-tahun. Membatu bersama seluruh prasangkanya terhadap Ratri.&lt;br /&gt;“Aku tidak mengerti maksudmu. Kebijakan baru yang seperti apa yang telah menjauhkan usaha ayahmu…,” Anto menurunkan sedikit intonasi suaranya.&lt;br /&gt;“Kamu heran? Tidakkah itu lucu buatmu? Atau yang ini juga akan menjadi bagian dari pemikiran negativemu terhadapku? Silakan saja. Aku sudah tidak berminat. Kalau kamu mau tahu kebijakan apa, tanyakan pada ayahmu, juga berapa banyak manusia yang menjadi korban.”&lt;br /&gt;Anto tertawa mendengarnya. Tertawa untuk dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia percaya bahwa Ratri mencintainya dengan tulus dulu. Anto merasa keputusannya memilih Ratri sebagai kekasihnya dulu begitu naïf. Ia adalah alat balas dendam Ratri terhadap keluarganya. Anto akan mencari tahu kejelasan masalah yang dihadapi oleh ayahnya dan ayah Ratri. Tapi sebelum itu semua jelas, ia benar-benar ingin mencemooh ketulusan cintanya pada Ratri selama bertahun-tahun. Selama Ratri pergi dari rumahnya dan mengadu nasib di Surabaya.&lt;br /&gt;“Sekarang kamu mau aku mengakui apa lagi? Aku siap menjelaskan”&lt;br /&gt;“Semuanya makin jelas buatku. Aku tidak memerlukan jawaban apa-apa lagi…”&lt;br /&gt;Anto dan Ratri menuju tempat parkir dimana Anto menaruh mobilnya. Senja telah datang dan untuk menjemput malam. Ratri menawarkan diri untuk pulang dengan kendaraan umum saja. Ia tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa pada akhirnya Anto mengetahui latar belakang perbuatannya. Tapi Anto menyuruhnya untuk tetap pulang bersamanya. Langit sore yang tidak lagi menawarkan cerah membuat Anto khawatir akan keselamatan ibu dari anaknya yang sejak lahir tidak pernah berada dalam pelukannya.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Anto dan Ratri tidak mengeluarkan satu patah katapun selama perjalanan. Luka di hati masing-masing lah yang sanggup bicara. Mencari celah untuk menyeruak keluar diantara hening yang tercipta. Mobil Anto melaju makin kencang di tengah badai hati penghuni di dalamnya. Menit demi menit yang berlalu seolah bagai perjalanan sepanjang tahun yang dilakukan untuk melalui sebuah jurang yang makin lebar dari hari ke hari.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Anto merasa puluhan jarum mengalir dalam pembuluh darahnya. Siap menusuk tiap bagian tubuhnya kapan saja. Kemarin kenyataan sebuah kenyataan pahit harus ia hadapi. Ia sesungguhnya tidak siap. Segala dogma tentang cinta yang dipahaminya selama ini tak ada satupun yang sesuai dengan apa yang dialaminya. Benarkah manusia begitu cepat berubah dari waktu ke waktu?&lt;br /&gt;Anto sengaja mengambil cuti dari tempatnya bekerja selama seminggu. Begitu banyak misteri yang harus ia pecahkan demi membunuh rasa penasarannya. Ia tidak perduli lagi dengan dirinya sendiri. Ia mulai kurang tidur. Dari hari ke hari ada saja kepingan baru yang membutuhkan penjelasan. &lt;br /&gt;Setelah perjalanannya dengan Ratri ke Bogor yang membuat kepalanya makin dipenuhi tanda tanya, pagi hari ini Anto bergegas ke rumah orang tuanya. Ia belum bisa tidur bila belum benar-benar yakin apakah sesungguhnya yang terjadi antara orang tuanya dan orang tua Ratri. Pantaskah Ratri memelihara dendam pada dirinya? Ucapan Ratri kemarin serasa dentuman bom di telinganya. Menyakitkan sekali. Cintanya pada Ratri dibalas dengan dendam.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Seperti biasa, Mbok yang bekerja di rumah Pak Wirya Atmadja tergopoh-gopoh membukakan pagar untuk Anto yang menunggu reaksi dari bel di pagar yang ditekannya dengan berdiri di depan rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;“Wah, senengnyaa bapak dan ibu… Mas Anto datang lagi…,” sapanya ramah.&lt;br /&gt;Mbok menunduk demi melihat wajah kuyu Anto yang kurang tidur beberapa hari. Belum lagi pakaian yang dikenakan tidak lagi licin seperti habis disetrika. Putra majikannya hari ini begitu berbeda. &lt;br /&gt;“Tumben pagi-pagi sudah sampai sini. Kamu ndak ngantor, To?” &lt;br /&gt;“Nggak, Pak. Ini lagi ambil cuti. Sayang, udah lama cuti nggak diambil”&lt;br /&gt;“Ohh… Mana istrimu? Masih sibuk cari kegiatan sambilan?”&lt;br /&gt;Anto merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, meregangkan otot-otonya yang kaku sebentar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang diajukan padanya,”Santi? Mmm…iya, tadi keluar rumah sama temannya…” &lt;br /&gt;Anto menaikkan kedua kakinya ke atas sofa. Seharusnya, seperti hari-hari cuti yang telah lalu, ia menggunakan waktu istirahat berharganya ini untuk tiduran di atas sofa dan mendengarkan kecipak air di kolam. Terakhir ia merasakannya di sebuah villa di puncak bersama Santi. Villa yang tidak begitu besar namun cukup untuk melakukan kegiatan-kegiatan kecil yang menyenangkan bersama istrinya. Berenang, memasak sendiri dan memancing ikan. &lt;br /&gt;Buru-buru Anto menegakkan tubuhnya yang terkulai beberapa saat di sofa untuk kembali mengingat tujuannya datang ke rumah orang tuanya kali ini. &lt;br /&gt;“Bapak kenal baik dengan Bapak Gunawan Wibisono?”&lt;br /&gt;“Yang mana ya? Kamu barusan ketemu? Ia menanyakan bapak?”&lt;br /&gt;“Nggak, Pak. Anto ketemu dengan anaknya pak Gunawan…”&lt;br /&gt;“Ohh…lalu?”&lt;br /&gt;Lidah Anto kelu. Apa yang kemudian harus dikatakannya…&lt;br /&gt;“Yang punya usaha rumah makan di beberapa tem…”&lt;br /&gt;“Ooohh…yang itu. Bapak ingat sekarang. Yang sudah meninggal kan?”&lt;br /&gt;Anto dapat bernafas lega sekarang. Setidaknya ia tidak perlu menyebutkan nama anaknya.&lt;br /&gt;“Iya, yang itu…”&lt;br /&gt;“Ada apa ya dengan anaknya?”&lt;br /&gt;Harapan Anto untuk berlega hati musnah. Kini ia kembali harus berpikir bagaimana caranya untuk mengetahui apa yang terjadi antara ayahnya dengan ayah Ratri dahulu kala.&lt;br /&gt;“Mmm…kata anaknya, Bapak pernah punya masalah dengan pak Gunawan…,” Anto tidak punya pilihan lain selain berterus terang.&lt;br /&gt;“Masalah ya…Hmm, mungkin yang dimaksud adalah eksekusi atas tanah tempat dimana rumah makan terbesar milik Pak Gunawan itu. Siapa yang bermasalah sesungguhnya bapak rasa semua yang mengetahui duduk perkaranya dapat menilai sendiri”&lt;br /&gt;Pak Wirya Atmadja memebtulkan posisi duduknya dan melanjutkan.&lt;br /&gt;“Bapak waktu itu memeriksa berkas yang diberikan oleh seorang pengacara tentang hak milik tanah itu. kamu tahu sendiri kan, banyak sekali kepemilikan tanah yang bermasalah di Jakarta ini. Bapak tidak menerima apa-apa dari pengacara itu. Ia adalah seorang pembela hak rakyat jelata yang puas dengan menerima hasil bumi sebagai upah dari kerja kerasnya. Ia datang membawa keluhan dari sebagian rakyat jelata yang merasa tersisihkan karena tanah yang seharusnya menjadi miliknya ternyata digunakan sebagai tempat untuk mendirikan usaha oleh beberapa orang kaya. Waktu itu bapak hanya membantu kurang lebih 20 warga sipil yang berhak atas tanah itu untuk mendapatkan apa yang seharusnya memang menjadi miliknya,” ayah Anto menutup pembicaraannya.&lt;br /&gt;“Lalu kenapa Ratri bilang kalau bapaklah yang menyebabkan sekian banyak orang kehilangan pekerjaannya?” Anto terkejut dirinya menyebut nama Ratri.&lt;br /&gt;“Mereka yang disebut kehilangan pekerjaan itu adalah karyawan-karyawan pak Gunawan dan beberapa kios yang menggunakan tanah tersebut sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan…”&lt;br /&gt;“Adakah yang membantu mereka waktu itu untuk mencarikan semacam lahan pengganti supaya mereka tetap bisa melanjutkan pekerjaannya?”&lt;br /&gt;Pak Wirya Atmadja mendesah. Seolah ia lelah mengingat semua kejadian itu.&lt;br /&gt;“Anto, sebelum bapak membantu pengacara yang disewa sebuah lembaga swadaya masyarakat itu bapak telah memperoleh data tentang jumlah karyawan tiap usaha yang berada di tanah tersebut, dan juga keterangan tentang latar belakang bisnis yang dikelola oleh pemilik-pemilik usaha tersebut. Hasilnya adalah, pemilik-pemilik usaha tersebut semuanya memiliki lebih dari 3 bisnis yang dikembangkan di daerah yang berbeda-beda. Contohnya Pak Gunawan itu. selain disana, ia memiliki 4 rumah makan yang tersebar di seluruh Jakarta. Dengan total karyawan lebih dari 200 orang. Kalau sekitar 25 hingga 30 orang menjadi terbengkalai karena rumah makan yang satu ini ditutup, masih besar kemungkinan ia bisa mendistribusikan karyawan-karyawan itu ke rumah makan miliknya yang lain. Bapak tahu itu tidaklah mudah, karena tiap rumah makan tentunya memiliki perhitungan ongkos produksi masing-masing. Tapi waktu itu bapak melihat keadilan dari sisi yang berbeda. di satu pihak, pengusaha-pengusaha dengan kantong tebal itu sibuk memikirkan bagaimana supaya usahanya terus mendatangkan hasil yang makin banyak, tapi disisi lain sekian banyak kepala keluarga kehilangan haknya atas sebidang tanah milik mereka. Kalau kemudian kehidupan karyawan-karyawn mereka dijadikan alasan, bapak bilang itu mengada-ada. Kalau bapak tidak bertindak waktu itu, kebiasaan pemilik modal memanfaatkan ketidaktahuan rakyat jelata akan menjadi-jadi. Penipuan akan makin merajalela. Tidak ada control atas rasa keadilan. Orang-orang kaya sibuk menyumbat mulut para pejabat negeri ini dengan uang. Akhirnya asas keadilan hanya didasarkan pada siapa yang mampu ‘membeli’ surat keputusan dari pejabat berwenang.”&lt;br /&gt;Ayahnya menutup serangkaian kisah masa lalu itu dengan raut wajah dingin. Ia tidak mengira anaknya akan memintanya mengenang salah satu kejadian yang paling ingin dilupakannya seumur hidupnya. Mengetahui kebobrokan pejabat di negerinya melalui surat kabar dan televise adalah hal biasa. Tetapi mengingat bahwa dirinya pernah menjadi bagian dari sebuah kasus paling memuakkan di kota ini yaitu kepemilikan tanah, adalah membubuhkan garam diatas luka yang belum mengering.&lt;br /&gt;Sekarang semua menjadi jelas bagi Anto. Sayangnya, ini baru terjadi setelah semua yang berharga dalam hidupnya pergi meninggalkannya sendiri.&lt;br /&gt;Ia memandang pantulan wajahnya di cermin. Mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali dirinya terlihat pucat seperti mayat hidup. Sulit tidur selama berhari-hari disertai nafsu makan yang menurun drastic telah menguras sebagian besar tenaganya. Ia ingin menenangkan diri sebentar di rumah orang tuanya. Kesunyian yang mencekam si rumahnya membuat ia terus-menerus teringat pada Santi. Sedang apa istrinya sekarang? Apakah Santi mengingat dirinya seperti ia terhanyut dalam kesedihan karena kehilangan Santi? Tak ada jawaban. Pantulan dirinya di cermin seperti mentertawakan semua usahanya selama ini. Mengejek dirinya yang tidak pernah terlihat siap menerima kekalahan hingga akhirnya kekalahan itu sendiri yang memaksa dirinya untuk menerima secara beruntun.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-2132841175507204641?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/2132841175507204641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-enam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2132841175507204641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2132841175507204641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-enam.html' title='DUA PULUH ENAM'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-4512047250493345208</id><published>2012-01-31T07:18:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:18:52.370-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH LIMA</title><content type='html'>Santi mendesah. Mengapa semuanya datang sebagai potongan puzzle yang tidak menyatu satu sama lain. Sebuah bentuk yang harusnya saling melengkapi ternyata masih saja menyisakan lubang yang mesti kembali diisi dengan potongan yang lain. Yang belum ditemukannya hingga kini, saat dirinya sudah hampir mantap dengan keputusan yang dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Semalam ia tertidur di ranjangnya setelah air matanya kering. Apapun yang dikatakan Anto tidak akan merubah pendiriannya. Bisa saja Anto lebih jujur ketimbang Ratri. Tapi Santi sudah terlanjur merasa dikhianati. Tidak ada yang dapat ia percaya kecuali dirinya sendiri. &lt;br /&gt;Pagi ini saat Santi terbangun dari tidurnya, Anto telah berangkat ke kantor. Seolah tidak ada hal istimewa yang terjadi di rumah itu. Mungkin Anto sudah pasrah dengan segala kemungkinan yang akan dibuatnya untuk masa depan hubungan mereka, pikir Santi. Ipah, beraktifitas seperti biasa. Uang belanja berlebih yang diberikan Anto selama kepergian Santi dikembalikannya ke Santi. &lt;br /&gt;Penuh haru, Ipah berkata,”Saya mah pilih bingung mau belanja apa menuruti keinginan Ibu dan Bapak yang berbeda, dari pada setiap hari dapat uang belanja berlebih dan sudah tahu harus belanja apa tapi Ibu tidak ada di rumah.” &lt;br /&gt;“Memang apa istimewanya saya sih?” ujar Santi terkesan oleh ucapan Ipah, pembantunya yang lugu itu, barusan.&lt;br /&gt;“Ada dan tidak ada seorang Ibu di sebuah rumah tangga itu bedanya banyak, Bu…”&lt;br /&gt;“Saya sejak kecil sudah ditinggal oleh ibu saya. Dia pergi meninggalkan saya dan bapak saya begitu saja. Sejak saat itu, saya menjadi malas belajar. Bapak saya bilang kalau saya mau meneruskan sekolah, dia pasti usahakan segala cara untuk mendapatkan biayanya. Tapi…ya begitulah, saya malas. Rasanya gimana gitu, Bu, kalau rumah nggak ada ibunya… Seperti ada sinar matahari tapi nggak bisa dirasakan kehangatannya…,” mata Ipah berkaca-kaca.&lt;br /&gt;Santi tidak menyangka sama sekali Ipah akan berkata seperti itu di depannya. Kehangatan.. Kehadiran seorang ibu… Ah, Ipaah, Ipah… betapa naluri setiap manusia adalah sama, tidak perduli ia berada di kelompok yang mana ataupun tingkat pendidikan setinggi apa.&lt;br /&gt;Santi teringat pertama kali dirinya bertemu dengan Ipah. Tukang sayur langganannya di perumahan itu yang mengenalkan Ipah dengannya. Ipah datang ke Jakarta hanya membawa 2 lembar pakaian di dalam tas lusuhnya. Ia adalah keponakan si tukang sayur. Dari pada Ipah tidak ada kepastian nasib di kampungnya, lebih baik dia bekerja di kota, jadi pembantu rumah tangga, begitu menurut pendapat tukang sayur langganan Santi. Informasi yang diterima Santi waktu itu, orang tuanya sudah tidak ada, yang ditafsirkan santi sebagai meninggal dunia. Sekarang baru Santi tahu bahwa orang tuanya bukanlah meninggal dunia, tapi pergi meninggalkannya sendiri.&lt;br /&gt;Santi baru tersadar betapa setelah lebih dari 12 bulan, dirinya baru mengetahui latar belakang keluarga Ipah. Pembantunya yang begitu setia ini memang jarang bicara. Tapi itu tidaklah cukup untuk dijadikan alasan bagi Santi atas jarak yang diciptakannya selama ini dengan manusia lugu yang telah membisikkan sebuah pelajaran berharga yang mungkin tidak akan ia dapatkan dari mulut seorang dengan tingkat pendidikan yang jauh lebih tinggi.&lt;br /&gt;“Ipah, kamu lulus SMP?”&lt;br /&gt;“Saya? Lulus SMP? Mau sih, Bu. Tapi ya itu tadi…ibu saya pergi dari rumah waktu saya kelas 1 SMP. Jadi ya sampai disitu saja pendidikan saya…”&lt;br /&gt;Ya Tuhan, bisik Santi dalam hati. Lalu bagaimana aku akan mengatakan kepergianku padanya? Ia akan kehilangan sandaran yang mungkin baginya begitu berharga.&lt;br /&gt;Santi merasa ada yang hilang dari dirinya. Melayang meninggalkan tubuhnya dan mengikuti kemana Ipah pergi. Ia ingin ada seseorang yang dapat menjelaskan padanya mengapa baru kali ini ia merasa begitu berharga. Dirindukan oleh seorang wanita kampung yang tidak selesai mengenyam pendidikan SMP bukanlah hanya sebuah keharuan. Tapi ‘penghargaan’. Ia sudah tidak ingat berapa kali kenaikan gaji diterimanya selama bekerja. Berapa banyak penghargaan dalam bentuk hadiah-hadiah mahal diterimanya dari tempatnya bekerja dulu. Itu semua tidak pernah menghantam perasaannya sekeras ini. Ia ingin memeluk Ipah. Tapi diurungkannya. Santi telah mantap dengan keputusannya untuk berpisah dengan lelaki yang telah mempermainkannya. Dan ia ingin semua berjalan lancar. Ia tak ingin peluk dan tangisnya untuk Ipah menimbulkan kecurigaan tersendiri pada Ipah. Membuat Ipah kembali menemukan kata-kata magis untuk mengurungkan niatnya. Ipah dimata Santi kini telah menjelma menjadi semacam paranormal yang pantas ditakuti. Santi menggeleng-gelengkan kepala, menyadari betapa semua orang disekitarnya telah mengajaknya bermain-main dengan hati dan perasaannya.&lt;br /&gt;Kini yang ingin dilakukan Santi adalah mengemasi barang-barangnya kembali, seperti seminggu yang lalu. Ditambah beberapa dokumen penting untuk menuntaskan urusannya ke pengadilan nanti. Santi bimbang, dimana sebaiknya ia tinggal. Di rumah ibunya kah, atau di rumah Irma saja? &lt;br /&gt;Belakangan ini kedekatan Santi dengan ibunya telah mengalahkan ego untuk terus menerus merasakan trauma pertengkaran yang berujung perceraian kedua orang tuanya. Menghanguskan semua kenangan buruk tentang bagaimana ia selalu merasa tidak dikendaki kehadirannya di muka bumi ini oleh kedua orang tuanya. Tetapi, keputusan yang dibuatnya kali ini bisa jadi justru akan melukai hati ibunya. Santi sungguh kehilangan rasa percaya diri. Ia tahu seburuk apapun perpisahan yang terjadi pada orang tuanya, itu tidak berarti orang tuanya merelakan anaknya mengalami nasib yang serupa. Tinggal di rumah Irma sementara waktu mungkin lebih baik. Mengingat Irma tinggal di sebuah pavilion di sebelah rumah orang tuanya. Tidak tinggal serumah, sehingga tidak perlu merasa kikuk.&lt;br /&gt;Santi segera menghubungi Irma yang menyambutnya dengan tangan terbuka kehadirannya.&lt;br /&gt;“Ngga usah sebut berapa hari kamu akan menginap disini. Sampai seluruh urusanmu selesai, rumah ini akan selalu terbuka untukmu,” Irma mengakhiri ucapannya di telepon.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Aku tidak pernah mengira bahwa saat-saat terakhirku di rumah ini justru akan penuh terisi oleh sebuah pertanyaan : bagaimana caranya berpamitan pada Ipah. Ya, Ipah yang itu. Yang pembantu itu. Yang dengan caranya sendiri telah membuat majikannya bertekuk lutut. Ada baiknya catatanku kali ini aku isi sedikit kisahku dengan Ipah setahun belakangan ini. &lt;br /&gt;Ipah. Hingga kini aku tidak pernah tahu nama lengkapnya. Maksudku nama lengkap sesuai akte lahirnya. Ia datang ke Jakarta tanpa tanda pengenal apapun! Tanpa selembar ijazah pun karena memang ijazah yang ia miliki belum bisa membantunya untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak seorangpun lulusan sarjana akan menempuh resiko sebesar itu untuk pergi ke Jakarta. Gelar sarjana telah memberi manusia tingkat kewaspadaan tertentu yang tidak jarang turut memberikan andil dalam menebas habis intuisinya akan suatu tantangan yang harus dihadapi.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kalau ditanya ia berkata bahwa namanya Saripah. Aku tidak dapat percaya begitu saja. Tapi untuk apa mempermasalahkan nama. Ditengah kesulitan memperoleh pembantu yang dapat dipercaya, Ipah datang bak air hujan turun di musim kemarau. Aku dan Anto waktu itu langsung menyetujui tawaran tukang sayur langganan kami. Yang dibutuhkan dari seorang pembantu oleh majikannya adalah kemampuan bekerja dan kejujuran. Nama tidaklah terlalu penting. &lt;br /&gt;Di hari pertamanya bekerja di rumah ini ia langsung menunjukkan kemampuannya membersihkan rumah dan memasak. Aku dan Anto dibuat heran dengan ketangkasannya bekerja. Ia seperti wanita paruh baya yang telah membaktikan hidupnya pada pekerjaan rumah selama lebih dari 30 tahun. Waktu ditanya, ia hanya berkata bahwa orang tuanya membiasakan dirinya melakukan semua pekerjaan rumah. Dengan jawaban singkatnya waktu itu aku hanya mengangguk untuk kemudian tidak pernah menanyakan lagi perihal kehidupannya di kampung. Bagiku waktu itu, bekerja di rumahku adalah kewajibannya. Aku tidak perlu tahu dari mana sesungguhnya kemampuannya itu dia dapat, atau bagaimana latar belakang keluarganya sehingga anak semuda dirinya diharuskan mengerti semua pekerjaan orang tua. Aku tidak merasa bahwa itu istimewa. Hari-hariku banyak dikuras habis oleh tekanan pekerjaan dalam hiruk pikuk kota Jakarta.&lt;br /&gt;Ipah, dengan caranya sendiri selalu berhasil mempelajari semua hal baru yang belum diketahuinya dengan cepat. Seperti misalnya penggunaan mesin cuci satu tabung yang kami miliki, ataupun membersihkan perabot kami yang terbuat dari kuningan dan kristal. Ipah tak meminta bayaran mahal. Standart pembantu rumah tangga biasa. Bahkan setelah aku bandingkan dengan beberapa pembantu yang bekerja di rumah tetangga, gaji Ipah terbilang rendah. Lagi lagi, aku merasa bahwa itu adalah keuntungan bagiku. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak ada yang istimewa. &lt;br /&gt;Oya, Ipah berasal dari sebuah desa yang aku kesulitan mengingat namanya. Yang pasti tidak jauh dari Sukabumi. Menurutnya, ayahnya adalah orang Jawa Tengah sedang ibunya adalah orang Sukabumi. Asal usul yaitu tempat tinggal, umur, gaji yang diminta, dan keturunan orang mana dan mana adalah sedikit data yang aku ingin ketahui sebelum dirinya bekerja di rumah ini.&lt;br /&gt;Perihal yang baru dikatakannya pagi ini serasa bagai perkenalan keduanya padaku. Aku bisa menyebut diriku mengenalnya setahun yang lalu. Meski harus kuakui bahwa aku baru saja mengenal jati dirinya pagi ini. Mengenal keberadaan dirinya sebagai manusia yang telah merangkul hati dan asaku.&lt;br /&gt;Aku sedemikian kehilangan kata-kata untuk berpamitan padanya. Untuk sekedar mengatakan bahwa ‘aku akan pergi, tapi kita masih mungkin bertemu lagi’.&lt;br /&gt;Akhirnya, kuputuskan untuk berkata langsung padanya tanpa redaksi yang kupersiapkan terlebih dahulu. Makin lama aku memikirkan bagaimana harus berkata padanya, makin sulit aku memulainya. Awalnya aku coba memancingnya dengan kalimat ‘kalau Ipah ngga kerja sama ibu lagi, suatu hari nanti, Ipah kepinginnya kerja sama majikan yang seperti apa’. Lama ia tak menjawab, hingga sebuah kalimat yang berisi keraguan keluar dari bibirnya ‘maksud ibu apa, firasat Ipah kurang enak nih’.&lt;br /&gt;Sayangnya, aku bukanlah seorang majikan yang pandai bersandiwara. Mau tak mau, kuungkapkan maksud dari pertanyaanku yang sesungguhnya, yaitu ‘ibu nggak lama lagi tinggal disini. Ipah ngga apa-apa kan?’. Dan seperti yang kuduga sebelumnya, air mata menetes begitu saja ke pipinya. Ia diam, tidak berkata apa-apa, hanya sibuk menyeka air matanya. ‘Ipah…Ipah nggak tau harus kemana, bu’ suaranya lirih disela isak tangisnya. Kupeluk Ipah segera. Enggan rasanya kusudahi berbagi air mata dengannya. Air matanya membasahi bajuku dan entah ia merasakan atau tidak kalau air mataku tak henti membasahi bajunya.&lt;br /&gt;‘Ipah tidak harus pergi kemana-mana. Ipah masih diperlukan disini. Membantu bapak’ kataku. Ia memperhatikanku. Wajahnya bertanya-tanya apa yang sesungguhnya telah terjadi. ‘Bapak masih disini, Pah, hanya ibu yang pergi’ aku menjawab suara bisu yang dipancarkan lewat wajahnya. Mengertikah gadis 16 tahun ini akan kata-kataku barusan? Ah, ya, ia pernah mengalaminya dulu. Apakah orang tuanya juga mengatakan hal yang sama dengan yang kukatakan barusan? Demi melihat ekspresi lugunya, aku merasa pantas dilaknat Tuhan untuk semua yang kuucapkan padanya tanpa sedikitpun rasa bersalah. Aku tahu ia mengharapkanku. Aku juga tahu ia mengalami trauma atas kepergian ibunya. Aku tahu banyak hal…ya seharusnya aku tahu. Tapi ini masalah rasa percaya yang sudah luntur tak berbekas, Ipah…cobalah untuk mengerti!&lt;br /&gt;‘Nanti coba Ipah tanya sama bapak apa boleh Ipah ikut ibu untuk bekerja di rumah orang tua ibu. Masih di Jakarta juga kok rumahnya. Kalau boleh, Bang Sanip dikasih tau alamat Ipah yang baru biar sesekali bisa tengok ke sana. Tapi Ipah bilang dulu ya sama bapak…’&lt;br /&gt;Itulah kalimat penyelamat rasa bersalahku pada Ipah. Sesudahnya, ia terlihat sedikit lega. Tahukah Ipah, aku merasa jauh lebih ringan untuk melangkah sekarang.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi mengakhiri kegiatan mengetiknya di ruang kerja Anto. Ia telah menyiapkan flash disk untuk menyimpan data yang berisi rangkaian kata hatinya. Setelah ia yakin semua tulisannya telah tersimpan di dalam flash disk, ia keluar dari kamar tersebut dan meminum beberap butir vitamin dan obat anti mual yang diberikan dokter kandungannya.&lt;br /&gt;Langit kelabu Jakarta masih menaungi perumahan dimana Santi tinggal. Ia mengecek semua yang telah disiapkan untuk kepergiannya. Ia merasa ada yang menekan-nekan perutnya. Rasa itu selalu datang setiap kali ia gugup. Dan kali ini rasa itu menyerang begitu hebat. Memukul-mukul ulu hatinya. Ia datang ke rumah ini dengan sejuta harap. Menimbunnya satu per satu setiap hari. Baik dalam keadaan lelah sehabis pulang kerja maupun sewaktu dirinya bersemangat menghabiskan sisa hidupnya dengan menjadi ibu rumah tangga. Kini timbunan itu seperti menguap. Andai masih ada yang tersisa, ia enggan menatapnya lagi. Ia harus lebih kuat sekarang. Ia akan membutuhkan pekerjaan baru nantinya. Sementara, ia belum mendapat pekerjaan tetap, ia dapat menggunakan tabungannya selama bekerja untuk hidup sekedarnya. Anto juga menabungkan sebagian penghasilannya selama ini ke dalam rekening Santi. Tabungannya cukup untuk biaya hidup setahun lebih. Tapi ia menargetkan untuk memperoleh pekerjaan tetap dalam waktu dua bulan kedepan. Dengan pengalaman dan jabatan terakhir yang dipercayakan padanya, pengalaman teman-temannya selama ini menunjukkan kalau perusahaan yang merekrut karyawan seperti dirinya rata-rata memperbolehkan cuti melahirkan untuk masa kerja kurang dari satu tahun.&lt;br /&gt;Kemana dirinya akan melangkah, semua telah dipertimbangkan masak-masak oleh Santi. Cukup sampai disini sakit yang dirasakannya akibat pengkhianatan Anto. Dirinya berhak mereguk kebahagiaan. Ia akan menciptakan kehidupan yang bahagia juga bagi anak yang sedang dikandungnya. Sebagai ibu yang bertanggung jawab, ia akan tetap mengizinkan ayah dari anaknya datang menjenguk kapan saja. Itupun kalau Anto tahu. Ah, Anto, betapa engkau selalu dijauhkan dari perayaan kedatangan buah hatimu di dunia ini.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-4512047250493345208?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/4512047250493345208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-lima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4512047250493345208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4512047250493345208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-lima.html' title='DUA PULUH LIMA'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-7096687450686890438</id><published>2012-01-31T07:14:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:14:12.394-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH EMPAT</title><content type='html'>Irma mengendap-endap memasuki rumah dimana ia pernah tinggal bersama suaminya, Bima. Pagi hari setelah Bima berangkat ke kantor, pintu pagar memang jarang dikunci oleh pembantunya. Tukang sayur yang biasa mangkal di dekat rumah itu akan memanggil para langganannya di pagi hari sekitar jam 9. Irma sengaja datang pada waktu yang sama dengan saat pembantunya melangkah keluar pagar untuk berbelanja di tukang &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;sayur.&lt;br /&gt;Santi tidak tega melihat temannya melakukan aksinya sendiri. Ia kemudian mengikuti Irma dari belakang. Begitu Irma memasuki ruang keluarga, Santi berhenti di depan pintu dapur. Cukup sampai disini saja, pikir Santi. Siapa tahu ada tamu yang kehadirannya tidak disangka, siapa tahu lelaki yang disebut bernama Arman itu datang, Santi dapat menghadapinya terlebih dahulu. Santi tidak perduli dengan resiko apapun yang bakal dihadapi dengan janin dikandungannya bila ternyata hal yang tidak diinginkan terjadi. Perasaan senasib antara dirinya dengan Irma telah membuatnya mantap untuk menemani Irma melakukan aksinya di pagi hari ini. Mengendap-endap untuk mengambil semua dokumen yang diperlukan Irma guna mengurus perceraiannya dengan Bima di pengadilan.&lt;br /&gt;Santi mengikuti gerak langkah Irma memasuki ruang demi ruang di rumah itu dengan telinganya. Sejauh ini tidak terdengar apa-apa. Pasti Irma tengah mengambil dokumen-dokumen berharga miliknya. &lt;br /&gt;Kemudian…&lt;br /&gt;BRAKK!!&lt;br /&gt;Sebuah suara keras seperti kursi dibanting terdengar. Santi berlari ke arah suara itu berasal. Ia mendapati temannya terhuyung-huyung mencoba berdiri dengan berpegangan pada sebuah kursi makan disebelahnya. Irma rupanya jatuh menimpa kursi makan itu. &lt;br /&gt;Di hadapannya ada BIMA!&lt;br /&gt;Santi harusnya tidak hanya memandang temannya yang telah mengeluarkan darah dari hidungnya itu begitu saja. Tapi ternyata nyalinya ciut. Bima, dengan pandangan matanya yang garang siap menyerang siapapun yang ada dihadapannya. Tidak terkecuali dua wanita yang ada di ruangan itu bersamanya kini. Santi membayangkan Anto ada disisinya. Membelanya dari serangan membabi buta yang dilakukan Bima terhadap Irma.&lt;br /&gt;Bima mulai berjalan ke arah Irma. Langkahnya perlahan tapi pasti. Seolah hewan pemburu yang buas, ia tahu mangsanya tidak akan bisa berkutik. Aura kebuasannya terlalu kuat. Mengalahkan siapapun yang berniat melawannya. Santi mengumpulkan semua keberaniannya untuk bergerak. Mencari benda keras yang dapat digunakannya untuk membela temannya. Sekaligus membela dirinya sendiri. Sebuah botol champagne yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri berhasil di raih. Tapi, di saat bersamaan, ia tidak mengira Bima telah melompat ke arahnya dan mendorongnya hingga mencium lantai. Pandangannya berkunang-kunang. Selagi dirinya mencoba bangkit, Irma telah berada di belakang Bima dengan botol champagne siap dihantamkan ke kepala suaminya. Santi sempat berteriak,”Irma jangaaannnn!!”&lt;br /&gt;Santi terbangun tiba-tiba dengan nafas yang memburu.&lt;br /&gt;Dirinya bermimpi.&lt;br /&gt;Ia berada di ranjang kamar tidurnya yang kini telah basah akibat keringatnya. Sejenak ia ragu akan mimpinya. Semua berjalan begitu cepat dihadapannya. Mengerikan sekali! Tapi kemudian, saat kesadarannya benar-benar pulih, ia yakin bahwa yang terjadi di hadapannya barusan bukanlah nyata. &lt;br /&gt;Ia bangkit dari ranjangnya, mengatur nafasnya dan bersandar di sandaran ranjang yang empuk. Santi berharap kelembutan kain yang membalut sandaran ranjang ini membantunya mengurangi kegelisahannya. Apa yang ada di dalam mimpinya barusan adalah adegan paling horror yang pernah dilihatnya. Ia meraba perutnya. Mencoba menenangkan makhluk di dalamnya. Adakah makhluk ini tahu yang dirasakannya? &lt;br /&gt;Santi memandang jam dinding di dalam kamarnya. Pukul 8 malam. Tas kerja Anto telah tergeletak di meja kecil di samping ranjang. &lt;br /&gt;Santi bangkit dari tempatnya bersandar dan mulai membereskan satu per satu barang-barang Anto yang berserakan. Adakah Anto sengaja membuat segalanya tampak berserakan supaya istrinya merasa berguna? Santi merasakan kepalanya mulai berdenyut perlahan. Menurut dokter yang mengetahui kehamilannya, hal yang dirasakan Santi dirasakan oleh semua perempuan yang sedang mengandung. Oleh karenanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi ini kehamilan pertama Santi. Ia belum pernah punya pengalaman sebelumnya, juga tidak dapat merasakan kehamilan yang dialami orang lain.&lt;br /&gt;“Segera memberi tahu suami Ibu. Selain kebahagiaan, banyak hal dapat dilakukannya untuk membantu Ibu menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi selama proses kehamilan. Kondisi kesehatan Ibu baik. Namun, rasa cemas yang mungkin akan menjadi berlebihan akibat perubahan hormone yang akan banyak mempengaruhi pola pikir ibu muda yang baru hamil untuk pertama kalinya”&lt;br /&gt;Santi ingat betul nasihat sang dokter. Tapi Santi tidak berniat untuk memberi tahu Anto. Tidak. Tekadnya sudah bulat. Keputusan telah diambil. Kabar mengenai kehamilannya akan memporak porandakan rencananya. Ia wanita mandiri, yang dibesarkan tidak untuk bergantung pada orang lain. Dan lagi, dokter telah memberinya pengurang rasa sakit yang aman bagi dirinya dan janin yang ada di kandungannya.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Selain membereskan kamar tidurnya yang tidak terurus selama kepergiannya, Santi juga mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan untuk mengurus apa yang telah menjadi keputusannya saat ini. Apa yang seharusnya terjadi, sebentar lagi akan terjadi. Dan ia siap dengan segala resikonya.&lt;br /&gt;“Apa kabar, Sayang?” sebuah suara muncul dari belakang.&lt;br /&gt;“Kabar baik,” jawab Santi tanpa menoleh ke arah datangnya suara.&lt;br /&gt;“Cari apa sih, sibuk bener,” Anto berusaha mengajak Santi berbicara meski tidak diperhatikan.&lt;br /&gt;“Tas yang berisi akte kelahiran, surat nikah dan dokumen penting lainnya”&lt;br /&gt;“Aku baru saja memindahkannya…”&lt;br /&gt;Santi menoleh ke arah datangnya suara.&lt;br /&gt;Kini mereka saling memandang. Santi ingin melepas rindu, namun balutan kebencian atas rindu itu lebih banyak menguasai dirinya. Ia membeku di depan Anto.&lt;br /&gt;“Wajahmu keliatan pucat. Kamu pasti lelah. Istirahatlah lagi. Aku tadi melihatmu tertidur pulas pulang kerja… aku…aku senang kamu kembali…” &lt;br /&gt;Santi tidak ingin menjawab. Segumpal air mata nyaris tumpah ke pipinya seandainya ia tidak sanggup mengendalikannya. Kini bukan saatnya bersedih, Santi. Kau harus tegar. Keputusan yang telah kau ambil dengan merenung selama hampir satu minggu ini telah bulat! Santi mendehem perlahan, lalu berkata,”Banyak yang ingin aku bicarakan padamu. Tapi terlebih dahulu aku ingin tahu dimana kau menyimpan dokumen-dokumen penting kita.”&lt;br /&gt;“Di lemari kamar kerja. Di bawah.”&lt;br /&gt;“Baiklah. Aku akan mengambil beberapa yang aku perlukan setelah itu kita bicara”&lt;br /&gt;Anto mengerti, tak akan ada gunanya memaksa istrinya untuk menghentikan aksi misteriusnya malam ini. Ia keluar dari kamar tidur lebih dahulu. Apapun yang akan disampaikan istrinya sebentar lagi adalah berkaitan dengan masa depan keluarganya. Ia harus tenang menghadapinya.&lt;br /&gt;Dilemma demi dilemma telah dilalui Santi dalam hidupnya. Sekarang dirinya harus lebih dewasa menghadapinya. Dulu mungkin ia masih bisa memberikan kelonggaran pada setiap ragu yang menghadang keputusan yang akan dibuatnya. Kini itu semua tidak boleh terjadi. Ia adalah penentu nasibnya sendiri. &lt;br /&gt;Setelah merapikan semua dokumen yang dibutuhkan dan menyimpannya di dalam koper besar miliknya, Santi turun ke bawah sesuai rencananya semula. Berbicara dengan Anto. Tentang hari-hari yang akan mereka lalui nantinya.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Santi merasa mual. Obat yang berfungsi mengurangi rasa mual telah ditelannya. Namun rasa itu datang dan datang lagi. Tanpa ia sadari, rasa mual itu menjadi-jadi kala dirinya menuruni tangga untuk menuju ruang keluarga. Buru-buru Santi menaiki tangga dan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya. Ia tak boleh kelihatan kurang sehat, apalagi mual-mual begini. Anto pasti curiga. Santi sudah merencanakan untuk menutup rapat kehamilannya dari Anto.&lt;br /&gt;Anto merasa ada yang disembunyikan istrinya. Ia naik tangga menuju kamar tidurnya dan mendapati istrinya baik-baik saja keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;“Are you ok?” katanya memastikan.&lt;br /&gt;“I am ok…” Santi menunjukkan wajah ceria seperti biasa.&lt;br /&gt;“Kita bicara disini saja”&lt;br /&gt;“Aku rasa lebih baik begitu,” ujar Anto setuju.&lt;br /&gt;Santi sesungguhnya tidak ingin pembicaraan mereka berlangsung di kamar ini. ia merasa kamar ini selalu berhasil menghipnotisnya untuk ingin berada dalam pelukan Anto. Menawarkan kehangatan tersendiri di setiap dingin yang ia rasakan. Membuatnya kurang yakin akan kemampuan dirinya untuk tegar menghadapi berbagai masalahnya sendiri. Tapi apa boleh buat, resiko ketahuan hamil karena mual kala menuruni anak tangga membuatnya menyetujui ajakan Anto untuk berbicara di kamar ini saja. &lt;br /&gt;“Santi, aku tahu segudang pertanyaan pasti ada di kepalamu sejak beberapa hari yang lalu. Aku senang kamu menjadikan rumah orang tuamu sebagai tempat singgah. Setidaknya menghilangkan kekhawatiran terbesarku untuk kehilanganmu”&lt;br /&gt;Anto memberi jeda pada kalimatnya kemudian melanjutkan.&lt;br /&gt;“Sekarang saatnya dirimu mengerti semua yang terjadi padaku dan Ratri yang sesungguhnya. Semua dimulai dari…”&lt;br /&gt;“Tahukah kamu kekecewaan terbesarku padamu, Anto?” Santi memotong kalimat Anto.&lt;br /&gt;“Karena kamu mendengar cerita yang berbeda dengan yang aku ceritakan padamu…”&lt;br /&gt;“Benar!” Santi menjawab dengan tegas, kemudian melanjutkan,”Adakah yang lebih menyakitkan dari pada menemukan bahwa kita dikhianati oleh orang yang paling kita percaya?? Terlalu sulitkah itu untuk kau mengerti?”&lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud sama sekali untuk…”&lt;br /&gt;“Untuk apa?” Santi kembali memotong,”Anto, sejak pertama kali kita berjumpa, aku telah meletakkan berjuta harap padamu. Pada orang yang bahkan belum menyatakan cintanya padaku, apalagi berjanji untuk menikahiku dan hidup bersama. Belum, Anto. Dan kini aku tahu bahwa perasaanku waktu itu salah!”&lt;br /&gt;Santi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Isak tangis mulai terdengar dari balik wajahnya yang tertutup.&lt;br /&gt;“Sekarang, maukah kamu memberiku waktu sejenak untuk menceritakan yang sesungguhnya? Hanya sedikit waktu saja. Dan setelah itu aku tidak akan membiarkanmu untuk mengambil keputusan,” Anto mengiba pada Santi. Anto tidak mengira Santi akan bersikap sekeras ini. Santi yang dikenalnya selama ini adalah wanita yang tegar. Bukan wanita melankolis yang enggan memberinya waktu untuk mengungkapkan sebuah kenyataan.&amp;nbsp; Andai Anto tahu betapa hebatnya akibat dari perubahan hormonal yang terjadi pada wanita hamil.&lt;br /&gt;“Seperti yang sudah pernah aku ceritakan, kami berpacaran sejak kelas 3 SMU. Semua berjalan normal, hingga suatu kali Ratri harus menerima kenyataan bahwa sel kanker ternyata tumbuh di rahimnya. Ia menceritakannya padaku. Aku berkata bahwa aku dan dia akan menghadapinya bersama. Ia khawatir. Bahkan bisa dibilang lebih dari khawatir bahwa aku akan meninggalkannya begitu saja ketika mengetahui dirinya beresiko kesulitan atau bahkan tidak mungkin mempunyai anak”&lt;br /&gt;“Hari demi hari berlalu. Kami mencari berbagai informasi mengenai pengobatan kanker yang tidak berakibat fatal bagi organ yang lain. Pengobatan alternative dijalani beberapa kali oleh Ratri. Mulai dari pengobatan dengan jamu yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan, hingga obat-obatan pencegah tumbuhnya sel kanker alami yang kami dapat dari teman ataupun situs di internet. Aku mengantar Ratri memeriksakan perkembangan sel kanker yang ada di tubuhnya secara berkala ke rumah sakit. Sampai dengan tahun ketiga semenjak kami berpacaran, sel kanker yang harusnya mengecil atau paling tidak sama dengan sebelumnya karena obat-obatan yang dikonsumsi Ratri, kenyataannya justru membesar. Ratri rupanya lelah dengan usahanya. Ia mulai putus asa”&lt;br /&gt;“Kemudian, apa yang seharusnya tidak terjadi di tahun ketiga kami berpacaran itu akhirnya terjadi. Di tengah keputusasaannya, Ratri menjebakku di rumahnya kala orang tuanya pergi. Ia sengaja membubuhkan obat perangsang di minuman yang aku minum waktu itu. Keesokan harinya ia mengakui perbuatannya, setelah aku dan dia menghabiskan&amp;nbsp; malam sebelumnya hanya berdua di kamarnya. Ia mengungkapkan kalau keinginannya sederhana, menjadikan aku lelaki pertama yang menjamah tubuhnya. Mengharapkan aku tidak akan pernah meninggalkannya. Selang dua bulan setelah kejadian malam itu Ratri hamil. Ia sangat bahagia, karena selain dapat memaksaku untuk menjadi ayah bayi yang dikandungnya, ia juga dapat membuktikan bahwa sel kanker yang tumbuh di rahimnya tidak berpengaruh pada kemampuannya untuk bereproduksi”&lt;br /&gt;“Terserah mau percaya atau tidak, tetapi setelah kami bermalam bersama di kamar Ratri, aku tidak dapat lagi menaruh hormat padanya. Untuk alasan apapun, tidak seharusnya ia menjebakku seperti itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Di tengah kegelisahanku karena masih kuliah dan belum mempunyai penghasilan tetap, Ratri mengharapkan kami dapat menjadi pasangan suami istri yang sah. Ya, kami akhirnya menikah tanpa kehadiran orang tua kami. Surat nikah yang kami punya waktu itu adalah karena kebaikan hati seorang teman yang kebetulan dapat mengusahakannya.”&lt;br /&gt;Santi tidak memberikan tanggapan apa-apa atas seluruh cerita Anto yang mengalir deras ditengah gemuruh perasaannya. Ia kini merasa berbicara dengan orang asing. &lt;br /&gt;“Ratri sempat pindah ke Surabaya. Menghindari ayah tirinya yang mata keranjang sekaligus menyembunyikan keberadaan kandungannya.”&lt;br /&gt;Sejenak lubuk hatinya tersentuh dengan sebuah kehamilan yang dirahasiakan. Ia tak habis pikir mengapa begitu banyak kehamilan harus disembunyikan dari khalayak. Termasuk kehamilannya sendiri. Manusia memang makhluk yang aneh. Menggunakan akal dan pikirannya untuk memajukan peradaban dan dalam waktu bersamaan menggunakannya untuk menipu diri sendiri. Santi mendesah perlahan.&lt;br /&gt;Disela-sela segudang pikiran yang berkecamuk di kepalanya, Anto masih melanjutkan kisahnya. Ia bercerita bahwa setelah Ratri pindah ke Surabaya, Ratri sempat berusaha menggugurkan kandungannya karena ia sendiri akhirnya tidak yakin akan dapat membesarkan anaknya dengan keadaan ekonomi yang belum menentu ini. Entah apa yang dilakukannya pada waktu itu, yang jelas, Anto tidak pernah mendapat kabar apapun darinya. Ratri menghilang di Surabaya. Anto berusaha mencarinya kemana-mana, tapi tak seorangpun bahkan teman yang mencarikan tempat tinggal baginya pertama kali di Surabaya pun tidak mengetahui keberadaannya. Anto mengaku meninggalkan nomor telepon yang bisa dihubungi sewaktu-waktu seandainya Ratri mencarinya. Tapi Ratri tak kunjung datang padanya. Hingga suatu hari seorang teman dimana Anto meninggalkan nomor teleponnya menghubungi Anto dan memintanya untuk berkunjung ke Surabaya. Ia mengajak Anto mendatangi sebuah klub malam. Tanpa pernah diduga Anto sebelumnya, Ratri ternyata bekerja di sebuah klub malam. Menurut beberapa langganan klub tersebut, Ratri tiap malam diantar pulang oleh lelaki yang berbeda. Entah benar atau tidak. Yang jelas, Anto merasa sangat tidak dihargai. Anto pulang ke Jakarta dan mengganti nomor telepon genggamnya.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Anto tidak mau dihubungi oleh Ratri. Mencoba mengarungi kehidupan yang baru tanpa ada bayang-bayang kehadiran Ratri sama sekali. Ratri tidak lagi menjadi wanita yang layak ditunggu olehnya. &lt;br /&gt;Tapi kedatangan Ratri ke Jakarta 5 tahun yang lalu membuatnya iba. Menyeret Anto kembali ke pusaran kehidupan dan pribadi Ratri yang labil dan selalu meminta perhatiannya. &lt;br /&gt;Wirendra yang pernah dicoba digugurkan ternyata tumbuh menjadi anak yang tampan meski mempunyai kekurangan yang membuatnya tidak dapat disekolahkan di tempat anak-anak normal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-7096687450686890438?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/7096687450686890438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-empat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/7096687450686890438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/7096687450686890438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-empat.html' title='DUA PULUH EMPAT'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-1814500869796583714</id><published>2012-01-31T07:11:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:11:58.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH TIGA</title><content type='html'>Teh manis yang ada dihadapannya kali ini akan mengawali sebuah hari dimana moment penting dalam hidupnya akan diputuskan. Santi menghirup nafas dalam dalam. Sesekali ia melihat kearah kepulan asap yang&amp;nbsp; keluar dari cangkir teh dihadapannya. Aku akan meminumnya sampai habis lalu berangkat. Berangkat ke tempat dimana aku harus menyelesaikan sesuatu. tak dapat lagi tempat itu kusebut sebagai rumah. Bagiku &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;rumah adalah tempat untuk kembali. Sementara, aku tak akan pernah tahu apakah aku sanggup kembali dan menengok lagi setiap jejak yang pernah tertinggal disana.&lt;br /&gt;Santi ingin detik dan menit berlalu lambat. Kalau perlu berhenti saja. Berhenti di titik dimana ia ingin dikembalikan ke perut ibunya. Membatalkan kelahirannya saja dan bertukar tempat dengan orang lain yang memang lebih menginginkan kehidupan seperti dirinya. Ia tidak sedang berprasangka buruk pada alam yang membesarkannya. Ia hanya merasa tidak cocok. Itu saja.&lt;br /&gt;Kini cangkir teh dihadapannya telah kosong. Ibu masih saja sibuk lalu lalang membereskan perabot rumah yang menurutnya sudah waktunya diganti, dicuci, ataupun dibersihkan dengan treatment khusus. Kesibukan yang sengaja dibuatnya untuk menghilangkan kekosongan yang tak lama lagi akan dirasakannya. Hati dan jiwanya telah terisi dengan kedatangan anak semata wayangnya. Anaknya yang selama ini telah menampik kehidupan yang diberikannya. Bukan, bukan anaknya yang menampik, tapi dia lah yang menampilkan sisi kehidupan yang kelabu di mata anaknya. Kini semuanya telah terjadi. Anak semata wayangnya kini menginginkan kehadirannya di setiap langkahnya dalam mengambil keputusan dalam kehidupan perkawinannya. Ia harus siap untuk itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;“Ibu…,”ucapnya perlahan.&lt;br /&gt;“Sudah siap? Ada yang mau dibawa dari rumah ini? Hiasan dinding mungkin…”&lt;br /&gt;“Tidak, Bu. Hatiku saja yang kutitipkan disini. Boleh?” Santi tersenyum. Kakinya terasa berat melangkah.&lt;br /&gt;Air mata menetes dari pipi ibunya. Kedua wanita yang masih menginginkan berlama-lama menikmati saat-saat yang pernah sengaja dilewatkan itu berpelukan cukup lama. Suara klakson taksi yang menjemput Santi memaksa mereka untuk melepaskan pelukannya. Tak ada yang terdengar kecuali isak tangis dari keduanya.&lt;br /&gt;“Jaga dirimu baik-baik,” ucap ibu.&lt;br /&gt;“Diatas segala keinginan dan emosi yang ingin kau luapkan, ingatlah bayi di kandunganmu. Ia membutuhkan nafas kehidupan. Nafasmu. Ibunya…,” lanjutnya.&lt;br /&gt;Santi memasuki taksi yang sudah ia pesan untuk mengantarnya kembali ke kehidupannya bersama Anto, suaminya. &lt;br /&gt;Di tengah jalan, ia teringat akan Ratri. Ketegarannya menghadapi kesendirian setelah Anto meninggalkan dirinya membuat Santi ingin menengok cinta pertama suaminya itu. Santi segera meminta supir taksi untuk menuju ke rumah Ratri.&lt;br /&gt;Santi tiba di rumah ini lagi. Hatinya berdebar-debar lagi. Kali ini ia datang tanpa janji bertemu sebelumnya. Berbeda dengan kedatangan pertamanya dimana ia menggunakan nama Anto untuk membuat Ratri membuka diri untuk menerima kedatangannya.&lt;br /&gt;Santi membunyikan bel rumah Ratri. Mbok yang menjaga rumah itu keluar. Tergopoh-gopoh ia membukakan pintu pagar untuk Santi. &lt;br /&gt;“Mbok, Bu Ratri ada?”&lt;br /&gt;“Tidak, Bu. Ibu pergi dari tadi pagi”&lt;br /&gt;“Oh, begitu. Baiklah, saya mampir lain kali lagi”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Santi tidak putus asa untuk menemui Ratri. Banyak pertanyaan yang masih menggantung di benaknya. Pertemuannya dengan Ratri menyadarkannya bahwa ia belumlah mengenal Anto, suaminya, secara keseluruhan. Ia ingin mendengar lebih banyak cerita dari Ratri. Ia yakin Ratri pun ingin mendengar ceritanya tentang Anto. Anto kini adalah misteri bagi mereka berdua, Santi dan Ratri.&lt;br /&gt;Supir taksi yang tanpa bertanya langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk segera berlalu diminta Santi untuk menuju sebuah alamat panti asuhan tidak jauh dari tempatnya berada kini. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pohon rindang di sebuah taman mungil itu melindungi laki-laki dan perempuan yang berada di bawahnya dari sengatan sinar matahari yang terik siang itu.&lt;br /&gt;“Bu Ani adalah pengasuh yang baik. Ia dapat membuat Wirendra betah tinggal di tempat ini. Belajar dan bermain sepanjang hari. Tidak banyak yang mampu melakukan apa yang dilakukan Bu Ani”&lt;br /&gt;“Jadi kapan aku dapat menemuinya?”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Kapan saja kamu mau sesungguhnya. Tapi aku tidak yakin Wirendra mau ditemui tanpa aku berada disisinya. Membuatnya yakin bahwa tamu yang ingin bertemu dengannya tidak akan menyakitinya. Ia mempunyai masalah dengan rasa percaya diri. Mungkin karena dulu aku pernah memaksanya untuk bersekolah di tempat anak-anak normal. Maksudku yang tidak seperti dirinya. Ini salahku”&lt;br /&gt;Cukup lama setelah kalimat terakhir meluncur dari bibir Ratri suasana menjadi hening.&lt;br /&gt;“Kenapa diam?” Tanya Ratri pada Anto.&lt;br /&gt;“Kamu tahu aku tidak pernah bermaksud untuk meninggalkan semua hal yang menjadi tanggung jawabku. Tapi, kamu memaksaku melakukannya…”&lt;br /&gt;“Semua terserah kamu, Anto. Aku sekarang mengerti bahwa seperti apapun hidupku saat ini, Wirendra adalah prioritasku nomor satu. Nafasnya adalah pemberi kehidupan bagiku. Aku tak dapat hidup tanpanya. Seperti aku enggan untuk melangkahkan kakiku tanpamu dulu…”&lt;br /&gt;Santi seperti disayat-sayat hatinya mendengar percakapan Ratri dan Anto. Ia mendengar semuanya. Pagi tadi, ia berangkat dari rumah ibunya dengan membiarkan intuisinya yang bekerja untuk menuntaskan masalah yang sedang dihadapinya. Masalahnya dengan Anto. Kini, ia seperti diseret pada sebuah pusaran yang hanya memberikannya sebuah lorong untuk dimasuki. Tidak ada cabang yang dapat dijadikan pilihan untuk dilewati. Hanya satu. Santi yakin dengan keputusannya kini. Tidak akan ada acara kabur dari rumah lagi. Ia siap menghadapinya. Seburuk apapun itu.&lt;br /&gt;Ia teringat perutnya belum terisi makanan apapun semenjak dirinya berpamitan dengan ibunya tadi pagi. Setelah jelas segalanya, ia merasa tak perlu berlama-lama menguping pembicaraan suaminya dan Ratri. Kini ia akan mampir di warung makan terdekat untuk membeli seporsi makan siang dan menyantapnya di rumah. Ia tak ingin merepotkan Ipah.&lt;br /&gt;Taksi yang ditumpanginya tiba di depan sebuah rumah yang sangat dikenalnya. Disini semua berawal, dan disini pula segalanya akan diputuskan nantinya. Tak lama lagi. &lt;br /&gt;“Ehh…ibuu…,” Ipah, pembantu setianya terlihat sangat merindukannya. Mungkin kalau bukan karena sungkan dengan majikan perempuannya ini, ia sudah menghamburkan pelukan ke tubuh Santi. Matanya berkaca-kaca sambil membantu Santi mengambil barang-barang bawaannya dari bagasi taksi.&lt;br /&gt;“Ibu kok ngga telepon kalau mau datang. Ipah kan bisa masakkan makanan kesukaan ibu”&lt;br /&gt;Santi tersenyum sembari berkata,”Tidak usah repot-repot, Ipah…saya sudah makan diluar kok.”&lt;br /&gt;“Ah, ibu, kayak tamu aja disini. Bilang ngga usah repot-repot…”&lt;br /&gt;Santi menelan ludah mendengar perkataan Ipah barusan. ‘Seperti tamu saja’! Memangnya ia bukan tamu di rumah ini?&lt;br /&gt;Sambil membantu Santi membereskan barang-barang bawaannya masuk ke kamar tidurnya, Ipah masih terus saja berkicau. Ia merangkum segala yang terjadi di rumah ini. &lt;br /&gt;“Bapak tiap hari memberi Ipah uang, Bu. Katanya, kalau Ibu pulang nanti ngga tahu kapan, Ipah bisa sediakan masakan apa saja yang Ibu mau. Selama Ibu tidak di rumah, Bapak selalu minta dimasakkan semua masakan kesukaan Ibu, mulai dari balado terong, ikan peda masak cabai hijau, ayam ca brokoli gitu Bu. Katanya, kalau mau sehat, mesti gemar makan makanan semacam itu. Rendah kolesterol katanya. Ipah ngga ngerti maksud Bapak apa. Ipah sih iya iya aja”&lt;br /&gt;Santi merasa ada yang mengganjal di kerongkongannya. Anto minta dimasakkan semua makanan kesukaannya? Lalu mengapa selama ia berada di rumah ini Anto tidak pernah melakukannya? Mengapa Anto seperti selalu sengaja minta dimasakkan masakan yang berbeda? Santi merasakan matanya menghangat. Ah, bisa-bisanya Anto saja. Pasti ia tahu kalau Ipah paling suka bercerita padaku tentang segala yang terjadi di rumah ini. Dan seandainya itu terjadi, Anto akan dengan mudah memperoleh simpati dariku. Santi terharu namun sekaligus menggerutu dalam hati.&lt;br /&gt;“Bapak juga bilang kalau barang-barang dan alat tulis bapak yang ada di kamar kerja di bawah dan di ruang tidur ini tidak boleh disentuh. Tidak usah ada yang dirapikan, karena hanya Ibu yang tahu bagaimana merapikannya. Ipah hanya boleh mengepel lantai saja”&lt;br /&gt;Santi diam-diam membiarkan matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut kamar tidurnya. Benar apa yang dikatakan Ipah barusan. Buku agenda, kertas-kertas, dan beberapa kemeja Anto berserakan di meja kecil dan di pinggir tempat tidur. Santi buru-buru menyuruh Ipah keluar dari kamarnya. Setelah yakin dirinya tidak ada yang mengganggu, Santi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mulai menangis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-1814500869796583714?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/1814500869796583714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-tiga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1814500869796583714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1814500869796583714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-tiga.html' title='DUA PULUH TIGA'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-8205000347624741054</id><published>2012-01-31T07:09:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:09:02.176-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH DUA</title><content type='html'>Langit biru yang menaungi pantai di wilayah Jakarta utara itu cerah. Biru kelabu. Asap pabrik dan kendaraan telah turut menghiasi langit di atas Jakarta entah sejak kapan. Seingat Anto, hari pertama dirinya menginjakkan kaki ke tempat ini bersama perempuan yang berdiri di sebelahnya kini, langit diatas sudah berwarna keabuan. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;“Kamu masih suka melihat langit?” perempuan di sebelahnya mengomentari pandangannya yang seperti menerawang memandang langit.&lt;br /&gt;“Suka lah. Masih. Cuma langit yang dapat membaca suasana hati kita. Atau kitalah yang sesungguhnya melukiskan perasaan di atas awan kapasnya?” Anto berkata tanpa melepas pandangannya dari langit.&lt;br /&gt;“Istrimu tahu kamu suka berpuisi?” kembali suara di sebelahnya bertanya.&lt;br /&gt;“Entahlah. Belakangan ini kulihat ia sering menulis sesuatu di laptop yang ada di ruang kerja rumah kami”&lt;br /&gt;“Kamu tidak menjawab pertanyaanku…”&lt;br /&gt;“Maksudmu?” Anto mencari penegasan. Wanita gemar mengajaknya berteka-teki pikirnya.&lt;br /&gt;“Yang aku ingin tahu apakah kamu sering mengirim puisi atau kata-kata indah untuk istrimu? Seperti yang kamu lakukan dulu padaku?”&lt;br /&gt;“Pentingkah itu buatmu?” Anto tidak ingin menjawab.&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;“Apa kabar Wirendra?”&lt;br /&gt;“Dia? Baik”&lt;br /&gt;“Mengapa aku tidak boleh menengoknya?”&lt;br /&gt;“Istrimu sudah menengoknya…”&lt;br /&gt;“Sekarang kamu yang tidak menjawab pertanyaanku…” Anto mendesah perlahan. Ia lelah dengan kebuntuan yang diciptakan oleh perempuan ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Santi, mulai sekarang kamu harus lebih memperhatikan kesehatanmu. Orang hamil itu tidak boleh sembarang meminum obat. Tidak semua obat pengurang rasa sakit, obat flu atau obat sakit kepala aman untuk wanita hamil. Dulu, ibu waktu hamil kakakmu pernah salah minum obat sekali. Dokter kandungan yang memeriksa ibu marah waktu itu. Salah mengkonsumsi obat selama hamil itu masalah serius, Nak…”&lt;br /&gt;Santi memperhatikan tiap patah kata yang diucapkan ibunya. Mencoba merasakan kekhawatiran orang yang melahirkannya. Wajahnya serius, tapi hatinya tersenyum. Meski penjelasan sang ibu terkadang seperti berlebihan, tapi di luar itu semua ia merasakan pelukan hangat dari tiap kalimat yang meluncur dari bibir sang ibu.&lt;br /&gt;Di hari kedua Santi tinggal di rumah ibunya, ia merasa dirinya sedikit demi sedikit diajak melihat berbagai hal yang dulu hanya tampak sebagai salah satu dari dua warna, hitam atau putih. Sekarang mereka menyatu, membaur dalam kombinasi indah yang menyejukkan hati. Suara ibunya yang dulu ditelinganya mirip dengan suara petir yang menyambar-nyambar, sekarang lebih mirip lantunan musik klasik yang menina bobokkan. Hormon yang diproduksi oleh tubuhnya saat ini membutuhkan belaian indah yang kini didapatnya dari sang ibu. Mereka kini lebih banyak berbincang bersama. Merangkum kenangan indah kala segalanya tampak begitu menakutkan. Bercanda ria sambil memasak makanan kesukaan mereka berdua. Perlahan perih didadanya terobati. Ia membutuhkan suasana disini. Kini Santi tidak punya keberanian untuk pulang.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;“Santi..,”ucap ibunya tepat di hari ke-5 dirinya menyegarkan pikirannya di rumah ibunya.&lt;br /&gt;“Kalau kamu belum siap untuk bercerita pada ibu tentang Anto, tidak apa-apa. Ibu bisa mengerti. Dulu ibu juga tidak selalu bisa berterusterang pada orang tua ibu. Itu hak kamu sepenuhnya, Nak”&lt;br /&gt;“Diluar itu semua, ibu ingin kamu mengerti bahwa tidak semua yang terlihat di depan mata kita, yang dapat kita rasakan secara langsung adalah yang sesungguhnya terjadi. Kehidupan di kota besar seperti Jakarta ini memang menghendaki segalanya berjalan dengan cepat. Akibatnya, tidak banyak orang mau memanfaatkan sebagian waktunya untuk merenung dan berdiam diri. Lebih tepatnya mereka tidak sempat. Itu awalnya. Lama kelamaan mereka menganggap tidak sempat itu sebagai sebuah kewajaran. Kewajaran yang akhirnya menjadi boomerang bagi kehidupan mereka sendiri. Kamu mengerti maksud ibu?”&lt;br /&gt;“Jadi apa yang harus aku lakukan?” Santi mencoba menelaah ucapan ibunya sambil menempatkan tiap bagian dari nasihat ibunya tadi dalam kehidupannya bersama Anto.&lt;br /&gt;“Pulanglah segera ke rumah. Sama seperti ketakutan yang mungkin muncul dalam dirimu waktu rumah ini mungkin membawa berjuta mimpi buruk bagimu, menghadapinya adalah hal terbaik yang dapat kamu lakukan”&lt;br /&gt;“Ibu tidak mengerti…,” ucap Santi lemah.&lt;br /&gt;“Ya. Ibu tidak mengerti. Ibu juga merasa kamu belum sepenuhnya mengerti. Banyak orang menyimpulkan hidupnya terlalu cepat, Santi… Ah, sudahlah, coba kamu renungkan sekali lagi hidupmu dan suamimu malam ini. Ibu mau merapikan tanaman yang sudah mulai tidak beraturan tumbuhnya di pekarangan depan” &lt;br /&gt;Santi mengikuti kemana ibunya pergi. Ia tak ingin sendiri. Tubuh dan jiwanya perlu pendamping saat ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Irma kini tak lagi identik dengan suasana kafe di dalam mal. Ia lebih suka meluangkan waktu menonton galeri lukisan dan membaca buku.&lt;br /&gt;“Aku merasakan suasana yang berbeda setiap kali berada diantara lukisan-lukisan minyak itu. mereka seolah bercerita padaku. Cerita yang mungkin hanya dapat didengar oleh orang-orang sepertiku. Manusia-manusia dari jenis tertentu, yang rela membiarkan dirinya larut dalam keheningan”&lt;br /&gt;“Begitu juga dengan membaca buku. Aku kini dapat merasakan setiap tokoh dalam buku yang aku baca bernyawa. Terkadang mereka mengajakku masuk ke dunianya. Bermain, bersenang-senang dan menangis bersama.”&lt;br /&gt;Kini Irma mengajak Santi mengobrol di taman kecil yang berada di bagian belakang rumah orang tua Irma. Ada kolam mungil dengan ikan mas koi di dalamnya. Gemericik air yang mengalir di kolam itu berpadu dengan kecipak sirip ikan di dalamnya menambah kenyamanan duduk berlama-lama disampingnya.&lt;br /&gt;“Kapan kamu akan pulang?”&lt;br /&gt;Kalimat yang meluncur dari mulut Irma barusan membuat Santi terbangun dari lamunannya.&lt;br /&gt;“Eh, uh, besok pagi mungkin”&lt;br /&gt;“Kamu masih berniat melanjutkan sisa hidupmu dengan Anto?” Ucapan Irma terasa menebas lehernya.&lt;br /&gt;Santi semula tidak berniat menceritakan kemelut keluarganya ke Irma. Semenjak Irma sulit dihubungi saat pikirannya kalut dan berniat meninggalkan rumah, Santi mulai membiasakan diri untuk menghadapi segala persoalan seberat apapun itu dengan dirinya sendiri. Tapi ia mengurungkan niatnya saat menyadari bahwa dirinya dan Irma entah bagaimana ditakdirkan mengalami kemelut yang serupa namun tidak sama. Serupa kalau melihat dampaknya dalam membuat luka di hati mereka masing-masing. Tak sama bila melihat orang ketiga yang hadir dalam kehidupan rumah tangga mereka.&lt;br /&gt;Tanpa ragu, Santi membeberkan semua kisah yang dialaminya mulai dari perkenalan dirinya dengan Ratri di facebook, hingga ajakan Ratri untuk menemui buah hati Ratri dan Anto di sebuah panti asuhan.&lt;br /&gt;“Makin hari aku makin bisa merasakan luka yang dialami oleh Ratri, Irma…”&lt;br /&gt;“Aku tidak mengira sama sekali lelaki yang aku nikahi selama ini ternyata seorang yang tidak berhati. Tiap malam, apa yang diceritakan Ratri padaku mengiang-ngiang di telingaku…”&lt;br /&gt;“Aku tidak mungkin melanjutkan kehidupanku dengan pria macam itu, Irma!”&lt;br /&gt;Irma memandang iba pada Santi. &lt;br /&gt;“Tapi kamu hamil”&lt;br /&gt;“Aku akan menghidupi anakku sendiri. Kembali bekerja dan menafkahi hidupnya hingga ia mandiri nanti. Cukup aku yang merasakan perih ini. Tidak dengan anakku. Ia berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” sahut Santi tegas.&lt;br /&gt;“Bukankah perpisahan dalam rumah tangga adalah hal yang ingin kamu hindari sejak awal menikah dengan Anto? Masalah yang kamu hadapi berbeda denganku, Santi. Ratri adalah masa lalu Anto. Banyak hal yang harus diklarifikasi dari kasus Ratri dan Anto. Anto bukan Bima yang ternyata gay,” Irma menampakkan ekspresi jijik ketika menyebut manusia jenis apa lelaki yang dinikahinya.&lt;br /&gt;“Ada banyak hal dapat ditoleransi, Irma. Dan sisanya adalah tidak”&lt;br /&gt;“Anto telah meninggalkan istri dan anaknya. Apapun itu alasannya!”&lt;br /&gt;Irma memeluk Santi.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Keduanya menghabiskan sisa hari itu di tepi kolam. Mendengar dan memaknai riak air yang tercipta dihadapannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-8205000347624741054?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/8205000347624741054/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-dua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8205000347624741054'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8205000347624741054'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-dua.html' title='DUA PULUH DUA'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-5158307684748428242</id><published>2012-01-31T07:04:00.001-08:00</published><updated>2012-01-31T07:04:42.120-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH SATU</title><content type='html'>Santi membuka matanya perlahan. Ia berada di sebuah ruangan bercat putih. Jendela kaca yang menghadap ke tempatnya berbaring saat ini juga tertutup korden putih.&amp;nbsp; Ruangan ini begitu hening dan dingin. Inikah dunia penantian dimana manusia yang sudah meninggalkan alam fana berkumpul untuk menunggu pengadilan terakhir? &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Santi mencoba menggerakkan jari-jarinya. Ia mencoba menggerakkan jari kaki dan tangannya satu per satu kemudian bersama. Masih terasa. Ia masih dapat merasakannya. Mungkinkah di alam penantian sekalipun manusia masih diberikan hak untuk merasakan segala yang ia dapat rasakan di alam fana? Seandainya boleh memilih, Santi memilih untuk tidak. Ia ingin merasakan tinggal di sebuah dunia yang berbeda. Bukan dunia yang baru saja menyajikan tontonan mengerikan atas nasib seorang teman baiknya. Bukan pula dunia yang menantinya mengambil keputusan untuk kembali ke pelukan suami yang telah mengaburkan arti dari sebuah kejujuran dimatanya.&lt;br /&gt;Seperti suara pintu terbuka. Santi melihat dua orang mendekatinya. Satu laki-laki dan satu perempuan. Yang laki-laki memakai seragam dokter berwarna putih, yang perempuan tidak. Wajah tamu perempuannya tidak asing lagi. Ia adalah perempuan terakhir yang dilihatnya sebelum pandangannya kabur kemudian gelap. Santi membentuk seulas senyum lemah kepada kedua tamunya. Ia masih di alam fana…&lt;br /&gt;“Santi, ibu sedang dalam perjalanan kemari,” Irma mendekatinya dan duduk di samping tempat tidurnya.&lt;br /&gt;“Ibu Santi baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Nanti setelah ibu cukup istirahat, saya akan berbicara lagi dengan ibu. Sekarang cobalah kembali beristirahat,” dokter yang menemani Irma berkata sambil berjalan perlahan menuju pintu. Membiarkan dua orang sahabat itu saling berbincang.&lt;br /&gt;“Kamu pingsan di taman tadi,” kata Irma.&lt;br /&gt;“Beruntung pasangan muda mudi yang bercengkerama di bawah pohon membantuku untuk mencarikan taksi dan membawamu kemari”&lt;br /&gt;Santi mengangguk perlahan dan berkata setengah berbisik,”Thank you.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian pintu kamar kembali terbuka. Dilihatnya sang ibu menyerbu masuk dan memeluknya. &lt;br /&gt;“Ibu khawatir sekali. Syukur Irma membantu membawamu kemari,” ibu berkata sambil mengatur nafasnya.&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaanya?” tanyanya sambil menatap Irma.&lt;br /&gt;“Nanti kalau Santi sudah lebih enak diajak bicara, saya diminta menghubungi dokter Ilham yang merawat Santi,” jawab Irma.&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Sekarang kita menunggu di luar saja dulu. Santi sepertinya masih ingin istirahat,” ibu mengajak Irma keluar kamar.&lt;br /&gt;Santi memandang salah satu telapak tangannya yang terhubung dengan selang yang berasal dari botol infus. Ia hanya pingsan biasa. Mungkin karena kelelahan. Dokter tadi bersikap agak berlebihan. Tapi entahlah, dia lebih mengerti kondisi dirinya. santi hanya berharap tidak ada masalah yang serius dengan kesehatannya.&lt;br /&gt;Ia memejamkan mata dan melanjutkan istirahatnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Anto sibuk menekan tombol angka di telepon genggamnya. Sedari tadi nomor yang dituju tidak kunjung diangkat oleh pemiliknya. Anto mulai gelisah. Setelah jam makan siang tadi, setelah nomor telepon Ratri Gunawan ditemukan oleh Yuli, asistennya, Anto kesulitan berkonsentrasi pada pekerjaannya. Ia sengaja meminta Yuli untuk menginformasikan kepada staff yang ingin bertemu dengannya bahwa ia sedang tidak dapat diganggu. Kecuali ada masalah yang sangat mendesak, Anto sungguh-sungguh sedang memerlukan waktu untuk menyendiri.&lt;br /&gt;Setelah 2 jam menunggu, setelah puluhan panggilan telepon dibuatnya, sebuah suara akhirnya menjawab panggilan teleponnya.&lt;br /&gt;“Halo!”&lt;br /&gt;“Ya halo…emm, Ratri disana?”&lt;br /&gt;“Bukan. Anda sepertinya salah sambung”&lt;br /&gt;Klik! Telepon dimatikan.&lt;br /&gt;Anto kesal. Nomor telepon rumah itu adalah andalan terakhirnya setelah dua buah nomor telepon genggam yang tertulis di balik kartu nama sebuah restaurant Padang itu gagal dihubungi karena sudah tidak aktif lagi.&lt;br /&gt;Kurang lebih 15 menit kemudian…&lt;br /&gt;Sebuah panggilan telepon masuk diterima oleh telepon genggam Anto.&lt;br /&gt;“Ya halo…” Anto menerima panggilan tersebut.&lt;br /&gt;“Maaf, Pak. Tadi bapak yang menelpon ke nomor ini mencari Ratri? Apakah yang Bapak maksud adalah Bu Ratri Gunawan? Putri Pak Gunawan yang sudah meninggal dunia?”&lt;br /&gt;“Ya. Betul,” secercah sinar harapan terlihat di mata Anto.&lt;br /&gt;“Saya mau memberi tahu kalau rumah ini sudah dijual ke orang tua saya oleh ibunya bu Ratri. Tapi saya dapat memberi Bapak nomor telpon rumah barunya”&lt;br /&gt;“Baik. Saya catat”&lt;br /&gt;Anto mengambil secarik kertas dan menuliskan nomor telepon yang diberikan.&lt;br /&gt;“Terima kasih banyak Pak”&lt;br /&gt;“Sama-sama. Panggil saja Mas. Saya putra pemilik rumah ini”&lt;br /&gt;“Terima kasih Mas”&lt;br /&gt;Anto tersenyum lega kemudian menutup teleponnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Pukul 8 malam. Wajah Santi terlihat lebih segar. Ia telah menelan beberapa butir vitamin pemberian dokter dan makan 2 porsi pudding dan sedikit nasi dengan semur daging yang disediakan pihak rumah sakit.&lt;br /&gt;Dokter yang merawatnya tersenyum menghampiri Santi. Membawa hasil test laboratorium atas air seni Santi yang dikumpulkan sebelum ia memasukkan makanan apapun ke dalam mulutnya tadi siang.&lt;br /&gt;“Seperti yang saya duga sebelumnya,” ujar sang dokter tenang.&lt;br /&gt;“Menduga apa, Dok?” Santi penasaran.&lt;br /&gt;“Dari pemeriksaan denyut nadi dan ultrasonography yang kami lakukan sebelum mendapatkan hasil test laboratorium…anda positif hamil. Selamat!”&lt;br /&gt;Santi tidak dapat berkata apa-apa. Dunia serasa runtuh dihadapannya. Kini ia benar-benar ingin dibangunkan dari tidurnya. Irma memandangnya sayu kemudian memeluknya. Ibunya sedang pulang mengambil sedikit pakaian ganti untuk Santi seandainya ia harus menginap di rumah sakit.&lt;br /&gt;“Selamat, Santi!” ujarnya lemah. Irma terlihat bahagia ditengah lelah tubuh dan jiwanya atas peristiwa naas yang tengah menimpanya.&lt;br /&gt;Jujur Santi ingin bahagia. Ia ingin bereaksi normal layaknya seorang calon ibu muda yang sedang dalam masa penantiannya akan kehadiran sang buah hati. Tapi apa yang dirasakannya kini bukanlah seperti yang diharapkannya. Ia tengah frustasi dengan pernikahannya. Menutup lembaran hidupnya dengan Anto tengah direncanakannya paling tidak dalam waktu 12 jam terakhir ini. Tidak. Tidak mungkin ini yang terjadi. Ia dan Anto memang menginginkan buah hati. Tapi itu sebelum ia bertemu dengan seorang Ratri Gunawan. Sebelum ia menemukan bahwa tonggak yang menyangga hidupnya dengan tiang pancang bernama kejujuran itu runtuh dihadapannya.&lt;br /&gt;Irma belum mengetahui yang dialaminya. Ia tentu mengira dirinya bahagia mendengar kabar ini. Andai Irma tahu…&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Santi menemuiku kemarin,” ujar suara di telepon itu. Suara yang begitu dicintainya. Dulu.&lt;br /&gt;“Seperti yang kuduga”&lt;br /&gt;“Ia wanita yang baik. Aku menghargai sikapnya. Siapapun yang berada di posisinya saat ini pasti melakukan hal yang sama,” lanjut suara itu.&lt;br /&gt;“Ratri…kamu tidak tahu dia begitu…”&lt;br /&gt;“Terguncang? Tentu! Sama seperti aku dulu,” suaranya berubah menjadi serak.&lt;br /&gt;Tak ada sepatah katapun terucap dari mulut Anto. Ia ingin berteriak.&lt;br /&gt;“Kamu…tolong berhentilah berbicara seperti itu padaku. Aku sudah cukup tersiksa”&lt;br /&gt;“Tahukah ia bahwa lelaki yang hidup bersamanya hanyalah sosok lemah yang mencoba-coba memimpin sebuah keluarga?” ujar Ratri datar.&lt;br /&gt;Anto menutup sambungan telepon tersebut. Dadanya panas oleh dendam masa lalu. Istrinya pasti telah menyangka dirinya seperti apa yang baru saja digambarkan oleh Ratri. Lemah. Tidak bertanggung jawab. Tidak! Ia harus menemui Santi sekarang. Tapi apa yang akan dikatakannya pada Santi? &lt;br /&gt;Tidak. Sebelum bertemu Santi, ada banyak hal harus ia luruskan terlebih dahulu dengan Ratri. Apapun itu hasilnya nanti, baru ia akan menemui Santi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-5158307684748428242?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/5158307684748428242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-satu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5158307684748428242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5158307684748428242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh-satu.html' title='DUA PULUH SATU'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-7707592228783003043</id><published>2012-01-31T07:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T07:02:18.561-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA PULUH</title><content type='html'>Santi memeluk teman setianya. Berusaha menenangkan luapan emosi yang tak kunjung padam. Ia sendiri belum dapat benar-benar memahami yang terjadi dalam hidupnya sebulan terakhir ini. Terlalu banyak. Terlalu bertubi-tubi. Kalau bukan karena harapan untuk merenda hidup yang lebih baik dari pada orang tuanya, mungkin Santi memilih untuk pergi meninggalkan semua kenangan yang menyisakan luka yang makin hari &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;makin dalam ini di hatinya. Mengadu nasib ke luar negeri dimana tidak ada seorang pun yang mengenal dirinya sebagai wanita penuh trauma yang masih saja dihujani cobaan hidup. Atau menyendiri di hutan belantara dan menanti kehidupan menghisap setiap denyut nadinya hingga akhirnya ia menyatu dengan alam.&lt;br /&gt;Wanita yang ada dipelukannya kini sesungguhnya menjalani roda kehidupan dengan cara yang berbeda dengan dirinya. Ia tak habis mengerti mengapa kehidupan rumah tangga temannya ini berakhir dengan cara yang menyedihkan. &lt;br /&gt;Irma. Seorang wanita istimewa di mata Santi. Apa yang tidak dimiliki Irma adalah sesuatu yang memang tidak diinginkan oleh wanita manapun. Irma lahir dan besar di keluarga berada yang terpelajar. Lingkungan yang membesarkan Irma adalah lingkungan ciptaan orang tuanya yang besar perhatiannya pada tumbuh kembang seorang wanita di kota besar. Sebelum memilih sekolah misalnya, kedua orang tuanya sejak dulu selalu sibuk berkonsultasi dengan psikiater ternama untuk memberi mereka pertimbangan sekolah mana yang baik untuk anaknya. Kemudian, sang psikiater akan melakukan test ini itu untuk mengetahui minat dan bakat sang anak. Setelah itu, semacam rapat akan dilakukan antara orang tuanya, sang psikiater dan bagian humas sekolah yang dituju. Sungguh sebuah sikap yang tidak tanggung-tanggung dalam membesarkan buah hati. Santi tidak pernah bisa membayangkan seperti apa rasanya mendapat perlakuan seistimewa itu. Segala keperluan sekolah hingga kuliah, mulai alat transportasi hingga perlengkapan sekolah, dapat dijadikan tolok ukur untuk sebutan ideal.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kini, wanita ideal itu sedang meraung-raung menangisi hidupnya. Santi yakin, Irma mengerti bahwa hidup itu tak dapat selamanya sesuai dengan apa yang direncanakan. Tapi, tidak juga berarti seperti yang dialaminya sekarang. &lt;br /&gt;“Kamu…kamu…ngga akan pernah mengerti apa yang aku rasakan, Santi…jangan, jangan pernah kamu mengalaminya,”ujarnya disela isak tangisnya.&lt;br /&gt;Santi tidak berkata apa-apa. Ia mencoba memahami yang dirasakan temannya ini. irma sedang tidak membutuhkan petuah apa pun. Bahkan satu patah kata darinya pun mungkin juga tidak. Irma hanya ingin di dengar. Irma hanya perlu seseorang yang mau duduk disampingnya dan mendengar kisahnya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Cuaca kota Jakarta masih saja tidak menentu. Pagi itu Santi mendapati dirinya bangun di sebuah kamar yang sangat ia kenal. Kamar dengan sebuah memori yang tersimpan di alam bawah sadarnya. Tempat dimana ia dapat melukiskan perasaannya dengan satu warna, yaitu hitam. &lt;br /&gt;Pohon mangga di pekarangan rumah itu sedang berbuah. Ia melihatnya dari jendela kamar. Dulu, ia kerap mencoba memanjat pohon itu. kadang sendirian, kadang bersama dua orang temannya. Pernah satu kali ia mencoba memanjat pohon mangga itu kala ia sendirian di rumah. Sesungguhnya tidak sulit memanjat pohon mangga. Ia bukanlah pohon dengan batang lurus tinggi sehingga memanjat memerlukan keahlian tertentu. Cabang yang terbentuk di pohon itu sangat memudahkan siapapun untuk bertengger diatasnya. Juga memudahkan pemanjatnya untuk berpegangan sehingga keseimbangan tubuhnya sewaktu memanjat lebih baik. Dan Santi berhasil waktu itu. Dengan bersemangat ia mengambil beberapa mangga yang sudah matang hingga ia kesulitan untuk membawanya turun. Melompat, tak mungkin. Membiarkan beberapa buah mangga yang ada di tangannya dijatuhkan terlebih dahulu, sayang. Akhirnya, ia memaksakan diri untuk turun sambil membawa semua buah mangga yang memenuhi kedua tangannya. Dan ya, ia terjatuh. Luka di kaki, tangan dan dahinya masih ada yang membekas hingga kini. Jangan ditanya betapa riuhnya perdebatan sengit antara kedua orang tuanya waktu itu. keduanya sama-sama mengkhawatirkan dirinya. dengan caranya sendiri-sendiri. Tanpa memikirkan betapa membosankannya mendengar adegan demi adegan penuh permusuhan yang selalu berhasil mereka ciptakan di hadapan Santi.&lt;br /&gt;Perlahan tapi pasti, potongan-potongan kenangan itu kembali hadir di hadapannya. Ia memandang embun yang perlahan jatuh dari ujung-ujung daun yang ada di pekarangan itu. Seandainya ia dapat memindahkan sebagian tanaman yang ada di pekarangan itu ke dalam hatinya, tetesan embun yang dilihatnya barusan pastilah mampu menghapus sedikit demi sedikit perih yang dirasakannya kini. Meski harus diakui bahwa rumah dimana ia berdiam diri ini telah menorehkan pengalaman pahit baginya, tetap saja ada kehangatan abadi yang selalu ditawarkan. Ia membutuhkannya kini. &lt;br /&gt;Segarnya udara pagi memaksa Santi untuk segera keluar dari kamar tempatnya menghabiskan tidur malamnya dan melangkahkan kakinya yang masih terasa kaku ke ruang tamu rumah tersebut. Memandang satu demi satu perabotan usang yang masih dipertahankan oleh sang pemilik rumah. Ibu memang tidak suka mengganti-ganti perabotan di rumah. Hanya beberapa foto, hiasan dinding dan perabotan yang dianggap milik ayahnya tidak ada jejaknya lagi.&lt;br /&gt;“Santi, sarapan sudah ada di atas meja. Ibu masak mie kuah kesukaanmu”&lt;br /&gt;Ibu masakkan mie kuah untukku? &lt;br /&gt;“Baik, Bu. Sebentar lagi…”ujar Santi sambil meregangkan kaki tangannya.&lt;br /&gt;Ibunya tersenyum melihat gerakan-gerakan senam yang dilakukan anaknya.&lt;br /&gt;“Memang begitulah yang seharusnya dilakukan tiap pagi agar elastisitas otot-otot kita terjaga”&lt;br /&gt;Ibu terlihat lebih menikmati hidupnya semenjak kepergian bapak dari rumah ini. bapak dan istri barunya tinggal di luar kota. Bukan di Jakarta. Mereka tidak dikaruniai anak. Kabar yang pernah sampai ke telinga Santi, istri baru bapak memang tidak menginginkan anak lagi. dua orang anak yang diperoleh dari suami pertamanya telah duduk di bangku kuliah. Istri baru bapak telah steril setelah melahirkan anak keduanya. Bersama bapak kini ia seperti pasangan muda yang baru saja menikah. &lt;br /&gt;Santi berbincang tentang segala yang berhubungan dengan kegiatan ibu sekarang di rumah di ruang makan. Sarapan pagi ini terasa begitu lezat dilidahnya. Saat ini beberapa bidang usaha telah digeluti ibunya semenjak pensiun. Mulai dari membuka tempat les bahasa Inggris bersama beberapa koleganya, hingga menyewakan ruko yang dibelinya waktu ia masih bekerja dulu dengan tujuan investasi. Ia keasyikan bertukar cerita dengan ibunya. Rumah yang dianggapnya menorehkan luka sekarang memberikan kesejukan tersendiri bagi dirinya. &lt;br /&gt;Ia ternyata memerlukan rumah ini. Seburuk apapun anggapan yang dibentuk oleh alam bawah sadarnya sendiri. &lt;br /&gt;“Sedang ingin refreshing dari kehidupan berumah tanggamu? Ibu tidak mengira kamu akan memilih tempat ini sebagai tempat tetirah,”ucapan ibunya membuat Santi gelisah.&lt;br /&gt;Ia berusaha menenangkan diri sebelum akhirnya berkata,”Aku rindu tempat ini. Rindu berada di dekat ibu.” Tanpa sadar, air mata membasahi pipi Santi. Mengalir deras bak mata air yang baru saja ditemukan oleh Ismail, putra Ibrahim. Tatapan ibunya dingin. Tanpa Santi sadari, wanita setegar gunung es dihadapannya ini telah membasahi penutup meja makan rumah itu dengan air mata yang tidak kalah derasnya dengan air mata yang tumpah dari matanya.&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat, seluruh perangkat makan dan perabotan yang ada di ruang makan itu menjadi saksi sebuah pelukan hangat antara ibu dan anak yang telah terpisah selama 2 tahun. Pelukan yang mencairkan kebekuan akibat rasa sangsi akan kasih sayang manusia yang selamanya mendamba dan terus mencoba untuk dikukuhkan. &lt;br /&gt;Tidak ada kata-kata. Seluruhnya lebur dalam derai tangis sekaligus tawa. &lt;br /&gt;Dering telepon genggam Santi yang menjerit-jerit meminta diperhatikan memecah kesunyian bahasa air mata ibu dan anak yang masih belum ingin melepas eratnya pelukan masing-masing.&lt;br /&gt;“Halo…” Santi menjawab panggilan teleponnya.&lt;br /&gt;Tidak ada jawaban.&lt;br /&gt;“Halo, dengan siapa saya bicara?”&lt;br /&gt;Sebuah isak tangis terdengar.&lt;br /&gt;“Maaf, siapa ini? Saya rasa Anda salah sambung…”&lt;br /&gt;Kemudian, sebuah jawaban terdengar,”Santi, ini Irma… Aku membutuhkanmu sekarang…”&lt;br /&gt;Isak tangis kembali terdengar.&lt;br /&gt;Santi segera meminta alamat Irma saat itu dan berjanji untuk menghampirinya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Tidak ada yang dapat dihindari, Santi. Aku cuma berharap ada seseorang yang masih mau mendengarkanku bercerita…”&lt;br /&gt;“Pasti, Irma…pasti…bicaralah”&lt;br /&gt;“Aku lama tidak bisa dihubungi…oleh siapapun…”Irma mengawali ceritanya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Karena memang tidak mungkin. Diriku yang membuatnya tidak mungkin. Tidak ada hal yang lebih memalukan dari pada yang aku alami sebulan belakangan ini”&lt;br /&gt;Siang itu matahari memang terik membakar kulit. Taman tempat Santi dan Irma bertemu terletak ditempat yang tidak ternaungi banyak pohon. Sesungguhnya, ada sebuah kursi yang terletak dibawah pohon yang cukup rindang. Tapi pasangan yang terlihat sedang dimabuk asmara rupanya telah memilihnya terlebih dahulu sebagai tempat bercengkerama. Akhirnya Santi dan Irma harus mengalah dengan menempati sebuah bangku kosong yang cukup bersih tidak jauh dari pohon rindang tadi. Sunglasses merk Louis Vitton bertengger di hidung Irma. Sesekali ia merapikan rambutnya yang telah diikat rapi tapi masih saja menyisakan helaian yang perlu dikibaskan karena dianggap mengganggu pandangannya. Sekali dua kali Irma mengibaskan rambutnya, Santi tidak melihat ada yang berbeda dengan bagian bawah matanya. Kali ketiga Irma melakukan hal yang sama, tanpa disengaja jarinya menyentuh bagian samping kaca mata gelapnya. Mengangkatnya sedemikian rupa sehingga sebagian kulit yang membalut tulang pipinya terlihat…biru! Santi menghentikan gerakan tangan Irma yang tanpa sengaja menyebab warna biru tadi terlihat.&lt;br /&gt;“Irma, apa yang terjadi!” Santi setengah berteriak.&lt;br /&gt;“Kamu melihatnya? Aku sudah berusaha untuk menutupinya,” suara Irma terdengar parau.&lt;br /&gt;“Banyak kisah terjadi belakangan ini,” Irma melanjutkan.&lt;br /&gt;Santi masih memandang takjub pada perubahan wajah temannya itu. Irma tak pernah membiarkan luka sedikit saja mengganggu wajah mulusnya. Tapi ini? &lt;br /&gt;“Sorry for interrupting. But I think you need to go to the doctor,” Santi menyela pembicaraan Irma. &lt;br /&gt;“Memar biasa. Aku tahu kapan aku mesti ke dokter,” sanggah Irma.&lt;br /&gt;Santi tidak menjawab. Ini bukanlah saatnya berdebat dengan Irma. &lt;br /&gt;“Facebook mempertemukan aku dengan seorang teman lama. Fiuhh…aku tahu bukan hanya aku yang mengalami hal semacam ini. Salah satu cinta pertamaku”&lt;br /&gt;Salah satu? Santi menelan ludah. Dalam kamus hidup Santi, cinta pertama itu hanya satu. Ini pasti efek dari banyaknya pria yang mengantri cinta Irma sehingga dirinya menempatkan lebih dari satu pria untuk disebut sebagai ‘cinta pertama’ nya.&lt;br /&gt;“Sebut saja Arman namanya. Aku tak ingin menyebut namanya lagi. Nama aslinya maksudku. Terlalu menyakitkan”&lt;br /&gt;“Ia mendekatiku dan menyatakan bahwa hingga kini ia belum juga menikah karena menantiku untuk kembali padanya. Seperti biasa, sejenak euphoria masa lalu mengelabuiku. Membutakan mataku sejenak akan berbagai kisah manisku dengannya kala duduk di bangku kuliah”&lt;br /&gt;“Hanya sebentar. Sebelum akhirnya ia memintaku untuk bertemu di sebuah kafe. Hanya bertukar cerita, katanya. Ia mengaku bekerja tidak jauh dari kafe tempat aku dan dia bertemu akhirnya.”&lt;br /&gt;“Kamu tidak akan mengira, Santi. Sungguh ini seperti dongeng. Tidak, bukan dongeng, tapi mimpi buruk”&lt;br /&gt;Dongeng, mimpi buruk atau apapun itu namanya begitu akrab di telinga Santi belakangan ini. Drama apa lagi yang akan hadir dihadapannya kini, ia tinggal menanti. &lt;br /&gt;“Kami bertemu akhirnya dan mengobrol selama kurang lebih 2 jam. Beberapa kali Bima mencoba menghubungiku selama aku berada di kafe bersama Arman. Tidak ada yang terjadi kecuali mengobrol biasa. Andai aku tau dengan siapa sebenarnya aku tinggal selama ini…”&lt;br /&gt;Belum ada yang terangkai di otak Santi hingga kini. Bima cemburu kah? Irma kehilangan kepercayaan Bima yang selalu tampak seperti malaikat bagi istrinya?&lt;br /&gt;“Bima tiba-tiba datang di kafe itu. Entah angin apa yang membawanya kesana. Ia memaki-maki aku. Mengatakan kalau aku istri yang tidak tahu diuntung. Aku rasanya ingin menampar mukanya waktu itu. Kalau saja bukan Arman yang mencegahnya. Kau tahu, aku tidak bermaksud kasar sama sekali. Tapi aku tidak pernah menerima perlakuan semacam itu. Aku shock, Santi”&lt;br /&gt;“Arman segera melakukan pembayaran di kasir agar ia dapat segera menyeretku keluar dari amukan Bima”&lt;br /&gt;“Kamu tahu Bima kan Santi? Ia bukan pria yang kasar. Tapi semua berubah sejak ia sering pulang malam. Kegiatannya di kantor bertambah seiring dengan meningkatnya level tanggung jawab yang diembannya. Awalnya aku kira ia hanya kelelahan. Tapi ternyata tidak…”&lt;br /&gt;“Waktu aku berlari menghindar dari Bima, kulihat Arman sempat bertengkar mulut dengan Bima. Seterusnya aku tak tahu. Aku hanya berusaha secepat mungkin menemukan taksi dan pergi dari tempat itu”&lt;br /&gt;“Kamu pulang ke rumah orang tuamu?” Santi mencoba menebak.&lt;br /&gt;“Ya”&lt;br /&gt;“Tapi malamnya Bima menelponku, meminta maaf atas kelakuannya. &lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Lalu, semuanya menjadi jelas bagiku. Hanya selisih sehari setelah kejadian di kafe itu”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Apa yang terjadi?” Santi makin gelisah. &lt;br /&gt;Ketegaran Irma buyar tiba-tiba. Pertahanan dirinya runtuh. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya ke mukanya, menggeleng-gelengkan kepalanya seolah ia ingin menolak semua kenyataan yang terjadi pada dirinya saat itu. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Santi mengerti Irma membutuhkan ketenangan jiwa untuk dapat melanjutkan kisahnya. Ia membiarkan waktu memberikan kekuatan pada temannya untuk mengeluarkan kalimat demi kalimat nanti…bila ia telah sanggup untuk memulainya.&lt;br /&gt;Pening di kepala Santi sejak 3 hari yang lalu belum juga sirna. Tiap pagi kepalanya terasa berat. Ia belum juga sempat untuk mengkonsultasikannya ke dokter. Santi berharap sore hari nanti dokter yang membuka praktek di dekat rumah ibunya dapat ditemui untuk menceritakan keluhan yang dirasakannya 3 hari terakhir ini.&lt;br /&gt;Kotak tissue ditangan Irma hampir kosong. Isinya telah berubah menjadi gumpalan-gumpalan kusut yang dipenuhi warna bedak campur foundation dan lipstik. Irma tak perduli dengan penampilannya lagi. Semua make up mahal yang dipulaskan ke wajahnya seolah turut merasakan kepedihan yang melukai sang empunya wajah. Mereka meluruh perlahan. Tak mampu lagi mempertahankan kebahagiaan semu yang selama ini telah dilakukannya dengan sempurna.&lt;br /&gt;“Bima, Santi. Bima benar-benar berubah! Atau aku yang selama ini tidak mampu mencium gelagat buruk itu,” suara Irma makin parau.&lt;br /&gt;“Hanya selisih sehari semenjak ia memohon-mohon padaku untuk kembali ke rumah dan melanjutkan kehidupan rumah tangga kami…ia mulai memukulku…”&lt;br /&gt;Santi limbung mendengarnya. Tangannya berpegangan erat pada pinggiran bangku yang mereka duduki. Keringat dingin mulai menjalari tubuhnya.&lt;br /&gt;“Santi are you ok?” &lt;br /&gt;“I am ok. Just go on…” Santi yakin dirinya mampu bertahan mendengarkan kisah Irma lebih lama lagi. di situasi semacam ini, ia tidak pantas mementingkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;“Itu terjadi malam hari. Sesaat sebelum kami tidur. Bima kembali mempermasalahkan kepergianku dengan Arman. Aku kira semuanya sudah selesai. Menurutnya belum. Ia memintaku untuk menceritakan apa saja yang terjadi sebelum ia datang. Apa saja yang aku dan Arman lakukan semenjak kami bertemu lagi di facebook. Aku bilang taka da yang terjadi. Pertemuan kami waktu itu adalah pertemuan pertama kami. Bima bilang aku tidak mau mengaku…”&lt;br /&gt;“Kami bertengkar hebat hingga akhirnya ia menamparku sampai aku terjatuh…,” Irma kembali terisak.&lt;br /&gt;“Ia tidak berhenti sampai disitu. Bima bilang kalau Arman mengakui telah bertemu denganku beberapa kali dan kami telha kehilangan kendali beberapa kali. Melepaskan rindu yang tak terungkap lewat kata-kata di sebuah kamar hotel. Itu tidak benar, Santi! Kau tahu aku tidak sebodoh itu! Cerita tidak berhenti sampai disitu…”&lt;br /&gt;“Malam itu aku tidur di kamar yang disediakan untuk tamu dengan pintu terkunci. Aku ingin pergi dari rumah itu. Lari dari Bima yang kesetanan dan mengarang-ngarang cerita tidak benar. Tapi tidak mungkin. Waktu itu pukul 11 malam. Terlalu berbahaya kalau aku dengan wajah babak belurku berkeliaran di jalan raya sendirian. Aku memilih untuk tidur dengan kamar terkunci. Menjaga segala kemungkinan serangan Bima lagi. Keesokan harinya aku terbangun kesiangan. Tarno, supir kami, sudah pergi mengantar Bima ke kantor. Surti, sedang mengepel rumah. Ia melihatku keluar kamar tidur tamu dengan heran. Aku tidak mungkin bercerita padanya. Kukemasi barang-barangku sebanyak mungkin. Ya, hampir semua pakaian kecuali yang sedang dicuci kumasukkan ke dalam koper besar, sebagian ke dalam kardus. Aku harus pergi. Aku tidak mungkin bertahan di rumah itu”&lt;br /&gt;“Di tengah jalan, aku minta supir taksi untuk menghentikanku di sebuah mal untuk mengambil uang di ATM. Saat itu jam istirahat makan siang. aku minta supir taksi mampir ke sebuah ATM drive thru di daerah Sudirman. Aku tidak mungkin meninggalkan koper dan barang-barang bawaanku terlalu lama. Selesai mengambil uang d ATM, aku melihat pemandangan yang benar-benar tidak pernah terlintas di kepalaku sebelumnya. Kenyataan yang aku alami ini begitu pahit”&lt;br /&gt;Santi merasakan pandangan matanya seperti didatangi ratusan kunang-kunang yang menari-nari didepannya. Ia tak yakin mempu bertahan. Pakaiannya telah basah oleh peluh yang makin lama makin terasa dingin di tubuhnya. Tapi Santi tak lagi mampu berkata. Tubuhnya kaku. Begitupun bibirnya. Mungkin akibat terlalu lama menahan rasa pening yang menusuk-nusuk kepalanya.&lt;br /&gt;Meski demikian, kalimat Irma yang terakhir sebelum pandangannya benar-benar gelap masih terekam di ingatannya.&lt;br /&gt;“Aku…aku melihat Bima berjalan berduaan dengan Arman. Mereka terlihat akrab. Begitu akrab hingga sebuah adegan tertangkap oleh mataku yang tengah terbelalak. Mereka berdua memasuki mobil Arman yang terletak tak jauh dari tempatku berdiri, dan berciuman di dalam mobil…”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-7707592228783003043?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/7707592228783003043/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/7707592228783003043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/7707592228783003043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-puluh.html' title='DUA PULUH'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-2158537529429465257</id><published>2012-01-31T06:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T06:58:10.305-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>SEMBILAN BELAS</title><content type='html'>Anto menemukan rumahnya dalam keadaan sepi. Tidak seperti biasa. Pukul 8 dirinya baru tiba di rumah sepulang kerja. Ipah, pembantunya, mempunyai kebiasaan tidur sebelum pukul 9 malam. Selesai menutup garasi dan pintu pagar untuk Anto, ia langsung masuk ke kamarnya. Anto menangkap keheningan kala memasuki ruang keluarga. Dilihatnya televisi yang sehari-hari menemani dirinya dan Santi merenung sendirian. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Anto mengira Santi sudah tidur. Tidak mungkin ia berada di kamar kerja, tempat dimana Santi terkadang melepas jenuh dengan membuka-buka situs internet. Dia tidak ada disana. Anto melihat lampu kamar tersebut mati. Saat dirinya menaiki anak tangga yang menuju kamar tidurnya, dirinya dapat mendengar anak-anak tangga itu berderak saat diinjak. Apakah biasanya anak tangga ini memang menimbulkan bunyi setiap kali diinjak? Anto sangsi dengan dirinya sendiri. Kini, ia pun sangsi dengan pendengarannya. Mungkinkah ia sedang berhalusinasi? Ia berusaha mengingat-ingat apa saja yang masuk ke dalam perutnya seharian ini. Adakah sesuatu membuat dirinya seperti sekarang ini? &lt;br /&gt;Kamar tidurnya kosong. Anto berusaha tenang ditengah keganjilan yang tengah ia rasakan. Setelah meletakkan tas kerjanya di dalam kamar tidur, ia segera turun dan memanggil Ipah. Ia tahu Ipah kemungkinan sudah terlelap. Tapi ia tak perduli. Ia memerlukan jawaban yang tak dapat ditunda.&lt;br /&gt;“Ibu kemana?”ujarnya pada Ipah.&lt;br /&gt;“Tadi sore ibu pergi naik taksi. Ibu ngga sms bapak?”&lt;br /&gt;“Ngga, Pah. Ibu bilang pergi kemana?”&lt;br /&gt;“Ngga bilang, Pak. Ibu bawa koper tadi…”&lt;br /&gt;“Koper? Koper yang besar?”&lt;br /&gt;“Iya”&lt;br /&gt;Anto kalut. Tanpa bertanya lebih banyak lagi pada Ipah, ia berlari menuju kamar tidurnya. Dan benar. Hampir semua pakaian Santi tidak ada lagi di dalam lemari pakaian. Koper besar yang dimaksud juga tidak ada di tempatnya.&lt;br /&gt;Spontan dirinya ingin bertanya. Tapi pada siapa? Tidak mungkin kepada kedua orang tuanya ataupun orang tua Santi. Apa jadinya kalau ternyata Santi tidak ada disana? Mereka akan menyalahkan dirinya. Seorang suami yang tidak tahu menahu kemana istrinya pergi adalah lelaki yang tidak dipercaya oleh keluarganya. Tidak. Anto tidak ingin itu terjadi. Ia tidak menyimpan nomor telepon genggam Irma yang baru. Yang lama saja kalau Santi tidak memaksanya untuk menyimpan, ia tidak pernah ingin menyimpannya. Di saat seperti ini Anto baru merasakan betapa dirinya berjarak dengan kehidupan yang mengitari istrinya. Teman kantor Santi yang cukup dekat setahu Anto adalah Tamara. Tapi terakhir Santi bercerita, Tamara telah pindah ke luar negeri untuk mengambil gelar Master disana. Ugh! Anto tidak mungkin diam menanti kabar. Kalau kabar baik yang diterima…kalau buruk?&lt;br /&gt;Anto sibuk berjalan mondar-mandir sambil berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan. Melapor ke polisi tidak akan membantunya. Polisi tidak menerima laporan kehilangan kurang dari 24 jam. Dan lagi, istrinya tidak hilang, tapi pergi. Pergi tanpa sepengetahuannya. Ia menyesal telah menceritakan perihal Ratri kepada Santi. Namun menurutnya, kebohongan tidaklah ada gunanya di situasi seperti kemarin. Saat istrinya bertanya dengan antusias perihal masa lalunya. Setiap orang punya masa lalu. Santi mestinya menanggapinya secara wajar. Toh, tidak ada yang berubah dari dirinya. ia tetap mencintai Santi seperti yang telah terjadi kini. Mengayuh bahtera rumah tangga bersama.&lt;br /&gt;Di tengah kekalutannya, sebuah sms diterima oleh telepon genggamnya. Santi! Sms dari Santi! &lt;br /&gt;Aku di rumah ibuku. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Garang asem oleh-oleh bu Wirya sudah aku makan. Kamu benar, aku memang belum bisa memasak seenak itu. Tolong lanjutkan hidupmu seperti biasa. Aku belum tahu kapan akan pulang ke rumah.&lt;br /&gt;Anto merasa ada yang tidak beres dengan redaksi kalimat Santi barusan. Itu memang gaya bahasanya. Tapi ia tidak akan seketus itu jika hanya karena pengakuan Anto kemarin. Santi bahkan masih bisa tersenyum tipis selama mendengarkan cerita Anto tentang Ratri. Sementara sms Santi kali ini melukiskan lebih banyak luka, kecewa, dan sakit hati. Anto ingin tahu sebabnya. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sayang, istri Rinto menitipkan kue buatannya lagi ke aku. Kue kesukaanmu.&lt;br /&gt;Anto memandang sms yang ia kirim ke telepon genggam Santi pagi tadi. Sekarang jam dinding di kantornya telah menunjukkan pukul 12 siang. Belum ada jawaban dari Santi. Anto berharap dalam kekalutan seperti apapun, Santi tidak mengambil sikap yang drastis, seperti berbohong kepadanya tentang keberadaannya di rumah ibunya, ataupun nekat kabur dari rumah ibunya hari ini. &lt;br /&gt;Bohong? Ia lah yang berbohong pada Santi. Kue yang diberikan Rinto padanya hari ini sengaja dipesannya untuk menarik minat Santi pulang ke rumah. Naïf kelihatannya. Tapi itulah yang ada dipikirannya saat ini. Mungkin sejatinya ia memanglah senaif itu. Kemarin, saat Santi menanyakan tentang Ratri, pikirannya melayang ke beberapa tenggat waktu dimana dirinya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Di kantor, ia sempat dipergoki anak buahnya sedang tersenyum sendiri. Ah, cinta pertama itu…tidak salah kalau sekian banyak lagu dan kisah legendaris mengambil tema cinta pertama. Cinta pertama tidak selalu dapat teraih. Cinta pertama lebih kepada pemberian sensasi yang mungkin sulit untuk dilupakan. Kini lembaran baru bersama Santi telah dibuka. Santi memang bukan cinta pertamanya. Tapi Santi lah yang membuatnya merasa mempunyai tempat tersendiri dalam hidup berumah tangga, dengan caranya sendiri. Dan kini, wanita yang memberinya kehidupan baru itu pergi. Anto berharap kejadian tadi malam hingga kini hanyalah mimpi. Seseorang harus dapat membangunkannya dari mimpi buruk ini.&lt;br /&gt;Selama jam istirahat, Anto terus tinggal di ruang kerjanya. Beberapa tawaran makan siang diluar kantor ditolaknya. Dengan alasan sedang kurang enak badan. Ia khawatir raut mukanya lebih nampak sebagai lelaki yang tengah kalut dengan masalah ketimbang karena kurang enak badan. &lt;br /&gt;Anto memilih untuk menyibukkan diri di meja kerjanya. Mengaduk-aduk deretan kartu nama yang ada di album kartu nama, kotak kartu nama, dan bahkan di dalam dompetnya. Yang dicari tak kunjung ia temukan. Ia makin penasaran. Seingatnya, nama dan nomor telpon yang sedang dicarinya tertulis di balik sebuah kartu nama rumah makan. Catatan itu memang telah membatu bila diukur dari usia kartu-kartu nama yang tersusun rapi di mejanya. Tapi Anto merasa yakin bahwa ia masih menyimpannya. &lt;br /&gt;Anto berdiri dan menghampiri Yuli, asistennya. Mungkin Yuli tahu atau paling tidak pernah melihat kartu nama itu. Dibalik kesan cuek yang selalu ditampilkannya, menurut Anto, Yuli adalah sosok yang yang dapat dipercaya dalam hal mengingat-ingat tempat, nomor telepon, dan nama orang. Ia adalah pujaan hampir setiap manajer yang membutuhkan data-data customer yang pernah berhubungan dengan department dimana Anto dipercaya untuk memegang kendali. Ia juga menyimpan beberapa kotak kartu nama Anto yang sudah tidak muat lagi di letakkan di mejanya. &lt;br /&gt;“Yul, di kotak kartu namamu ada kartu nama rumah makan Rajo Minang, ngga?”&lt;br /&gt;“Bapak mau pesan makanan? Bukannya biasanya ke Salero Bundo?” ujar Yuli mengingatkan.&lt;br /&gt;“Bukan mau pesan makan, Yul, lagi cari nama sama nomor telpon yang tertulis di balik kartu nama itu…”ujar Anto kesal.&lt;br /&gt;“Ohh…catatan nomor telpoooonn…sebentar ya Pak,” Yuli mulai sibuk membuka kotak kartu nama simpanannya.&lt;br /&gt;“Boleh tahu nama yang Bapak cari? Ada beberapa kartu nama rumah makan padang disini. Siapa tahu Bapak lupa nama rumah makannya…”&lt;br /&gt;Anto melihat ke kanan kirinya sebentar, sebelum akhirnya membisikkan sebuah nama kepada Yuli,”Nama yang saya cari Ratri Gunawan…”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-2158537529429465257?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/2158537529429465257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sembilan-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2158537529429465257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2158537529429465257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sembilan-belas.html' title='SEMBILAN BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-8259824988115380373</id><published>2012-01-31T06:56:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T06:56:26.043-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DELAPAN BELAS</title><content type='html'>Lipatan kertas berisi alamat lengkap Ratri masih ada di tangannya. Santi terkantuk-kantuk di dalam taksi yang membawanya menuju alamat yang diberikan Ratri padanya melalui kotak pesan di facebook.&lt;br /&gt;Rumah nomor 18. Santi mencoba mengurutkan rumah-rumah yang dilewatinya. Sederet rumah bernomor ganjil terletak di deretan sebelah kiri. Nomor genap di deretan sebelah kanan. Perumahan yang didatanginya &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;adalah kompleks perumahan pegawai pemerintah yang telah dijual kepada swasta. Suasana yang sejuk dan nyaman menandakan bahwa perumahan ini tentunya tidak dijual dengan harga yang rendah. Udara segar yang dibutuhkan oleh paru-paru manusia kini telah menjadi faktor penentu harga perumahan di Jakarta. Meski seolah-olah dapat dihirup begitu saja, tapi sesungguhnya ia memiliki nilai nominal tertentu yang belum jelas perumusannya.&lt;br /&gt;Sopir taksi memperlambat laju kendaraannya. Nomor rumah yang dituju sekarang ada di hadapan Santi. Dalam keadaan seperti ini, keinginan untuk bertemu dan membatalkan pertemuan adalah sama besarnya. Santi memutuskan untuk bertahan pada pilihan awalnya, yaitu untuk bertemu dengan Ratri. &lt;br /&gt;Rumah nomor 18 ini berwarna coklat. Pagarnya sebagian dari besi, sebagian lagi dari tanaman pagar yang dipangkas rapi. Santi menangkap kesan aman pada perumahan ini. tidak ada rumah dengan pagar tinggi. Termasuk rumah yang ada di hadapannya. &lt;br /&gt;Seorang wanita separuh baya membuka pintu garasi dan menghampiri Santi. &lt;br /&gt;“Cari siapa, Bu?”ujarnya.&lt;br /&gt;“Bu Ratri ada?”&lt;br /&gt;“Ohh…ada, Bu. Mari, silakan masuk. Maaf ibu siapa?”&lt;br /&gt;“Nama saya Santi”&lt;br /&gt;Seorang wanita cantik dan lembut menghampiri Santi. &lt;br /&gt;“Maaf, ibu dari mana?”&lt;br /&gt;“Saya Santi…”&lt;br /&gt;“Santi…sia…”&lt;br /&gt;Belum lagi ia sempat menanyakan lebih jauh, Santi segera menyahut,”Saya Santi, istri Anto…Anto Wirya Atmadja.”&lt;br /&gt;Kalau bukan karena kalimat yang Santi lontarkan barusan benar-benar membuatnya shock, mungkin Santi tidak pernah tahu bahwa wanita di hadapannya kini sedang memegang sebuah majalah. Majalah itu jatuh di lantai dan menimbulkan bunyi.&lt;br /&gt;“Mmm…maaf…maaf, tangan saya basah, jadi licin…cover majalah ini terbuat dari bahan yang juga sama licinnya,” jawabnya sambil berusaha menjaga senyum di wajahnya.&lt;br /&gt;“Tidak apa,” kata Santi.&lt;br /&gt;“Silakan duduk, Mbak. Aduh, maaf berantakan, belum sempat beberes,”ujarnya sopan. Wanita dengan kadar kelembutan seperti dirinya hampir selalu dianugerahi kemampuan berbasa-basi diatas rata-rata wanita pada umumnya.&lt;br /&gt;Wanita lembut yang berhadapan dengannya kini sudah sering ia lihat wajahnya di layar laptop miliknya. Tak salah lagi. Kini ia hampir tiba di ujung penantiannya. Penantian akan sebuah jawaban dari teka-teki kehidupan berumah tangganya. Puzzle yang sibuk disusunnya kini akan menemukan kepingan-kepingannya sendiri. Ia yakin itu. &lt;br /&gt;Santi dan Ratri berhadapan cukup lama dalam diam. Mata mereka tidak saling bertemu. Santi menanti sebuah kata sambutan baginya. Seorang tamu yang baru pertama kali bertandang tentunya layak mendapatkan kata sambutan. Ratri menunjukkan reaksi ramah dan berwibawa meskipun masih saja terlihat kebingungan mesti memulai percakapan dari mana.&lt;br /&gt;“Mbak Santi tahu rumah ini dari mana? Tahu saya juga dari mana?”&lt;br /&gt;“Dari facebook mbak,”ujar Santi dingin.&lt;br /&gt;Keadaan kembali hening.&lt;br /&gt;“Jadi…”&lt;br /&gt;“Saya..”&lt;br /&gt;Ratri dan Santi berbicara bersamaan. Kemudian Ratri mempersilakan Santi berbicara duluan.&lt;br /&gt;“Saya hanya ingin berkenalan,” kata Santi.&lt;br /&gt;“Emm…begitu…”&lt;br /&gt;“Dan tentunya juga ingin mengenal mbak lebih dekat,”ujar Santi sedikit nekat.&lt;br /&gt;Ratri berkali-kali membetulkan posisi duduknya kemudian bertanya.&lt;br /&gt;“Apa kabar Anto? Mmm…maksud saya, Anto dan mbak Santi”&lt;br /&gt;“Panggil saya Santi saja”&lt;br /&gt;Berikutnya, pembicaraan antara Santi dan Ratri kecuali tentang kegemaran, kota asal, berapa jumlah anak, makanan kesukaan dan lain-lainnya yang tidak menyentuh tentang Anto sama sekali. Tidak, memang belum waktunya, Santi berkata dalam hati.&lt;br /&gt;Kemudian, saat yang dinanti Santi akhirnya tiba.&lt;br /&gt;“Mbak Santi berteman dengan saya ya di facebook? Saya pelupa orangnya. Dan lagi, jumlah teman di facebook saya sudah lebih dari 400 orang. Banyak yang saya tidak ingat”&lt;br /&gt;Mestinya ia tahu kalau ia hanya memberikan alamat rumahnya pada Anto, gumam Santi dalam hati. Santi belum ingin berterusterang dengan pemalsuan identitas Anto oleh dirinya. Tapi dapatkah ia memperoleh apa yang ingin diketahuinya dari Ratri bila ia tidak jujur? Santi tak ingin lama berbasa-basi seputar kehidupan sehari-hari mereka. Yang dilakukan Ratri dalam kesehariannya adalah seperti yang dilakukan dirinya dan mungkin sebagian besar wanita penduduk kota ini. Tidak ada yang istimewa. Ia ingin segera memulai percakapa penting sebelum kemudian penciumannya menangkap aroma masakan yang pernah akrab dengannya. Aroma masakan khas Jawa Tengah kesukaan suaminya. &lt;br /&gt;“Mbak sedang masak? Maaf kalau saya mengganggu,”ujar Santi kikuk.&lt;br /&gt;“Iya, tadi. Tapi tidak apa, pembantu saya sudah membantu menyelesaikannya”&lt;br /&gt;Santi makin jengah. Aroma masakan kesukaan Anto tak mungkin menguar begini di hadapannya. Hidupnya belakangan ini sudah cukup dipenuhi oleh kejutan demi kejutan. Dan sekarang? Ugh!&lt;br /&gt;Santi tak ingin lagi banyak menimbang-nimbang dan merencanakan ucapannya pada wanita di hadapannya ini.&amp;nbsp; Dadanya benar-benar sesak.&lt;br /&gt;“Saya yang menggunakan akun Anto di facebook”&lt;br /&gt;“Saya yang selama ini membaca dan membuat status atas nama dirinya. Bahkan saya juga yang membuat akun tersebut”&lt;br /&gt;“Anto tidak pernah ada di alam maya. Ia hanya ada di alam nyata. Suami saya, yang tinggal di rumah kami berdua”&lt;br /&gt;Santi melihat ekspresi Ratri yang pucat pasi. Entah apa yang ada dipikirannya. Santi tidak mengira kata demi kata meluncur deras dari bibirnya dari awal hingga akhir pengakuannya. &lt;br /&gt;“Tapi saya bukan seperti wanita lain yang menginginkan anda menyingkir dari kehidupan suami saya. Saya ingin tahu apa yang terjadi sesungguhnya dengan anda dan suami saya di masa lalu. Kalau anda ingin tahu untuk apa, saya melakukan ini agar tidak ada keraguan dalam diri saya untuk melanjutkan biduk rumah tangga kami. Saya dan Anto!” ucap Santi dengan tenang dan tegas.&lt;br /&gt;Ratri menghela nafas panjang, menutup matanya dan mulai terisak.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi kini kembali berada di dalam taksi. Tapi ia tidak sendiri. Ada Ratri disebelahnya. Mereka berdua menuju satu tempat yang dimana Ratri akan mulai menceritakan masa lalunya dengan Anto. Santi tidak keberatan pergi bersama Ratri tanpa ia tahu kemana sebenarnya tujuan dari perjalanan ini. Pulang dengan tangan hampa ke rumah akan membuat kepalanya semakin sakit dari hari ke hari. Anto yang menjadi makin jarang berkomunikasi dengannya membuat jurang antara dirinya dan suaminya melebar. Ia harus segera menyudahi semua ini. &lt;br /&gt;Ratri hanya diam sepanjang perjalanan. Sesekali ia mengusapkan sapu tangan ke bagian bawah mata dan hidungnya. Mungkin ia tidak membayangkan sama sekali kejadian ini akan menimpa hidupnya. Seorang istri memalsukan akun suaminya. Sang suami adalah mantan kekasihnya. Orang yang telah sekian lama dinanti kehadirannya olehnya. Orang yang ternyata tidak pernah dapat ia temui mungkin untuk selamanya. Karena kehadirannya palsu. Ia hanyalah sebuah nama yang terukir dengan manis di hati Ratri. Santi membayangkan, seperti itukah perasaan Ratri saat ini?&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan…&lt;br /&gt;“Berhenti disini, Pak!” Ratri meminta sopir taksi untuk menghentikan laju mobilnya.&lt;br /&gt;Setelah melakukan pembayaran, Ratri mengajak Santi turun dan memasuki sebuah gang sempit dengan tembok tinggi di kanan kirinya. Gang itu bermuara pada sebuah lapangan bermain yang cukup luas. Sekitar 100 meter persegi. Di seberang lapangan itulah rumah yang ingin kami tuju.&lt;br /&gt;Sebuah rumah sederhana dengan papan yang bertuliskan ‘Panti Asuhan Melati Putih’.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi melihat Anto disana. Berseragam sekolah lusuh. Ia sedang mengais-ngais tanah di halaman belakang panti asuhan tersebut. Santi sungguh tak mengira, inilah penutup kisah yang sedang dinantinya. Anak itu. Anak laki-laki dalam balutan seragam sekolah nan lusuh itu. Ia melihat sorot mata, rambut, hidung dan oval wajah suaminya. Kecuali alisnya. Anak laki-laki ini memiliki kombinasi wajah yang lebih lembut ketimbang suaminya. Alis yang menghias matanya melengkung rapi seperti alis wanita yang berdiri di sebelahnya kini.&lt;br /&gt;Santi limbung berhadapan dengan anak laki-laki ini.&lt;br /&gt;“Jadi, ini anak Anto, s-s-suami saya?” Santi gemetar menyebut nama seorang pria yang dinikahinya kurang lebih 2 tahun yang lalu. 2 tahun mungkin memang waktu yang teramat singkat. Terlalu singkat bahkan untuk sebuah kejujuran. Santi selama ini merasa dirinyalah yang harus berjuang mati-matian untuk dapat menjadi orang lain. Untuk dapat selalu tersenyum bahagia dalam gelimang duka. Untuk selalu berkata ‘ya’ dan menyetujui segala yang menjadi ‘keharusan’ dalam sebuah pernikahan. Untuk mempertahankan predikat menikah itu sendiri. Untuk menghapus gelisah akan masa lalunya. &lt;br /&gt;Ia hadir didunia untuk mengganti kehilangan orang tuanya akan sosok kakaknya. Berjuang dan bertahan sendiri dalam kemelut pertikaian orang tuanya yang tak berkesudahan. Mencoba melawan segala dogma yang terus dipaksakan oleh kedua orang tuanya yang selalu berada di kubu yang berlawanan. Ia tak mampu melepaskan diri. Suara hatinya kadang memberinya sedikit kesejukan. Memberinya harap bahwa di suatu masa ia akan bertemu dengan seorang yang akan menaungi hidupnya. Memeluknya dalam gelap. Pertemuannya dengan Anto dirasa Santi sebagai jawaban. Meski dalam kenyataannya, sekian banyak pertanyaan justru bergaung ditelinganya kini. Menanti berjuta kalimat yang bukan hanya sekedar jawaban, tapi sebuah pengakuan tulus.&lt;br /&gt;“Aku dan Anto menikah diam-diam,”katanya masih dengan mata berkaca-kaca. Santi hanya sanggup berdiri mematung di sebelah Ratri. Pandangannya tak bisa lepas dari kegiatan anak kecil pendiam yang sibuk bermain sendiri di hadapannya. Tapi telinganya mendengarkan tiap patah kata yang keluar dari mulut Ratri dengan seksama.&lt;br /&gt;“Kami menikah setelah Anto tahu aku hamil”&lt;br /&gt;Kalau bukan karena Santi bertemu langsung dengan anak Ratri saat ini, mungkin Santi masih mengira Ratri membual. Bisa saja anak Ratri itu adalah anak dari ayah tirinya yang diceritakan oleh Anto. Bukan dari suaminya. Tapi Santi lebih percaya pada Ratri kini. Wajah anak itu yang berbicara padanya. Jujur, tanpa selubung apapun.&lt;br /&gt;“Pernikahan kami tidak dihadiri orang tuaku dan orang tuan Anto. Ayahku sudah meninggal waktu itu. ibu sedang sibuk dengan suami barunya yang ternyata berhidung belang itu. Kelakuan suami baru ibuku itu aku jadikan alasan untuk kabur dari rumah dan tinggal di rumah teman yang mau menampungku yang sedang hamil 2 bulan waktu itu di Surabaya.”&lt;br /&gt;Hmm…Malaysia terlalu jauh, Anto, bisik Santi dalam hati.&lt;br /&gt;“Aku melahirkan didampingi Anto waktu itu. Kami sangat berbahagia meski tidak tahu bagaimana akan menghidupi anak ini”&lt;br /&gt;“Setelah hidup dua bulan dengan hanya mengandalkan tabungan kami berdua, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan percetakan dengan mengandalkan ijazah SMU. Kebetulan percetakan itu adalah milik temanku. Teman aku dan Anto sewaktu SMU. Ia banyak berjasa dalam hidup kami berdua waktu itu”&lt;br /&gt;“Aku dan anakku tinggal di Surabaya. Menghilang dari keluargaku yang terus mencariku. Aku minta bantuan Anto untuk mengabarkan bahwa aku tinggal di Malaysia dan bekerja disana. Aku juga meminta ibuku untuk tidak mencariku. Aku yang akan memberinya kabar secara berkala. Saat itu ia sudah berpisah dari suami barunya.”&lt;br /&gt;Ohh…ternyata Anto mendapat ide tentang kepergian Ratri ke Malaysia dari sini.&lt;br /&gt;Santi merasakan kepingan puzzle kahidupan suaminya mulai menampakkan bentuknya perlahan.&lt;br /&gt;“Anto awalnya masih sering mengirimkan uang untukku dan anakku di Surabaya. Tapi, selang setahun semenjak aku menitipkan pesan untuk keluargaku, ia tidak dapat lagi dihubungi. Ia seperti lenyap ditelan bumi. Aku berusaha menanyakan keberadaannya kepada teman-teman kami dulu. Tapi tak satupun dapat memberi keterangan yang jelas. Aku tidak datang ke rumah orang tuanya. Aku tidak mau mengemis meminta belas kasihan dengan membawa cucu mereka ke rumahnya. Mereka pasti akan malu sekali. Aku mencintai Anto lebih dari apapun. Aku tidak ingin orang tuanya merasa punya menantu yang suka memeras mereka.”&lt;br /&gt;Ratri mengambil jeda sejenak. Ia kemudian menenggak air putih di dalam botol yang dibawanya dari rumah.&lt;br /&gt;“Terlebih kalau mereka mengetahui bahwa darah dagingnya sendiri ternyata bisu dan tuli”&lt;br /&gt;Santi tidak lagi bisa terkejut. Kejutan dari sengatan listrik berapa volt yang mampu membuatnya melonjak, ia tak tau. Perasaannya kebas sekarang. &lt;br /&gt;“Sejak Anto menghilang, aku tidak pernah tau lagi kabarnya. Kalau saja bukan karena akun palsunya di facebook”&lt;br /&gt;“Wirendra untuk sementara waktu aku sekolahkan disini. Di panti asuhan ini, sampai aku mendapatkan sekolah yang lebih baik.”&lt;br /&gt;“Oya, kalau kamu heran dari mana aku bisa dapat uang untuk membangun rumah yang aku tempati sekarang, itu rumah warisan ibuku. Beliau sudah meninggal sekarang.”&lt;br /&gt;Baik Santi maupun Ratri kini sama-sama memandang anak yang bernama Wirendra itu dari kejauhan. Dari tempat mereka duduk di sebuah bangku yang menghadap taman kecil di bagian belakang panti asuhan itu. Mencoba untuk tidak hanya memandang dengan mata, tapi juga dengan hati. Karena itulah yang diperlukan anak laki-laki itu saat ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi memanfaatkan waktunya yang sempit sesampainya di rumah untuk mengepak sebagian pakaian dan barang-barang keperluannya yang lain. Ia membutuhkan udara segar. Sesak didadanya dapat meledak tidak karuan seandainya ia harus berhadapan dengan seorang yang telah menyematkan duri beracun dalam dirinya. Santi belum memutuskan tempat yang akan ia tuju sampai seluruh barang yang akan dibawanya masuk kopor.&lt;br /&gt;Setelah ia merasa siap, ia memanggil Ipah dan mengatakan bahwa dirinya perlu membawa beberapa contoh barang ke rumah Irma. Ipah juga dimintanya memanggilkan taksi yang kebetulan lewat karena menunggu taksi pesanan memerlukan waktu lebih lama biasanya. Ia harus segera meninggalkan rumah ini. Rumah harapannya. Tempat dimana ia dengan segenap hatinya berusaha untuk terus mengisi segala kekosongan yang masih saja ada di tiap sudutnya. Tapi sekarang hatinya beku. Bila sesuatu yang dianggapnya kebahagiaan itu sudah dipenuhi dengan kepalsuan, untuk apa ia menghabiskan umurnya untuk menanti. Di saat seperti ini keinginannya hanyalah pulang ke sebuah rumah dimana ia dapat meringkuk di sebuah sudut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-8259824988115380373?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/8259824988115380373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/delapan-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8259824988115380373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8259824988115380373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/delapan-belas.html' title='DELAPAN BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-1933786894018072254</id><published>2012-01-19T14:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T14:51:24.627-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>TUJUH BELAS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Gerimis mengguyur Jakarta sejak pagi. Santi memandang tetesan air yang jatuh dari langit itu dengan wajah pucat dari balik jendela kamarnya. Beberapa minggu ini hujan yang membasahi tanah di kotanya terjadi di akhir pekan. Langit seperti ingin memahami keinginan manusia-manusia yang kelelahan bekerja selama seminggu akan sejuknya udara pagi yang basah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Pagi ini dirinya terbangun dalam keadaan kurang enak badan. Tubuhnya terasa lemas. Ia berusaha menggerak-gerakkan badan, kaki dan tangannya seperti gerakan senam pagi. Kapan terakhir dirinya berolah raga, ia sudah tidak ingat. Kegiatan manusia seusianya mungkin dalam beberapa hal terasa dilematis. Sewaktu sebagian besar waktunya habis di tempat kerja, keluhan akan banyaknya pekerjaan terasa sangat membebani. Tapi harus diakui bahwa setiap pagi dirinya seperti selalu mendapatkan energy tambahan untuk memulai aktifitas. Gerakan-gerakan semacam olah raga ringan kerap dilakukannya. Sepeda statis di rumahnya tidak pernah berhenti dikayuh walau hanya sekitar 5 menit. Dan sekarang, setelah waktu dan kesempatan yang luas tergenggam di tangannya, dirinya justru jarang melakukan aktifitas yang membuat otot-ototnya elastis seperti dulu. Rutinitas yang selama ini dibentuk dan dijadwalkan dengan bantuan deadline dan target, kini tak lagi ada. Yang ada adalah waktu yang berlalu dengan beragam kegundahan yang tertimbun perlahan.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto keluar dari kamar mandi dan memandang istrinya yang sedang melamun menatap gerimis di luar rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Mau jalan-jalan hari ini?”sapanya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Kalau kamu mau, aku temani,”jawab Santi lemah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Aku nggak ada rencana ke mana-mana sih. Just in case kamu mau jalan-jalan aja,”ujar Anto kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi tidak menjawab. Segudang pertanyaan menghantui dirinya. Tentang Ratri. Juga tentang Anto. Semenjak dirinya menjelma menjadi suaminya di dalam jejaring sosial facebook, ketenangan batin makin jauh dari hidupnya. Mungkin benar apa yang dikatakan Irma tentang resiko keputusannya waktu itu. Keputusan untuk mendua di facebook. Menjadi dirinya sendiri dan menjadi Anto. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Kok malah diterusin melamunnya?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi terkejut, tidak mengira suaminya memperhatikannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ngga kok, ngga apa-apa. Kita di rumah aja ya Sabtu ini. Aku lagi kurang enak badan. Malas mau kemana-mana”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ohh…udah minum vitamin?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Udah, kemarin pagi”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Mau aku pijitin?”ujar Anto khawatir melihat kondisi istrinya yang seperti kehilangan semangat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ngga usah. Aku mau tidur lagi aja”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ok kalau gitu. Selamat tidur, Sayang,”Anto mengecup kening Santi sebelum akhirnya meninggalkan kamar tidur mereka berduadan menuju ruang keluarga untuk menonton tv.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi kini sendiri di kamarnya. Ia gelisah. Ia membolak balikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas ranjang. Bagaimana ia akan memulai sebuah ajakan berterusterang akan sebuah masa lalu pada Anto. Siapkah dirinya untuk bertanya pada Anto sekarang? Menundanya adalah memperpanjang resiko ketidaktenangan dirinya. Tapi dari mana ia harus memulai? Pikiran Santi makin kusut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi teringat sebuah pesan singkat di dalam kotak pesan Anto di facebook yang berasal dari Ratri. Ratri menanyakan nomor telepon genggam Anto. Santi tidak menjawab. Belum. Dan memang tidak mungkin ia memberikannya pada Ratri disaat semuanya belum jelas begini. Ataukah ia sebaiknya mengorek penjelasan lebih dalam lagi dari Ratri? Tapi Ratri dengan mudah akan curiga. Anto boleh lupa satu dua hal tentang masa lalunya dengan Ratri. Tapi tidak mungkin melupakan hampir keseluruhan kisahnya dengan Ratri. Itu tidak masuk akal. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya nanti kepada Ratri akan terlihat bodoh. Santi menarik-narik rambutnya sendiri. Ia kesal. Merasa seperti memasuki jalan buntu. Bukan. Ini jurang. Jurang yang menganga di depan matanya. Siap memberinya tantangan untuk terjun bebas ke dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Baiklah, sepertinya memang tidak ada jalan lain, gumam Santi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto terdiam tiba-tiba ditengah percakapannya dengan Santi di depan tv. Sepertinya ia terkejut dengan pertanyaan yang Santi lontarkan. Pertanyaan yang hanya terdiri dari 3 buah kata. Siapa Ratri Gunawan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Darimana kamu tahu tentang dia?”Anto terlihat berusaha tenang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Tolong jangan anggap penting dari mana aku tahu tentang dia. Aku menanti jawabanmu,”jantung Santi berdebar kencang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Penting untukku tahu”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Anto, aku mohon…berceritalah terlebih dahulu”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Baiklah…”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi benar-benar dapat bernafas lega sekarang. Sejenak kelegaan penting sebelum ia kembali harus bersiap-siap menghadapi kenyataan yang bisa jadi lebih menghujam jantung pertahanan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Kalau waktu itu aku diminta untuk memilih siapa yang berada disampingku saat aku mendengar penuturan Anto tentang masa lalunya dengan Ratri, mungkin aku tak dapat menyebutkan sebuah namapun. Ini sulit. Sesulit kenyataan masa kecilku dulu kala aku terpaksa menyadari bahwa keberadaanku di dunia ini hanyalah sekedar pengganti kakakku yang hilang. Ia lah yang selalu dinanti oleh orang tuaku. Bukan aku. Siapa menurutmu yang pantas mendampingiku, yang akan memberikan bahunya untuk kuhujani dengan air mata? Kamukah itu, catatan harianku? Mungkin ya, sepertinya memang Cuma kamu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto berdehem berulang kali dengan wajah kusut sebelum menceritakannya padaku. Hatiku tidak tenang melihat perubahan tingkah lakunya. Siapapun aku rasa akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan. Aku merasa sangat terbebani waktu itu. Padahal belum juga Anto menyebutkan satu kalimat, perutku rasanya sudah memproduksi asam lambung lebih banyak daripada biasanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Dan potongan-potongan kisah Anto kemudian mengalir masuk telingaku.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘kamu mau aku mamulainya dari mana’ katanya. ‘harusnya kamu lebih tahu’ kataku. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘ia…ia…benar, ia kekasihku’. Kepalaku mulai terasa ditekan oleh sebuah kekuatan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto bercerita bahwa ia dan Ratri resmi menjadi sepasang kekasih waktu mereka sama-sama duduk di bangku kelas 3 SMU. Benar, mereka satu sekolah. Juga benar, mereka sengaja mengikuti ekskul yang sama agar semakin banyak waktu yang dapat dilewatkan bersama. Mendengarnya saja sudah cukup menyayat hatiku. Meski berikutnya, ternyata cerita Anto dan Ratri tidak sesederhana itu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto menyukai Ratri semenjak SMP. Hmm…tidak aneh. Aku saja merasakan semacam membutuhkan Budi lebih dari sekedar teman sejak SD. Menurut Anto, waktu itu cintanya bertepuk sebelah tangan. Ratri hanya menganggapnya teman biasa. Mereka bersekolah di SMP yang berbeda. Tapi terletak bersebelahan. Kurang lebih 3 tahun, yaitu semenjak kelas 3 SMP hingga kelas 2 SMU Anto memendam cintanya pada Ratri. Aku tertegun mendengarnya. Cinta Anto ternyata bertahan selama itu hanya terhadap satu perempuan. Sementara wajah Anto terbilang tampan. Yang jelas diatas standart rata-rata pria yang pernah aku temui. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Kuakui Ratri pantas mendapatkan cinta terpendam itu. Wajah yang muncul di profil facebooknya menjelaskan itu semua. Tulang pipi yang tinggi, sorot mata yang menawan, kulit kuning langsat dan bibir indah yang sungguh proporsional dengan bentuk wajahnya. Penampilannya sederhana tapi menawan. Dari foto-foto yang diupload oleh Ratri di profil facebooknya, dapat dibaca bahwa ia bukanlah wanita yang mendamba pujian dari orang lain. Yang sengaja mengupload beberapa atau bahkan banyak foto dalam berbagai gaya untuk sekedar memperoleh perhatian. Kalau boleh aku jujur, saat Anto menceritakannya, aku lebih banyak merasa cemburu terhadap karakter Ratri yang tampil baik dari penggambaran Anto terhadap dirinya ataupun dari kesan yang ditimbulkan dari profil facebooknya. Bukan karena kedekatannya pada suamiku dahulu…mungkin hingga kini…aku tak tahu.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Aku menaruh minat pada setiap kalimat yang terlontar dari mulut Anto ketika ia bercerita tentang Ratri, untuk sebuah alasan yang sulit aku jelaskan. Aku membutuhkan kejujuran Anto saat ini. Untuk sementara itu saja yang dapat aku terjemahkan sebagai bagian dari rasa penasaranku atas hubungan mereka.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘sejak kapan kalian berpisah dan mengapa’ kataku.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto kesulitan menjawab. Aku tahu itu. Ia diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata bahwa ia sebenarnya menjadwalkan sebuah janji bertemu dengan bengkel langganannya untuk melakukan perawatan rutin yang penting bagi mobil kami yang setiap hari harus bekerja keras menghadapi kerasnya jalanan di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Kalau itu maumu, terserah’ aku tak tahu harus berkata apa.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ia bergegas naik tangga menuju kamar tidur untuk berganti pakaian. Tak lama aku melihatnya turun masih dengan pakaian rumahnya yang tadi. Lalu katanya…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Ternyata besok pagi jadwal service nya, bukan hari ini. Kalau paksa kesana juga penuh bengkelnya’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Aku hanya bisa tersenyum sambil mengangguk perlahan. Apa yang ada di pikirannya saat itu? Sedemikian bingungkah dia dengan kejutan yang datang dariku hari ini? Aku membaca sebuah gelagat salah tingkah dari dirinya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Aku mendekatinya yang sekali lagi berjalan menuju tangga rumah, entah untuk apa kali ini. aku menggamit tangannya dan berkata ‘Aku mau cerita tadi kamu lanjutkan. Aku siap mendengarkan’.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Benarkah?’ katanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Ya’ jawabku.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi menghentikan ketukan jemarinya di atas keyboard laptopnya sejenak. Tubuhnya masih terasa lemah. Nafsu makannya sedikit menurun beberapa hari ini. ia mengambil segelas susu dan meminumnya. Susu rendah kalori yang selalu tersedia di lemari pendingin itu berhasil memulihkan sedikit tenaganya. Kembali ia menuju kamar dimana tubuh dan jiwanya dapat saling bercakap-cakap melalui tulisan. Menutup pintu kamar tersebut kemudian kembali menulis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto mengakui, perjalanannya mendapatkan cinta Ratri tidaklah mudah. Meski Ratri telah mengirimkan sinyal seperti yang ditransmisikan Anto selama ini kepadanya, mereka tidak dapat begitu saja menjadi sepasang kekasih. Kurang lebih 3 sampai 4 pria menaruh perhatian yang sama pada Ratri. Sementara Ratri juga belum begitu mengenal Anto, ia sengaja mengambil jarak pada semua pria yang mendekatinya. Seperti membuat sebuah sayembara untuk memperlihatkan kesabaran dan kesetiaan masing-masing padanya. Singkat kata, Anto lah pemenangnya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ratri adalah siswi berprestasi di sekolah dulu. Ia juga putri tunggal sebuah keluarga berada. Ayah Ratri adalah pengusaha rumah makan yang cukup sukses, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Kehidupannya yang nyaman dan kecukupan kasih sayang membuatnya menjadi pribadi yang menyenangkan bagi hampir semua orang. Hingga suatu saat ayah Ratri yang menjadi tulang punggung keluarga meninggal dunia akibat serangan jantung. Keadaan ekonomi keluarga Ratri yang semula tenang berubah drastis. Saat itu Ratri masih duduk di bangku kuliah semester awal. Aset berharga milik ayahnya entah bagaimana dapat dikuasai hampir seluruhnya oleh pamannya yang dikemudian hari harus berurusan dengan aparat hukum. Rumah yang ditempati Ratri dan ibunya hanyalah satu-satunya asset ayah Ratri yang masih dapat diselamatkan oleh ibunya. Selebihnya tidak dapat lagi diandalkan untuk menjadi sandaran hidup. Ditengah goncangnya keadaan ekonomi keluarganya, ibu Ratri menikah lagi dengan seorang pria mapan yang memiliki usaha event organizer untuk berbagai acara mulai dari perkawinan sampai dengan peragaan busana.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Semua orang menyandarkan sebuah harapan indah pada hidupnya. Terlebih saat sebuah kehidupan baru telah dibuka. Namun ternyata kebahagiaan belum dapat dimiliki oleh Ratri saat itu. Pria yang menikahi ibunya menaruh hati pada Ratri, anak tirinya sendiri. Pada suatu malam yang kelam, Ratri harus menentukan apakah dirinya bersedia menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang menikahi ibunya atau pergi dari rumah yang telah membesarkannya sejak lahir. Dan ia memilih pergi. Sepucuk surat dialamatkan ke alamat rumah Anto. Surat itu mengatakan dirinya akan mencoba mengadu nasib ke negeri tetangga, Malaysia bersama seorang temannya yang telah lebih dulu tinggal dan menetap disana. Tahun pertama sejak kepergian Ratri, Anto masih sering menerima surat darinya. Sekedar mengabarkan bahwa ia baik-baik saja dan akan segera pulang ke Jakarta begitu perusahaan tempatnya bekerja membuka cabang di Jakarta. Ia berjanji itu tidak akan lama. Kerjasama antara Malaysia-Indonesia untuk bidang usaha komunikasi sudah cukup baik. Dan akan lebih banyak dikembangkan lagi dengan dibukanya cabang dari perusahaan tempat Ratri bekerja itu di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto menanti. Bukan satu atau dua tahun setelah surat yang mengabarkan tentang rencana kepulangan Ratri. Tapi lebih. Hingga waktu akhirnya menelan segala kenangan Anto terhadap keberadaan Ratri di hatinya. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Kamu mencarinya waktu itu? menanyakan pada orang-orang dimana Ratri tinggal di Malaysia?’ tanyaku. Sebuah janji untuk setia telah terpatri di benak Anto dan Ratri. Tidak akan dapat menguap begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Ya. Bahkan sampai Malaysia’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Hebat’ kataku.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Lalu apa yang kamu dapat?’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;‘Aku cuma memperoleh keterangan kalau ia sudah meninggalkan Malaysia’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Bagaimana dengan temannya yang mengajak ke Malaysia?’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Ia pun tidak tahu kemana Ratri pindah. Pada temannya, ia pernah menyebut-nyebut Bali adalah tempat dimana ia ingin menghabiskan sisa hidupnya. Tapi tak ada yang tahu alamatnya di Bali. Aku tak tahu lagi kemana mesti mencarinya.’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;‘Sekarang ia dapat kau temui, Anto’&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Anto diam saja. Aku tahu perasaannya. Pasti sulit sekali menerima kenyataan bahwa wanita yang pernah dicintainya dengan tulus, yang membuatnya menanti hingga ia selesai kuliah tiba-tiba hadir di tengah-tengah rumah tangganya. Di tengah lingkungan cintanya yang baru. &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Menuliskan kisah Anto dan Ratri seperti menuliskan kisah cinta dalam dongeng. Tapi ini bukan dongeng. Ini adalah kisah tentang suamiku, lelaki yang telah berjanji dalam hidupnya akan mendampingiku baik dalam keadaan suka maupun duka. Sekali lagi ini bukanlah dongeng.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi mengambil obat penghilang rasa sakit di dalam kotak obat. Ia menenggaknya dengan segelas air putih, kemudian membuka lemari pendingin. Garang asem yang dibawa Anto untuknya masih utuh di kotak plastiknya. Santi ingin menanyakan satu hal pada Anto mungkin besok pagi sebelum Anto berangkat kerja. Sebuah pertanyaan yang mungkin akan dianggap sebagai pertanyaan terbodohnya kepada Anto sepanjang hidupnya. Ia hanya ingin bertanya, dapatkah Ratri memasak garang asem kesukaan Anto ini seenak masakan ibunya? Apapun jawaban Anton nanti, ia tahu hatinya masih belum lagi selesai untuk terluka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-1933786894018072254?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/1933786894018072254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tujuh-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1933786894018072254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1933786894018072254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tujuh-belas.html' title='TUJUH BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-5635351042524558822</id><published>2012-01-19T14:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T14:46:53.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>ENAM BELAS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;setelah sekian lama kumenunggumu…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;hari-hariku dipenuhi oleh kenangan indah tentangmu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Pandangan matanya menatap tajam ke layar laptop dihadapannya, sementara jemarinya menggerakkan tombol scroll yang ada di mouse perlahan ke bawah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mengapa baru sekarang, harusnya dulu…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Mengukir namamu di anganku adalah hal terbaik yang ingin tetap aku lakukan sampai sekarang&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ia menduga, wanita yang status-statusnya di facebook sedang ia baca ini adalah wanita yang romantis. Dan sepertinya sedang jatuh cinta. Dilihat dari usianya yang sama dengan suaminya, ia tidak mengerti mengapa wanita ini mengungkapkan perasaannya layaknya seorang mahasiswi atau malah siswi sebuah SMU.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Chat room diujung kanan bawah berkedip. Ratri Gunawan. Nama yang juga tercantum di atas semua status-status nan romantic yang sedang dibacanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi sesungguhnya malas ngobrol dengan Ratri. Malas karena harus selalu memposisikan dirinya sebagai suaminya, dan malas karena ia tidak mengenal Ratri. Ia hanya ingin tahu sedikit saja tentang asal usulnya, pendidikannya, pekerjaannya sekarang, dan suami atau mungkin anaknya kalau sudah ada. Semua itu bisa didapatnya di profil Ratri Gunawan. Tidak ada yang perlu dibicarakan dengannya. Untuk apa? Tapi toh akhirnya Santi mengklik chat room yang terus berpendar menanti gerakan tangannya mengarah ke sana dan menekannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Hai!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Hai juga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Sibuk hari ini?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Tidak juga&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Mmm…boleh ngobrol&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Masak bisa bilang ngga boleh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Terus terang aku kagum dengan perubahan yang terjadi pada diri Anto Wirya Atmadja. Cowok pendiam yang lebih sering duduk di kursi depan mendengarkan bu guru ternyata bisa ngobrol begini juga akhirnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi mendengus perlahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Apa kabar hari ini?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi merasa caranya menyapa sungguh basi. Tapi biarlah, perduli apa dia dengan perempuan satu ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Baik. Baik sekali.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Kamu tinggal dimana sekarang? Udah punya anak berapa?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Aku tinggal di Jakarta. Jakarta Selatan lebih tepatnya. Anak belum ada…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Sama donk. Aku juga di Jakarta Selatan. Kapan-kapan boleh main dong&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Boleh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Kamu bener masih single?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Nggak lah…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Kok di relationship masih single?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Masak sih?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi segera mengecek di bagian info profil Anto. Ratri benar. Ia belum mengubahnya dari ‘single’ menjadi ‘merried’.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ya ampuuun…sori, belum di update&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Ngantor di daerah mana? Sudirman?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Di kuningan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Mulai lagi deh keliatan nih sifat Anto yang asli…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Maksudnya?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Fiuhh…pertanyaan bodoh terlanjur dikirim olehnya keluh Santi. Mestinya ia tidak usah menanyakan maksud dari sifat-Anto-yang-asli. Ia sudah tahu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Maksudku, kamu masih seperti dulu&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Seperti waktu kita masih bersama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Di kelas yang sama maksudku…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Bersama? Lalu diperbaiki menjadi Di kelas yang sama… Naluri Santi merasakan sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Ok, Santi, sekarang waktunya kau mencari tau.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Aku belum lupa&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Saat kita masih bersama…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Lama tidak ada balasan. Hingga akhirnya…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;;’)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sebuah emoticon terharu. Hmm…Santi makin yakin untuk terus memancing Ratri mengungkapkan lebih banyak lagi fakta tentang Anto yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Banyak hal yang sudah kita lalui bersama&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Seperti misalnya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Selalu makan berdua tiap jam istirahat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi makin penasaran. Pancingannya mengenai sasaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Nonton berdua paling tidak sebulan sekali&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Lalu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Kamu lupa? &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Nggak, nge-tes kamu aja&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt; ekskul juga bareng&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Masih ingat guru ekskul kita yang kurus tinggi dan murah senyum itu?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Masih lah…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Aku bertemu dia kemarin. Masih sama seperti dulu. Hanya rambutnya saja yang mulai memutih. Ia menanyakan apa kita jadi menikah…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Deg. Kali ini Santi benar-benar dibuat enggan untuk bertanya lebih lanjut. Nyalinya ciut. Ternyata perempuan yang satu ini lebih berani dari yang diduga. Atau ada yang dorongan kuat dari dalam dirinya untuk melakukan ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi berpamitan sesopan mungkin dengan wanita yang baru dikenalnya ini. Wanita yang sudah lama dikenal oleh suaminya. Santi memang tak lama berpacaran dengan Anto. Hanya setahun lebih sekian bulan. Untuk ukuran pasangan muda angkatannya, masa pacarannya dengan Anto terhitung singkat. Lalu, siapa wanita ini? apakah Anto merasa tidak perlu menceritakan hal ini pada dirinya? Ia juga tidak bercerita tentang perasaannya pada Budi. Tapi Budi sama sekali bukan kekasih Santi. Santi hanya memendam perasaan yang lain padanya. Tanpa keinginan untuk memiliki. Bahkan sampai sekarang, saat ia menemukan dirinya sebagai masa lalu yang selalu dinanti oleh Budi. Setelah mereka kembali bertemu. Sementara Ratri… Santi yakin dirinya tidak salah lihat tadi. Ratri menulis tentang ‘menikah’. Kata-kata yang sakral bagi telinganya. Bukan hanya pacaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi ingin menceritakan yang baru saja dialamnya pada Irma. Ia menekan no telepon genggam Irma. Nada sambung berbunyi. Hingga nada sambung usai, suara Irma sama sekali tidak terdengar. Santi mencoba menekan sekali lagi no telepon Irma. Kembali hanya nada sambung. Ia tidak selalu mempercayai pendapat Irma. Tapi ia memerlukan Irma untuk sekedar mendengar. Teman baiknya yang satu itu adalah pendengar yang baik. Namun kali ini Santi harus menghadapi gundah jiwanya sendiri. Ia tak tahu mengapa Irma tak kunjung dapat dihubungi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Rinto tadi titip ini,”Anto membuka tas kerjanya dan mengeluarkan stoples mungil yang masih terbungkus plastik bening dari dalamnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Oleh-oleh buat Santi, katanya. Dari istrinya Rinto,”meski senyumnya sedikit canggung, Santi tahu Anto bermaksud memberinya kejutan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Wow! Baik sekali Rinto dan istrinya,”Santi mengembangkan bibirnya membentuk seulas senyum. Ia berharap Anto tidak membaca ekspresi wajahnya yang kaku, tidak seperti Santi yang sedang menerima kue kacang kesukaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Sampaikan salamku untuk mereka berdua besok ya”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Tanpa Santi sadari dirinya melewatkan begitu saja bibir Anto yang seperti biasa berusaha mengecup pipinya. Mengambil jarak beberapa centimeter dari bibir Anto yang mendekat kemudian memalingkan wajahnya dan berlalu. Stoples berisi kue kacang pemberian istri Rinto masih ditangannya. Ditimang-timang sambil tersenyum. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Kapan istrinya melahirkan?”ujar Santi tiba-tiba.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Mungkin satu setengah bulan lagi kata Rinto”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Kamu kapan melahirkan?” Anto berkata sambil memeluk Santi dari belakang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi merasakan bibir Anto menyentuh lehernya. Ia tahu suaminya membutuhkannya malam ini. Ia juga sadar bahwa dirinya membutuhkan Anto malam ini. Tidak hanya malam ini harusnya. Namun adakah manusia dapat menebak kehendak Ilahi?&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-5635351042524558822?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/5635351042524558822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/enam-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5635351042524558822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5635351042524558822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/enam-belas.html' title='ENAM BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-8587483574464680631</id><published>2012-01-19T14:43:00.001-08:00</published><updated>2012-01-19T14:43:23.146-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>LIMA BELAS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Apa kabar, Anto…&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi ragu menjawab sapa wanita di seberang sana yang sepertinya teman lama suaminya. Pagi ini, ia memutuskan untuk menerima saja friend request dari seorang yang bernama Ratri Gunawan tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada Anto. Anto terlihat terlalu lelah semalam. Dan ia mesti berangkat &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;pagi-pagi hari ini. Biarlah aku terima saja ajakan pertemanan wanita ini. Siapa tahu Anto malah curiga kalau aku tiba-tiba menanyakan siapa wanita ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Kabar baik&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi berusaha mengira-ira sendiri apakah jawabannya cukup pantas dan tidak terkesan kaku. Tapi seandainya terkesan kaku itu wajar, pikirnya. Anto bukanlah pria yang luwes berbicara melalui sarana tulisan seperti ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;Aku tidak mengira sama sekali kita akan bertemu disini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Cukup emoticon senyum saja, pikir Santi. Terlalu banyak kata dapat membuatnya terjebak dalam ketidaktahuan. Sementara nalurinya terusik untuk mengetahui lebih banyak tentang wanita ini. Karena ia terlihat antusias bertemu dengan suaminya di facebook.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Setelah menunggu sekian detik…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;lagi kerja ya? Maaf ya ganggu. Lanjut nanti sore atau besok pagi aja…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;seneng banget bisa ketemu kamu lagi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Iya nih, lagi agak sibuk&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&amp;gt;tahuu..makannya aku pamit&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-font-family: Calibri; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-char-type: symbol; mso-hansi-font-family: Calibri; mso-hansi-theme-font: minor-latin; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-char-type: symbol; mso-symbol-font-family: Wingdings;"&gt;J&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ok, see u…&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Keesokan harinya pukul 8 pagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi berusaha berfikir rasional. Bertemu dengan teman lama di facebook pastilah excited. Yang dilakukan wanita yang bernama Ratri ini cukup wajar rasanya. Santi merasakan hal sama saat berjumpa lagi dengan beberapa teman lamanya waktu itu. Ia berusaha membunuh rasa curiga dalam dirinya yang seolah merasakan setiap huruf yang ditulis oleh Ratri untuk suaminya. Huruf-huruf itu seperti menyampaikan sebuah kerinduan yang tidak biasa. Setidaknya, Santi pernah merasakannya sewaktu ia bertemu lagi dengan Budi beberapa waktu lalu. Benarkah nalurinya kali ini? Ataukah dirinya sedang berlebihan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ia dan Budi. Kini suaminya dan Ratri. Ia membuang jauh-jauh prasangkanya sebelum akhirnya berkembang menjadi kecurigaan yang tidak beralasan. Santi membatalkan niatnya untuk membuka laptopnya dan memeriksa apakah ada pesan lagi dari wanita yang bernama Ratri ini. Ia memilih untuk berbelanja keperluan rumah tangganya ke sebuah supermarket yang tidak jauh dari rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sebelum bersiap-siap untuk keluar rumah, Santi menyempatkan dirinya untuk memeriksa persediaan makanan di dalam lemari pendingin. Tempat menyimpan sayuran mentah sudah hampir kosong. Dalam freezer ia masih melihat beberapa potong ayam dan udang segar. Kemudian matanya terantuk pada sebuah benda di dalam rak di bagian tengah lemari pendingin. Kadang ia menyimpan agar-agar ataupun cake dengan lapisan krim beku di rak yang ini. tapi ini tidak menyerupai keduanya. Sebuah kotak plastik berisi cairan. Ada potongan tomat hijau didalamnya. Santi meraih kotak tersebut, mengeluarkannya dari dalam lemari pendingin dan membukanya. Ia mendekatkan kotak yang dibukanya itu ke dekat hidung. Hmm…aromanya segar. Santi tahu makanan apa ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ia meletakkan kotak itu seolah enggan untuk menyentuhnya lagi. Kejadian itu lagi-lagi membayangi benaknya. Cibiran Anto akan masakannya. ‘Terlalu asin’, ‘masakan ibu tidak seperti ini’. Santi merasa kejadian itu cukup menjadi kali terakhir dirinya mendapatkan perlakuan semacam itu. Tidak dihargai. Dibanding-bandingkan! Sudikah Anto kiranya ia melakukan hal sama padanya? Hanya karena tidak sengaja menyebut nama Bima yang memperlihatkan penghargaannya pada Irma saja Anto sudah meradang. Berhari-hari komunikasi antara mereka berdua putus. Tidakkah ia dan suaminya sama-sama manusia? Lalu, apa yang bisa menjadi sebab dirinya harus menghargai makanan di dalam kotak plastik ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ipaaahh…,”Santi segera memanggil Ipah untuk menanyakan keberadaan benda di dalam kotak plastik yang diletakkannya di meja makan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ya, Bu,” Ipah tergopoh menghampiri Santi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Bapak bawa garang asem ini waktu pulangnya malam banget itu ya? Waktu kamu nggak bukakan pagar karena bapak bawa kunci pagar sendiri”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ipah menjawab ragu,”Iya, kali, Bu. Ipah kurang tau. Bapak nggak bilang apa-apa.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ibu mau saya hangatkan sayur ini?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi ragu. Ia tahu masakan ibu Anto memang lezat, tapi hatinya berkata lain. Bayang-bayang cibiran Anto datang lagi. Kebencian kembali memegang kendali perasaan Santi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;“Ngga usah. Nanti saja kalau bapak suruh”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Ipah meninggalkan Santi sendiri. Kini waktunya Santi menulis di kertas kecil apa saja yang perlu dibelinya di supermarket nanti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Didalam taksi yang mengantarnya ke supermarket, Santi melamun sendiri. Pikirannya melayang kemana-mana. Beginikah yang dirasakan oleh seorang ibu rumah tangga? Menghabiskan waktunya di rumah dengan mengerjakan rutinitas harian dan kemudian melamun di sisa harinya? Mencemburui suaminya yang bekerja hingga larut malam dan bila beruntung mendapati dirinya keliru atas kecurigaannya selama ini?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sepanjang perjalanan Santi melihat beraneka macam wanita seperti dirinya dalam balutan nasib dan kepribadian yang berbeda-beda. Seorang penjual jamu terlihat mengayuh sepedanya dengan beberapa botol jamu yang diletakkan di bagian belakang sepedanya. Santi bertanya-tanya dalam hati. Mengapa perempuan itu berjualan jamu? Apakah benar ia memang suka membuat jamu sebagai kepandaian yang diturunkan dari orang tuanya? Ataukah itu keinginannya sendiri? Mungkinkah ia sebenarnya hanya punya sedikit ilmu tentang meramu jamu yang didapat dari temannya yang juga berjualan jamu dan menggunakannya untuk membantu sang suami menambah penghasilan? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Sekilas seorang ibu dengan tubuh tambun menyeret anaknya yang masih mengenakan seragam sekolah dasar dengan kasar di pinggir jalan. Berbeda dengan teman-teman di kantornya yang mendamba buah hati di usia mereka yang mendekati 40, wanita ini telah diberikan anugerah berupa kemudahan mendapatkan seorang anak. Tapi yang dilakukannya barusan bukanlah seperti seorang yang berbahagia dengan anugerah yang diterimanya. Dimanakah dirinya akan berdiri nanti bila seorang buah hati telah lahir dari rahimnya? Ibu yang membesarkannya tidak atau belum sempat karena kesibukannya, menceritakan betapa indahnya membesarkan buah hati. Yang ia tahu adalah dirinya yang merepotkan, kerap dicap nakal dan sulit dimengerti. Dan lagi, menjadi penengah pertengkaran kedua orang tuanya tidaklah mudah. Meski ia tak menampik kenyataan bahwa terkadang ia memperoleh hadiah karena prestasi yang diraihnya di sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Taksi yang ditumpangi Santi mulai memperlambat lajunya. Pintu masuk supermarket sudah terlihat. Selagi sopir taksi mengambil tiket tanda masuk, seorang ibu muda seumur dirinya dengan tangkas memasukkan barang-barang belanjaannya ke dalam bagasi mobil, sambil memastikan bayinya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang berada di dalam kereta bayi disampingnya aman. Seorang anak laki-laki kecil berusia kira-kira 5 tahun tampak sibuk membongkar tas belanja ibunya yang telah disusun rapi di dalam bagasi. Dengan tenang ia membiarkan sebagian tas belanjaannya dibongkar paksa kemudian diaduk-aduk isinya oleh sang buah hati. Sebagian barang belanjaannya bahkan melompat keluar dari tempatnya karena dilempar keluar oleh sang anak. Melihat tingkah lakunya, Santi menduga anak laki-laki ini adalah anak pertama sang ibu muda, dan bayi yang ada di kereta adalah anak keduanya. Tidak ada kesan kesal dan marah dari ibu muda ini. Bagian akhir dari drama satu babak ibu muda dengan dua orang anaknya adalah sebuah pemandangan dimana sang ibu memastikan anak pertamanya aman di dalam mobil, kemudian perlahan ia menggendong bayinya dengan tangan kiri, melipat kereta bayi dengan tangan kanan dan bantuan kaki, kemudian meletakkan bayinya di baby car seat. Tugas selesai. Tanpa sedikitpun kegaduhan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;Santi gemar mengamati beragam tingkah laku wanita disekelilingnya. Menilai-nilai, membandingkan, dan kemudian berandai-andai tentang dirinya sendiri. Apa yang akan dilakukan dirinya seandainya ia harus berjualan jamu dengan sepeda? Dapatkah ia menguasai emosinya yang meluap-luap kala buah hatinya nanti merengek terus minta dibelikan jajan ataupun mengacak-acak barang belanjaannya? Semua ia rangkum dalam kepalanya. Perjalanan berumah tangganya dengan Anto masih jauh. Santi merasa hingga kini dirinya masih saja berada di tahap awal. Tahap dimana ia mencoba mengenal pasangan hidupnya lebih dalam lagi. Ia berharap suatu saat dirinya dapat melangkah lebih jauh dari tempatnya sekarang. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-8587483574464680631?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/8587483574464680631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/lima-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8587483574464680631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8587483574464680631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/lima-belas.html' title='LIMA BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-928585481105841161</id><published>2012-01-19T14:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-19T14:39:57.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>EMPAT BELAS</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto membuka pintu kamar tidur dan mendapati istrinya telah terlelap. Ia mengecup kening istrinya yang bergeming dalam selimut. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Perjalanan kurang lebih 10 kilometer yang baru ditempuhnya memakan waktu lebih dari 2 jam. Jakarta memang tidak memberi banyak ruang bagi penduduknya untuk menikmati waktu istirahat di rumah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Setelah membersihkan tubuhnya, Anto turun ke lantai dasar rumah yang ditinggalinya. Memandang ruang tamu dan ruang keluarga yang begitu hening. Seperti jiwanya kali ini. Perkataan demi perkataan yang dilontarkan ibunya sore tadi membekas kuat diingatannya. Seberapa berbedakah dirinya dengan Santi? Benarkah Santi sedemikian tergoncang dengan perubahan dalam hidupnya kali ini? Anto menyadari istrinya jauh lebih pendiam semenjak menjadi ibu rumah tangga. Kadang ia juga mendapati istrinya seperti kebingungan dengan rutinitas yang biasa dikerjakan di rumah ini.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto membuka lemari pendingin. Mengambil minuman bersoda yang dibelinya kemarin di mini market pada perjalanan pulang kantor. Rasa segar merasuki kerongkongannya. Garang asem yang dibawanya untuk Sani dimasukkannya ke dalam lemari pendingin. Sebenarnya paling enak kalau dimakan langsung, gumam Anto. Kemacetan yang diuar perkiraan telah menghanguskan kesempatan istrinya untuk menikmati masakan ibunya malam ini.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Begitu dirinya terjebak dalam kemacetan panjang, Anto segera menelpon Santi untuk tidak menunggunya makan malam. Tapi ia belum bercerita tentang garang asem buatan ibunya yang ia bawa. Sudah lama Santi tidak makan garang asem buatan ibu. Anto yakin istrinya rindu mencicipi makanan khas jawa tengah yang satu ini. Sebenarnya kalau Santi mau, ia dapat memasaknya sendiri. Tapi…Anto masih ingat kapan Santi berhenti belajar memasak makanan kesukaannya dari resep-resep rahasia ibunya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Saat itu, di sebuah hari minggu yang cerah, ia dan Santi berbelanja ke supermarket yang tidak jauh dari rumah. Keinginan istrinya hari itu sederhana, yaitu membeli bahan yang diperlukan untuk membuat masakan yang resepnya berasal dari ibunda Anto, bu Wirya Atmadja. Ipah diminta Santi beristirahat dulu dari pekerjaan hariannya. Ia boleh bertandang ke tempat &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt;kerja &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;adiknya yang terletak tidak jauh dari kediaman Anto dan Santi. Anto teringat bagaimana istrinya begitu bersemangat melakukannya. Saat itu Santi masih bekerja. Rencana mengundurkan diri sudah ada diputuskan. Tinggal mengetik surat pengunduran diri saja. Anto tidak begitu menghiraukan semangat istrinya waktu itu. Ia ingat benar. Baginya, hal semacam itu adalah bagian dari kewajiban istrinya. Tidak ada yang istimewa.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: EN-US;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hingga akhirnya satu masakan matang dan siap disantap di atas meja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto menutup wajahnya mengingat kejadian hari itu. Telapak tangannya terasa dingin di wajahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sungguh saat itu ia tidak bermaksud menyakiti hati istrinya. Ia hanya…hanya…merasa bahwa seharusnya bukan demikian yang terjadi. Bahwa seharusnya Santi tidak menyuruh Ipah pergi sebelum menyiapkan lauk untuk makan siang mereka. Bahwa seharusnya ia pun tidak mengatakan…&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;‘Buang aja! Nggak bakal ada yang mau makan juga. Keasinan…’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto tidak ingat ekspresi wajah Santi saat itu. Yang ia ingat hanya keesokan harinya, Santi berangkat kerja lebih awal dan pulang kerja lebih lambat dari biasanya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto ingin punya kemampuan untuk menghentikan ingatannya akan kejadian itu saat ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Ia merebahkan tubuhnya di sofa. Tubuhnya yang lelah setelah bekerja seharian dan diterkam kemacetan jalanan berjam-jam ternyata belum mampu membuat matanya berat. Ucapan ibunya terngiang-ngiang kembali diingatannya. Menggema tidak karuan di telinganya. Apa yang telah ia lakukan selama ini terhadap istrinya? Ia mengaku tinggal dan bergaul setiap hari dengan Santi. Tapi mengapa kini, hanya dengan sekian menit kunjungannya ke rumah orang tuanya segala yang sudah dilakukannya bersama Santi selama ini seolah tidak ada artinya? Benarkah sesungguhnya ada jarak membentang antara jiwanya dengan jiwa istrinya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di saat seperti ini, hanya satu hal yang Anto ingin lakukan, yaitu menulis. Menulis kerap membuat hatinya lebih lega. Melepas perlahan segala yang menyesaki dadanya. Ia berjalan menuju sebuah kamar dimana ia dan istrinya biasa menghabiskan waktu untuk membaca buku atau mengetik. Hanya ada satu laptop di kamar itu. cukup untuk membantu kegiatan Anto dan Santi selama ini. Karena untuk mengerjakan pekerjaan kantor, perusahaan tempat Anto bekerja menyediakan laptop khusus untuknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto membuka laptop dan menyalakan tombol power. Setelah tombol power menyala, melalui menu explore, ia mencari sebuah folder khusus yang berisi beberapa tulisannya. Ia melihat sebuah folder baru. Baru dibuat 3 minggu yang lalu. Berjudul My Activity. Ah, tentunya ini folder Santi, Anto menduga dalam hati. Ia sesungguhnya tidak berniat sama sekali untuk membuka. Tapi, mouse laptop yang sudah diarahkannya ke folder miliknya sedang tidak ingin bkerjasama dengannya kali ini. Folder My Activity yang terbuka. Bukan foldernya. Keacuhan Anto pada urusan istrinya kini berhenti. Dilihatnya beberapa file yang diberi judul perih1, perih2, perih3 dan seterusnya. Baiklah, Santi, aku akan membacanya. Mungkin kamu memang menginginkannya, hati Anto berbisik mengingat kebetulan yang terjadi barusan seolah seperti ada yang mengaturnya. Anto berharap dengan membaca tulisan Santi ini ia akan dapat lebih memahami kondisi Santi yang sesungguhnya. Siapa tahu ibunya benar. Santi memang membutuhkan bantuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anto membaca lembar demi lembar. Ia seolah dibawa ke sebuah dimensi dimana hanya ia dan roh istrinya yang ada. Ia pasrah dalam gandengan tangan lembut istrinya yang membawanya berpindah dari waktu ke waktu, mengajaknya melihat kehidupan demi kehidupan yang telah dilalui oleh istrinya. Kesenangan, kesedihan, keterpurukan dan luka datang silih berganti seperti sebuah tayangan film di bioskop. Anto merasa kepalanya berat. Terlalu banyak yang ia tidak mengerti tentang masa lalu istrinya. Kemana dia selama ini? Tubuhnya kini meronta ingin terlepas dari tangan roh istrinya yang terus mengajaknya berkeliling. Kepalanya terasa berputar-putar. Segera ia menutup catatan harian istrinya itu dan mematikan laptop. Keinginannya untuk menulis punah sudah. Tanpa disadari peluh menetes dari keningnya. Sebuah langkah kaki terdengar menuju ke tempatnya duduk.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Datang jam berapa, Say? Untung tadi bawa kunci pagar dan garasi,”Santi yang terbangun dari tidur menyapanya dalam keremangan lampu kerja di ruangan itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Iya, payah nih jalanan. Makin lama macetnya makin parah,”jawab Anto memperlihatkan kekesalannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Oya, tadi ibu sama bapak kirim salam. Tanya apa semua baik-baik aja”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Lalu kamu jawab apa?” Santi perlahan mengalungkan tangannya di leher Anto yang masih duduk di kursi di depan laptop.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Ya aku bilang kalau kita baik-baik saja…” Anto tiba-tiba seperti kehilangan kata-kata untuk melanjutkan kalimatnya. Ia berharap jawaban itu cukup untuk membuat istrinya berhenti bertanya dan segera mengajaknya tidur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Aku hari ini dapat beberapa artikel kesehatan untuk pasangan muda yang sedang menginginkan momongan. Aku sudah print untuk kamu baca,”mata Santi sedikit berbinar membicarakan temuannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Iya, Sayang, terima kasih. Aku ngantuk sekali. Besok aku bawa artikelnya ke kantor ya, dibaca disana aja. Udah larut malam, tidur yuk,”Anto kali ini benar-benar kelelahan dan ingin segera istirahat. Ia berharap tayangan bioskop yang baru saja dilihatnya tidak muncul dalam tidurnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-928585481105841161?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/928585481105841161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/empat-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/928585481105841161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/928585481105841161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/empat-belas.html' title='EMPAT BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-1233562135001819746</id><published>2012-01-17T19:59:00.001-08:00</published><updated>2012-01-17T19:59:46.905-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>TIGA BELAS</title><content type='html'>Rumah dua lantai itu dibangun di atas tanah yang cukup luas. Sekitar 400 meter persegi. Untuk ukuran rumah di kota yang sesak dipenuhi penduduk ini, tanah seluas itu cukup untuk menampung dua keluarga. Namun rumah dimana Anto menghentikan mobilnya kali ini hanya ditempati oleh sepasang suami istri yang telah berumur diatas 60 tahun dan seorang pembantu rumah tangga. Pohon cemara yang terpangkas rapi terlihat &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menghias bagian ujung taman di pekarangan rumah tersebut. Rak berisi pot bunga diletakkan secara proporsional di bagian depan dan samping taman. Semua pot berisi beraneka ragam anggrek. Ada yang sudah berbunga, ada yang baru tampak daun. Akar pakis yang menjadi media anggrek tersebut terlihat basah secara merata. Di bagian atas pintu depan rumah tertulis Wirya Atmadja.&lt;br /&gt;Pintu garasi terbuka begitu Anto mematikan mesin mobilnya. Sang pembantu rumah tangga sepertinya sudah hafal betul bunyi derum mobil Anto. &lt;br /&gt;“Eehh..Mas Anto…masukkan saja ke garasi, Mas, mobilnya. Mbak Santi nggak ikut?”&lt;br /&gt;“Nggak, Mbok, ini tadi langsung dari kantor”&lt;br /&gt;“Udah, Mbok, aku parkir disini aja. Nggak lama kok”&lt;br /&gt;Yang dipanggil Mbok langsung menutup lampu pagar dan mempersilakan Anto masuk.&lt;br /&gt;“Ibu sama bapak sedang istirahat ya?” Anto bertanya sambil melirik arloji di tangannya. Pukul 4 sore.&lt;br /&gt;“Nggak kok, Mas Anto. Bapak sedang membaca koran, ibu sedang nonton tv”&lt;br /&gt;Pintu bagian dalam garasi menghubungkan garasi langsung dengan ruang keluarga.&lt;br /&gt;“Eee…anakku lanang to…,”sapa ayah Anto yang langsung meletakkan koran yang sedang dibaca dan berjalan menuju anak laki-laki satu-satunya itu dengan raut wajah bahagia. Ia mengulurkan tangannya pada Anto yang langsung disambut dengan salam takzim penuh hormat dari sang anak. Sesudahnya, Anto melakukan hal yang sama kepada sang ibu yang juga bangkit dari kursinya di depan tv dan bergegas melangkah ke arahnya. &lt;br /&gt;“Tumben Santi nggak diajak,”ujar sang ibu.&lt;br /&gt;“Nggak, Bu, hari ini kebetulan ada meeting di pabrik customer di daerah Kerawang pakai mobil sendiri jadi bisa langsung pulang”&lt;br /&gt;“Kamu sehat, Le? Apa kabar Santi? Kalian udah lama lho nggak mampir”&lt;br /&gt;“Kami sehat, Bu. Bapak ibu bagaimana?”&lt;br /&gt;“Syukur Alhamdulillah sehat, To”&lt;br /&gt;“Sudah bilang sama Santi kalau pulang kantor mau kemari?”&lt;br /&gt;“Belum, Bu. Nggak apa-apa, aku nggak lama kok. Mau tengok bapak ibu aja”&lt;br /&gt;“Mbookk, tolong garang asem yang ibu masak siang tadi di taruh di meja makan, biar Mas Anto makan”&lt;br /&gt;“Ibu masak garang asem? Wow, langsung berasa deh laparnya. Punya firasat, Bu, kalau Anto mau mampir?”ujar Anto sambil memegang perutnya.&lt;br /&gt;“Begitulah, Nak, mungkin semua Ibu memang dianugerahi firasat istimewa tentang anaknya”&lt;br /&gt;Anto segera mencuci tangannya, mengelap dengan serbet makan yang disediakan sang ibu di dekat piring makannya, dan menyendok nasi.&lt;br /&gt;Bu Wirya Atmadja memandang anaknya bahagia. Ingin rasanya meminta semua anak dan keluarganya untuk tinggal saja bersamanya di rumah ini. Memasakkan makanan kesukaan mereka setiap hari, memijit badan mereka yang kelelahan sepulang kerja dan masih banyak lagi. Di saat anak-anaknya pergi bekerja, ia akan menggunakan waktunya untuk bercakap-cakap dengan koleksi anggrek kesayangannya. Menemaninya dan memastikan bahwa seluruh tanaman kesayangannya itu tidak kurang suatu apapun. Selalu saja hal itu yang terbayang dalam benaknya setiap kali anak-anaknya datang berkunjung.&lt;br /&gt;“To, Santi baik-baik saja kan? Dia sudah jadi mengundurkan diri dari tempat kerjanya?”&lt;br /&gt;“Ya jadi, Bu. Dia baik-baik aja kok. Kenapa sih Ibu kuatir gitu?”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa. Sudah lanjutkan saja dulu makanmu. Kalau sudah, ada semangka di lemari es,” bu Wirya Atmadja meninggalkan Anto menuju teras rumahnya yang di lengkapi dua buah tempat duduk terbuat dari rotan.&lt;br /&gt;Tiap sore, itulah yang selalu dilakukannya. Menatap matahari yang beringsut meninggalkan tugasnya untuk memberikan tempat kepada bulan. Entah apa yang ada dipikirannya di saat-saat seperti itu. Mungkin senja telah memberinya banyak arti dalam hidupnya. Bila ada kesempatan merenung, merenunglah. Seperti itulah nasihat orang tuanya dahulu. Yang kini kerap ia dengungkan di telinga anak-anaknya.&lt;br /&gt;“Anggrek belum banyak yang berbunga, Bu?” suara Anto memecah kesunyian.&lt;br /&gt;Sang ibu tersenyum sambil menggeleng pelan,”Belum waktunya saja.”&lt;br /&gt;“To, ibu tanya sekali lagi. Santi nggak kenapa-kenapa to setelah berhenti kerja?”&lt;br /&gt;“Bu, Santi itu kan wanita dewasa. Segala keputusan yang dibuatnya telah ia pertimbangkan terlebih dahulu. Dia konsultasikan ke mana-mana. Berunding berhari-hari denganku juga. Ibu tidak perlu khawatir”&lt;br /&gt;Bu Wirya Atmadja mendesah perlahan kemudian melanjutkan,”To, banyak hal yang pria tidak ketahui tentang wanita. Tentang perasaannya.”&lt;br /&gt;“Hmm…maksud Ibu?”&lt;br /&gt;“Santi itu kan bukan pegawai biasa di kantornya. Dia itu manajer. Punya anak buah, disayang atasannya, dan punya wewenang yang dihargai dengan baik”&lt;br /&gt;“Lalu?”&lt;br /&gt;“Lalu ya nggak mudah untuk orang-orang semacam dirinya membiarkan tubuh dan pikirannya membatu di rumah. Memang dia nggak pernah bilang punya keinginan apa setelah di rumah seperti sekarang ini?”&lt;br /&gt;“Punya lah, Bu. Pernah dia berencana membuka toko kecil di rumah. Tapi…waktu itu…ada beberapa kendala. Jadi belum kesampaian sampai sekarang,” Anto tidak ingin orang tuanya mengetahui pertengkarannya dengan Santi di hari ulang tahun Santi yang berakhir dengan runtuhnya rasa percaya diri istrinya itu terhadap bidang baru yang ingin digelutinya.&lt;br /&gt;“Ibu punya firasat nggak enak, To”&lt;br /&gt;“Bu, Anto yang suaminya aja nggak. Yang setiap hari tinggal dengannya. Bu, Anto mengerti banyak yang dikhawatirkan orang tua terhadap keluarga anak-anaknya. Tapi, percayalah, kami bisa kok hadapi. Kepercayaan ibu penting bagi kami lho, Bu”&lt;br /&gt;Bu Wirya Atmadja memandang anaknya dengan pandangan sayu. Dari matanya ia ingin menyampaikan bahwa dirinya menyayangi dan mempercayai semua keputusan yang telah dibuat oleh anaknya seburuk apapun kondisi yang melatarbelakanginya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;“Ibu percaya kok sama anak-anak ibu”&lt;br /&gt;“Maksud ibu begini. Perempuan itu lain dengan laki-laki. Perasaannya halus. Perubahan kecil saja dapat membuat dirinya gundah berhari-hari. Apalagi perubahan besar seperti yang dihadapi Santi sekarang.”&lt;br /&gt;“Ibu melihat Santi berbeda. Dibalik ketangguhannya di tempat kerja, ia adalah kelinci lembut yang butuh kasih sayang. Ibu dapat melihat itu dalam dirinya. Ia mengalami masa-masa sulit ditengah badai keluarganya di masa kecil, To. Yang ibu tahu, teman masa kecil ibu dulu yang bernasib hampir sama dengan Santi sampai membutuhkan pendamping seorang psikiater untuk menuntunnya keluar dari luka batinnya”&lt;br /&gt;“Itu yang ingin ibu sampaikan padamu. Sudah sana, ditunggu bapakmu ngobrol di depan tv”&lt;br /&gt;“Oya, kalau mau bawa garang asemnya buat Santi bawa aja. Ibu bisa masak lagi besok pagi”&lt;br /&gt;Anto menghampiri ayahnya yang ternyata telah cukup lama menunggunya di depan tv. Sepiring ubi rebus mengepul di atas meja yang juga terletak di depan tv. Sekali lagi, makanan kegemarannya terhidang didepan mata. Anto baru saja menyadari dirinya telah cukup lama tidak menyantap makanan-makanan kesukaannya ini. Bahkan setelah istrinya di rumah sekalipun.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-1233562135001819746?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/1233562135001819746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tiga-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1233562135001819746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/1233562135001819746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tiga-belas.html' title='TIGA BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-6460553047957457332</id><published>2012-01-17T19:57:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T19:57:16.390-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DUA BELAS</title><content type='html'>Life must go on.&lt;br /&gt;Bagi Santi, kehidupan yang berputar disekelilingnya belakangan ini seperti mimpi di siang hari bolong. Keinginannya untuk membuka usaha mesti berakhir dengan larangan Anto karena mereka memutuskan untuk mempunyai anak. Anak adalah masa depan kita, Santi, tundalah dulu niat untuk mencari pekerjaan perintang &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;waktu. Begitu kata Anto. Kebahagiaannya bertemu dengan teman lamanya hanya menyisakan kegundahan tak berujung. Tanpa berpamitan terlebih dahulu Santi mengakhiri pertemanannya di facebook dengan Budi dan Titin. Roller coaster hidupnya kali ini berputar terlalu cepat. Santi pusing dibuatnya. &lt;br /&gt;Menjadi anggota grup parenting yang ada di facebook berhasil menyita waktunya kini. Membaca dan memberi komentar seputar usaha pasangan suami istri untuk mendapatkan buah hati, bagaimana menghadapi kehamilan dengan tenang, dan program-program pengasuhan anak. Santi sebenarnya tidak tertarik untuk bergabung. Irma mengajaknya untuk melihat kehidupan berumah tangga melalui percakapan-percakapan tertulis yang ada di grup tersebut. Tidak ada salahnya kan mempelajarinya terlebih dahulu. Keluarga muda yang tinggal di kota besar seperti kita ini terkadang tidak mau meluangkan cukup waktu untuk melihat dan mengambil pelajaran berharga dari orang lain. Tidak gampang loh punya anak itu. Mental kita harus siap, bukan hanya materi. Dan masih banyak lagi petuah harian Irma di chat room facebook Santi.&lt;br /&gt;Ibu Merry adalah pengasuh grup parenting tempat Santi bergabung. Ia menganjurkan Santi untuk mengajak serta Anto bergabung dalam grup tersebut. Ia juga menyebut Irma dan Bima sebagai contoh pasangan yang saling bekerjasama dalam mengambil keputusan penting seperti rencana mempunyai anak ini agar Santi berkenan mengajak suaminya untuk bergabung. Ibu Merry melihat kesamaan yang dimiliki antara pasangan Irma-Bima dan Santi-Anto. Sama-sama memutuskan untuk menunda, kemudian berpikir bahwa sekaranglah saat yang tepat untum mempunyai buah hati. Persamaan lainnya adalah mereka mempunyai latar pendidikan dan status sosial yang sama antara suami dan istri. Dan yang terakhir, baik Irma maupun Santi adalah tipe wanita yang menganggap bahwa dunia akan selalu memberikan waktu dan ruang baginya untuk berkarya, bermanfaat bagi lebih banyak makhluk hidup, yang intinya adalah ‘wanita-tidak boleh-terlalu banyak-di-rumah’. &lt;br /&gt;Hidup memang tidak indah kalau tanpa karang terjal yang menghadang setiap keinginan yang akan diraih. Santi mengerti dirinya sekali lagi akan berhadapan dengan ego Anto yang tidak ingin membuat akun di facebook. Anto tidak ingin sama sekali. Dan hingga kini pendiriannya belum berubah.&lt;br /&gt;Anto yang menginginkan dirinya untuk bergabung dengan grup parenting yang diharapkan dapat menumbuhkan mental keibuannya. Ia juga memfasilitasi Santi dengan sambungan internet tanpa batas. Pun Anto yang memintanya untuk tidak banyak keluar rumah. Polutan di Jakarta tidak baik untuk wanita yang ingin punya anak. Dan lagi, mana bisa sih keluar rumah hanya sebentar di Jakarta ini. kan lalu lintasnya macet. Nanti kalau kamu kecapekan, lebih kecil loh kemungkinannya hamil. Orang tua kita udah kepingin menimang cucu dari kita. Semua hal tadi menurut Santi cukup untuk menjadi bukti betapa Anto menginginkan anak darinya. Jadi kenapa juga ia terlihat enggan membuka akun di facebook untuk sekedar bergabung dengan komunitas yang diikuti Santi?&lt;br /&gt;Menurut Bu Merry, anjurannya untuk mengajak pasangan suami istri bergabung bukanlah iseng belaka. Belakangan ini banyak ditemukan kasus perceraian yang diakibatkan oleh masalah komunikasi dan kesepakatan yang tidak jelas arahnya. Seolah bercakap tapi tidak menuju ke pemecahan masalah atau seperti sepakat tapi masing-masing masih bangga atas kesibukannya mencari pembenaran akan egonya masing-masing. Di grup ini semua masalah yang terjadi di seputar pernikahan pasangan muda akan dibagi dan diuraikan kemungkinan-kemungkinan penyebabnya untuk kemudian didiskusikan pola pemecahan masalahnya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Membaca penjelasan bu Merry, Santi merasa seperti disiram air es setelah beberapa tahun dilanda wabah musim kering. Hubungannya dengan Anto selama ini adalah seperti yang digambarkan oleh bu Merry. Kepura-puraan kerap kali terjadi. Pura-pura mengerti, pura-pura bahagia. Tapi bukankah sebagian besar wanita di negara ini bernasib seperti Santi? Itu yang Santi tahu. Entahlah yang sesungguhnya. Sikap Anto yang biasa-biasa saja setiap kali Santi merasa Anto kurang memperhatikan kepentingan wanita bekerja membuatnya berkesimpulan semacam itu. Sikap Anto yang tidak pernah mau mengenal lingkungan kerja Santi kala ia masih bekerja dulu, caranya yang acuh tak acuh terhadap semua acara dan kegiatan di tempat kerja Santi tidak pernah menjadikan siapapun yang mendengarnya menganggap itu sikap yang perlu diperbaiki dari seorang suami wanita bekerja. Tidak, setidaknya belum ada hingga kini. Wanita lah tempat segala kesalahan. Kala wanita bekerja, tidak ada kondisi yang memperbolehkan dirinya untuk minta dimengerti. Ia tetap ada diposisi untuk mengerti suaminya. Stereotip kurang perhatian pada keluarga kerap dilemparkan pada wanita bekerja begitu saja. Kala ia dirumah, seluruh kekurangan yang terjadi di rumah, pada diri anak-anak dan suaminya kembali memberinya label negatif. Hmm…tidak heran kalau makin hari makin banyak wanita negeri ini yang memilih menikah dengan pria asing, gumam Santi.&lt;br /&gt;“Aku bukannya tidak mau mencoba untuk bicara sekali lagi pada Anto, Irma. Kamu kan tau sendiri, bagaimana orang tuanya membuat Anto selalu bercermin hanya kepada kehidupan mereka. Sementara banyak hal yang sudah tidak relevan lagi dengan masanya.”&lt;br /&gt;“Lain dari itu hanya akan membawa petaka di kemudian hari. Dan seperti kita yang diminta percaya pada kekuatan mistis yang berasal dari legenda, membantahnya berarti bersedia menanggung resiko apapun.”&lt;br /&gt;Santi berharap penjelasannya membuat Irma berhenti memaksanya untuk meminta Anto membuat akun di facebook dan mendaftarkan diri sebagai anggota grup parenting yang diikutinya itu.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Trauma pada perpisahan yang terjadi di kehidupan orang tuanya memang membuat Santi banyak menampilkan kehidupan ia dan Anto sebagai drama romantis yang setiap babaknya dapat diatur sesuai keinginan sutradara. Santi kini telah menempatkan dirinya sebagai pemain sekaligus sutradara. Tidak sulit ternyata. Ia akan merasa lebih kesulitan seandainya diminta untuk menghadapi kenyataan bahwa dirinya tidak suka dengan kesewenang-wenangan Anto terhadap perasaannya. Tidak suka menjadi ibu rumah tangga. Pun belum ingin mempunyai buah hati. Ia mungkin memilih mati seandainya diminta untuk jujur pada perasaannya. Segala sesuatu yang dianggap ‘wajar’ oleh lingkungannya lah yang akan menjadi dasar keputusan-keputusannya kelak. ‘Terlihat wajar’ itu penting, meski batinnya kerap memberontak. &lt;br /&gt;Dari hari ke hari, penjelasan demi penjelasan yang diterima Santi di grup parentingnya di facebook membuat dirinya makin mengerti betapa ia jauh dari sempurna. Ia dan pasangannya. Memilih bersikap masa bodoh dengan segala penjelasan yang ditulis bu Merry tidaklah menjadi pilihannya. Santi ingin kebahagiaan terwujud di rumah tangganya. Sesemu apapun itu. &lt;br /&gt;Kadang terpikir oleh Santi tentang hidup temannya, Irma, yang terlihat sangat wajar, indah dan bahagia. Ia tak bisa mengukur dirinya dengan orang lain. Anto pun tidak suka. Ia adalah Santi, yang akan mewujudkan arti kata bahagia dalam versinya sendiri.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Akun facebook Anto sudah jadi. Itu artinya, ia siap untuk memberikan kabar pada bu Merry bahwa suami tercintanya telah bersedia untuk membaca dan berdiskusi seputar hal-hal yang akan di ulas dalam grup. Tidak ada salahnya membuat akun dengan nama Anto. Toh semua yang terlihat di dunia maya ini tak harus sesuai dengan apa adanya. Ia bisa membacakan ulasan yang tertulis nantinya untuk Anto. Tanpa Anto harus mengerti bahwa dirinya kini menjadi penghuni baru di dunia yang bernama facebook.&lt;br /&gt;Santi tidak lupa mencantumkan detil informasi tentang Anto, seperti latar belakang pendidikan, buku kesukaan, kata mutiara, asal dan kota tempat tinggal. Itu semua penting untuk membuat Anto terlihat utuh di dunia barunya. Sempat terpikir di benak Santi bagaimana seandainya ada teman kerja Anto yang mengetahui keberadaannya di facebook dan meledeknya atau sekedar meminta klarifikasi karena selama ini Anto dikenal jauh dari dunia maya. Santi berencana akan menutup akses Anto dari teman-teman kerjanya. Anto cukup berteman dengan orang-orang yang dikehendaki Santi. &lt;br /&gt;Santi tersenyum membayangkan betapa ia akan mengendalikan kehidupan orang yang selama ini mengendalikan hidupnya.&lt;br /&gt;&amp;gt;Selamat kepada bapak Anto Wirya Atmaja, suami ibu Santi, yang baru saja bergabung di grup. Semoga grup ini bermanfaat bagi keluarga bapak.&lt;br /&gt;Status baru muncul di dinding grup parenting asuhan bu Merry. Sebuah ucapan selamat untuk Anto ini membuat Santi geli. Ia ingin segera memberi tahu Irma. Cukup Irma saja yang tahu. Itupun karena ia tidak akan tahan menyimpannya sendiri.&lt;br /&gt;“Gila ah! Apa-apaan kamu…,”ujar Irma kala diberitahu.&lt;br /&gt;“Udah laah..biar aja. Toh ini untuk kebaikan aku dan Anto kan?” jawab Santi tenang, seolah tidak ada yang perlu dicemaskan.&lt;br /&gt;“Jangan kamu pikir tidak ada resikonya,” Irma, yang sudah lebih dahulu malang melintang di dunia maya berusaha meyakinkan Santi.&lt;br /&gt;“Ir, aku perlu itu. Aku perlu membesarkan hatiku sendiri bahwa suatu saat Anto akan mau berbagi dalam satu kegiatan yang sama denganku. Aku yakin saat itu akan tiba. Sementara ini biarlah aku mengkondisikannya sendiri terlebih dahulu”&lt;br /&gt;Irma hanya bisa geleng-geleng kepala,”Terserah kamu aja.”&lt;br /&gt;Santi menikmati saat-saat dirinya mendua di dunia maya. Membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Dirinya sendiri dan Anto, suaminya. Menjadi Anto memberikan keunikan tersendiri. Ia merasa menjadi artis film sungguhan. Memerankan seorang tokoh yang berbeda karakter dengan dirinya. &lt;br /&gt;Ah, biarlah dunia tahu aku memang berbakat, ujarnya dalam hati.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi merasa cukup dirinya berpura-pura di dunia mayanya hari itu. Kini saatnya terlibat di dunia nyata. Dunia yang membesarkannya. Ia hampir mengarahkan pointer di layar facebook yang dibuka dengan nama Anto ke tanda log out saat dilihat sebuah friend request diterima. Ratri Gunawan. Hmm…sepertinya ia bukan teman satu kantor Anto. Santi meng-klik log out, berencana akan menanyakan apakah Anto mempunyai teman kerja dengan nama Ratri Gunawan sebelum memutuskan untuk menerima request yang datang barusan.&lt;br /&gt;Langit yang menaungi rumah Santi makin gelap. Anto sebentar lagi pulang. Ia akan menyiapkan segala keperluan Anto sepulang kantor seperti biasa. Sementara Anto belum pulang, biarlah ia ditemani oleh bayangan Anto yang telah berhasil dilukisnya dalam layar laptop.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-6460553047957457332?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/6460553047957457332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-belas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6460553047957457332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/6460553047957457332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/dua-belas.html' title='DUA BELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-8199459508235009434</id><published>2012-01-17T19:52:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T19:52:46.699-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>SEBELAS</title><content type='html'>&lt;i&gt;&amp;gt;Hai, apa kabar? &lt;br /&gt;Hai juga. Kabar baik. Masih di Jakarta?&lt;br /&gt;&amp;gt;Masih. Kamu? Eh, ya, ada tuh di profile…sama-sama di Jakarta kita ya.&lt;br /&gt;Hehehe…sama seperti dulu. Aku lagi nungguin Titin nih. Dia belum juga terima ajakan pertemananku. Kamu &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;i&gt;kerja dimana? Anak udah berapa?&lt;br /&gt;&amp;gt;Titin belum accept? Masak sih? Aku kerja di perusahaan IT di daerah Sudirman. Anak 2! Kan 2 lebih baik :D&lt;br /&gt;Kamu bisa aja. Duh, senengnyaa yang punya anak 2. Cowok apa cewek?&lt;br /&gt;&amp;gt;1 cowok, 1 cewek. Lengkap yah..hehe. kamu?&lt;br /&gt;Belum. Doain ya, dalam waktu dekat. Masih punya foto-foto waktu SD? Upload donk ke sini.&lt;br /&gt;&amp;gt;Ada nih, 2 atau 3 gitu. Nanti aku scan dulu lalu aku upload. Akun kamu baru ya?&lt;br /&gt;Iya..hehe. kenapa? Keliatan ya kalo baru? Masih ada harganya?&lt;br /&gt;&amp;gt;Paling bisa deh. Kamu kerja?&lt;br /&gt;Nggak. Di rumah aja. Good housewife wanna be…heheh &lt;br /&gt;&amp;gt;Suami kerja dimana? Kamu kuliah di Jogja ya…&lt;br /&gt;Suamiku kerja di shipping. Tahu darimana kalau aku kuliah di Jogja?&lt;br /&gt;&amp;gt;Dari Titin. &lt;br /&gt;Ohh… Masih ingat Tono, kepala suku geng bengal?&lt;br /&gt;&amp;gt;Hahaha… masih lah. Kenapa? Kamu kangen? Ada tuh dia. Nama akunnya Tato Tono. Keren yah?! Tapi dia hebat sekarang. Aku dengar dia punya usaha franchise warung makan. Lebih dari satu kabarnya. Lalu laundry pakaian juga.&lt;br /&gt;Hmmm…time really goes by ya. Nggak terasa waktu telah menelan manusia bulat-bulat dan kemudian membentuknya kembali sebagai makhluk yang baru…&lt;br /&gt;&amp;gt;Tapi Tono masih manusia loh, San, belum berubah jadi kadal…hihihihi&lt;br /&gt;Bukan Tono yang jadi kadal tapi kamu! :D&lt;br /&gt;&amp;gt;Kamu ngga pengin kerja, San. Perusahaan tempatku kerja lagi cari orang nih…&lt;br /&gt;Kata kamu aku kadal. Berarti ngga bisa dong ngelamar kesitu. Kan yang dicari orang? ;)&lt;br /&gt;&amp;gt;Dasar kamu masih sama aja kayak dulu :D&lt;br /&gt;Hehe…aku pernah kerja kok. Tapi resign 3 bulan yang lalu. &lt;br /&gt;&amp;gt;Kamu kan belum punya anak. Buat apa brenti kerja?&lt;br /&gt;Ya biar punya anak &lt;br /&gt;Santi belum ingin menyudahi percakapannya dengan Budi yang dilakukan di inbox message facebook kemudian pindah ke chatting room. Tapi dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Waktunya Budi pulang kerja.&lt;br /&gt;Pulang gih sana, nanti diomelin istri…&lt;br /&gt;&amp;gt;Istriku juga kerja kok. Aku pulang ini mampir jemput dia dulu. Ok see u, byee&lt;br /&gt;See u…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Santi merebahkan diri di sofa setelah mematikan laptopnya. Ia tidak menyadari kalau bibirnya senantiasa masih menyungging senyum. Ohh, begini ya rasanya kalau bertemu teman lama di facebook gumamnya dalam hati. Ternyata Budi masih mengingatnya. Rasa yang menjeratnya kali ini sungguh aneh. Budi bukanlah mantan pacar Santi. Tapi kebahagiaan bercampur gelisah yang dirasakannya membuat dirinya bertanya-tanya. Mungkinkah Budi juga merasakan hal yang sama? Eh, kenapa jadi penasaran? Ugh!&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Titin accepted your friend request&lt;br /&gt;Santi memandang pemberitahuan yang diterimanya di facebook. Akhirnya Titin menerimanya juga. Mungkin kemarin ia sibuk. Santi menyerah dengan facebook bersetting berbahasa Indonesia yang disiapkan Irma untuknya. Hanya selisih 2 hari dari hari kelahiran akun facebooknya, Santi mengganti setting bahasanya ke dalam bahasa Inggris. Entah mengapa lebih mudah dipahami. Santi sesungguhnya kagum dengan pesatnya perkembangan bahasa Indonesia dari hari ke hari. Makin hari makin banyak kata serapan baik dari bahasa asing maupun bahasa daerah. Tapi sayangnya kata-kata itu terasa masih asing di telinga dan matanya. Latar belakang pekerjaannya yang berhubungan dengan dokumen berbahasa Inggris lebih banyak menjadi penyebab ketimbang keengganannya menggunakan bahasa ibunya sendiri. &lt;br /&gt;Pukul 12.30 siang, Santi melihat lampu tanda online pada profil Titin menyala. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengobrol dengan Titin. &lt;br /&gt;Santi mulai menulis di chat room dirinya dan teman baiknya itu.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;gt;Haiiiiiii!!!!&lt;br /&gt;Halooo…apa kabar, Santiiiiiii…..ya ampuuun benarkah ini Santi? Santi yang pendiam dan pandai? Yang pekarangan rumahnya banyak tanamannya? &lt;br /&gt;&amp;gt;Tin, miss u so much&lt;br /&gt;&amp;gt;Kangen banget! Sumpah!&lt;br /&gt;&amp;gt;Kabar baik, Tin. Bagaimana kabarmu, temanku yang matanya indah dan menawan???? &lt;br /&gt;&amp;gt;Hehe…masih ingat sama pohon mangga di depan rumahku ya…yang kita pakai untuk latihan memanjat dulu?&lt;br /&gt;Benerrrr….hahaha, latihan manjat, ya. Aduuhh kangennyaa sama saat-saat indah itu!&lt;br /&gt;Waktu akhirnya kita ngga dapat mangga satupun&lt;br /&gt;Dan mengandalkan Budi untuk membantu kita…mana kita jahilin lagi dia waktu manjat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berdesir di dada Santi waktu nama Budi disebut.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&amp;gt;Huahahaha…kan kamu yang ajakin aku jahilin dia&lt;br /&gt;Masak sih? Ngga ingat aku&lt;br /&gt;&amp;gt;Jadi waktu itu mungkin kita jealous sama kepandaian Budi manjat pohon yang mirip tupai itu. Nah kamu bilang kita kitikin aja kakinya pake kemoceng :D&lt;br /&gt;Hahahah&lt;br /&gt;Lagian kamu mau aja disuruh :D&lt;br /&gt;&amp;gt;Ngga seru lagi, Tin kalo ngga ngerjain dia&lt;br /&gt;&amp;gt;Udah ah, malah jadi ngobrolin Budi. Kamu kerja? Dimana?&lt;br /&gt;Aku kerja di bank. Kantorku di Thamrin. Kamu?&lt;br /&gt;&amp;gt;Aku udah resign, Tin, 3 bulan yang lalu. Sekarang di rumah aja. Ada rencana mau buka usaha, tapi masih aku tunda.&lt;br /&gt;Wah, enak kamu, San. Punya waktu banyak buat suami dan anak.&lt;br /&gt;&amp;gt;Aku belum punya anak, Tin. Doain ya dalam waktu dekat ini. aku sama suamiku sengaja menunda barang 2 tahun.&lt;br /&gt;Oh, gitu. Iya, San, nikmati aja dulu kehidupan berumah tanggamu dengan suami.&lt;br /&gt;Kapan-kapan ketemuan yuk! Penginnya sih sekarang, tapi aku ada training seminggu ini jadi belum bisa.&lt;br /&gt;&amp;gt;Eh, anakmu berapa, Tin?&lt;br /&gt;Doea&lt;br /&gt;&amp;gt;Tjukup doea sadja ja?&lt;br /&gt;Ija&lt;br /&gt;&amp;gt;Kapan proklamasi dibatjakan?&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;San, aku lanjut kerja lagi ya…nanti kalau waktuku udah senggang, aku kasih kabar, dimana dan kapan ketemuannya.&lt;br /&gt;&amp;gt;Oce! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hati Santi berbunga-bunga. Percakapan demi percakapan dengan teman lama telah membuat dirinya lebih bersemangat. Hidupnya tak lagi hanya berputar di sekitar keinginan mencari kerja dan kegiatan sampingan di sela waktu luangnya. Menghadapi sikap Anto yang datar mengenai keinginannya itu juga memberikan tekanan sendiri bagi Santi. Kini ia punya sedikit kegiatan di waktu luang. Mengobrol disertai membolak-balik ingatan tentang peristiwa masa lalu yang dihadirkan oleh komunitas facebooknya. Irma benar. Facebook memang menyenangkan. &lt;br /&gt;Selama membaca kegiatan teman-teman facebooknya melalui beragam informasi di rumah tembus pandangnya masing-masing, Santi baru menyadari bahwa Budi banyak menyimpan puisi yang disimpannya di bagian Notes. Diantara sekian banyak puisi yang ditulis Budi, ada satu yang menyita perhatian Santi. Sebuah puisi berjudul Pohon Mangga.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ada yang mekar di ujung hati &lt;br /&gt;sebuah bunga yang tersimpan sekian lama&lt;br /&gt;ia tumbuh menjalar mengarungi waktu&lt;br /&gt;membelah cita-cita menjadi kepingan puisi&lt;br /&gt;mungkinkah kesempatan kan datang bak musim demi musim yang setia menemani pagi&lt;br /&gt;Setelah sekian lama menanti&lt;br /&gt;Menjelajah tiap relung hati yang paling dalam&lt;br /&gt;Bahkan liur enggan merasa lagi masamnya buah mangga muda&lt;br /&gt;Karena kenangan akan selalu abadi&lt;br /&gt;‘Kapan pohon mangga di rumahmu berbuah’, kataku&lt;br /&gt;‘Sebentar lagi, sepanjang kamu setia menanti’, katamu&lt;br /&gt;‘Masihkah dapat pohon mangga itu berbuah di hari pertemuan kita nanti?’ masih saja aku mendesak, meminta jawaban atas kegelisahanku&lt;br /&gt;‘Tentu masih’&lt;br /&gt;Aku ingin jawabmu bukanlah sebuah lagu nina bobok&lt;br /&gt;Agar menjadi asa yang akan selalu dinanti&lt;br /&gt;Untukmu yang terbuang…&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Santi merasa matanya menghangat. Kata orang rasa tidak pernah bohong. Lalu mengapa Santi merasa ada yang disimpan oleh Budi dan dirinya sekian lama? &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Setelah sekian banyak percakapan dilakukan oleh Santi dan Budi. Setelah lebih dari 10 puisi baru ditulis di Notes facebook Budi, setelah sekian kali janji bertemu yang harus di reschedule, dibicarakan kalau sudah dekat harinya, dan akhirnya dibatalkan, Santi duduk di sebuah kafe berhadapan dengan Budi. Mereka tidak menyangka akhirnya dapat juga saling bertatap muka. Bukan hanya memandang foto yang dipasang di profile picture masing-masing di facebook.&lt;br /&gt;“Kenapa ngga betah kerja di kantor?” Budi menuangkan gula rendah kalori ke dalam minumannya.&lt;br /&gt;“Kan udah bilang waktu itu. Biar ngga kecapekan. Kepingin punya momongan,” sahut Santi. Ada yang mengganjak di lidah Santi setiap kali ia menceritakan tentang rencana masa depannya dengan suaminya. &lt;br /&gt;“Kamu ngga seperti seorang wanita yang menginginkan momongan, menurutku,”ucap Budi dingin.&lt;br /&gt;Santi tersipu. Bagaimana Budi bisa berfikir kesana. Bicara seolah Budi lah orang yang paling mengerti sifat Santi dan keputusan-keputusan yang ingin dibuat dalam hidupnya. Kemana arah pembicaraan ini sesungguhnya? Dibalik wajah tenang Santi, tersimpan keraguan yang mendalam tentang pertemuannya dengan Budi. &lt;br /&gt;“Jadi menurutmu aku begitu ya. Boleh aku tau darimana kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu”&lt;br /&gt;“Kok jadi serius gini sih? Orang aku asal tebak aja kok,” Budi tertawa sambil memberikan buku menu kepada barista yang dipanggilnya dengan lambaian tangan.&lt;br /&gt;Santi tidak mungkin menampakkan keingintahuannya terlalu jauh. Apakah Budi sekedar menebak atau ada keinginan tertentu dibalik ucapannya. Santi mengerti kini bukanlah waktunya.&lt;br /&gt;“Jadi, kamu kuliah di Jakarta…,”Santi berusaha mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;“Iya. Nenek meninggal waktu aku kelas 1 SMU. Pamanku yang tinggal tidak jauh dari rumah orang tuaku berhasil menjual rumah kami dan menggunakan uang hasil penjualannya untuk membiayaiku sekolah”&lt;br /&gt;“Kamu ingat kan, pamanku yang pernah membawakan memasangkan kita tenda di halaman rumahku waktu kita pengin camping? Lupa ya?”&lt;br /&gt;Santi berusaha mengingat-ingat. Sulit sekali membongkar ingatannya untuk sesuatu yang terjadi di rumah orang tua Budi saat itu. Seperti ada dinding yang membatasi. Serpihan ingatan akan pertemanannya dengan Budi tidak lebih dari hukuman demi hukuman yang terpaksa mereka jalani bersama. Kepergian orang tua Budi, dan perpisahan kala Budi harus ikut neneknya di Bandung. Semua luka yang mereka jalani bersama. Itu yang diingat Santi.&lt;br /&gt;“Lupa-lupa ingat nih kalo yang tentang camping itu”&lt;br /&gt;“Ngga apa-apa,”sahut Budi tenang. Meski ia tidak dapat menyembunyikan pandangan lunglai dihadapan secangkir kopi panas di hadapannya.&lt;br /&gt;Suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar diantara percakapan Santi dan Budi yang kian menghangat.&lt;br /&gt;“Udah lama pacaran sama…siapa nama suamimu? Anto?”&lt;br /&gt;“Sekitar dua tahun”&lt;br /&gt;“Cukup merasa mengenal dia dengan baik selama pacaran?”&lt;br /&gt;Pertanyaan yang aneh, gumam Santi. Semacam mempertanyakan seberapa yakin aku akan pernikahanku sendiri.&lt;br /&gt;“Memang menurutmu, apa kriterianya ‘mengenal dengan baik’ itu?”&lt;br /&gt;“Yaa…gimana ya. Maksudku apa yang jadi dasar keputusanmu untuk menikah waktu itu. Kira-kira seperti itulah…,”Budi menjelaskan.&lt;br /&gt;“Aku merasa...Anto bukan orang yang sulit dimengerti. Pendidikannya baik, tutur katanya juga sopan. Kami dikenalkan oleh seorang teman Anto. Orang tuanya banyak memberiku petuah sebelum pernikahan kami yang tak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Itu aja sih,” Santi merasa penjelasannya cukup. Ia sesungguhnya tidak ingin ditanya lebih dalam lagi. Beberapa kejadian yang membuatnya kecewa pada Anto tak mungkin diceritakannya pada Budi. &lt;br /&gt;“Kamu kenapa ngga pasang foto keluarga di facebook?”&lt;br /&gt;“Kamu juga ngga,”sahut Budi ringan.&lt;br /&gt;Santi tersenyum mengakui. &lt;br /&gt;“Oya, aku baru tahu kalau kamu suka menulis puisi,” Santi merasa mendapatkan kesempatan untuk mengulik kesukaan Budi yang baru saja diketahuinya ini.&lt;br /&gt;“Aku dari dulu suka menulis puisi”&lt;br /&gt;“Oya? Aku ngga pernah tahu”&lt;br /&gt;“Puisi datang dari setiap jiwa yang menanti. Meski seringkali yang dinanti tidak kunjung datang,” Budi berkata sambil memandang Santi lekat-lekat. Yang dipandang menjadi salah tingkah.&lt;br /&gt;“Sudah pernah coba menerbitkan kumpulan puisimu,”ucap Santi seadanya. Sekedar memecah kebekuan karena tatapn Budi barusan.&lt;br /&gt;“Sudah. Tapi mereka memintaku untuk menunjukkan prestasi apa saja yang pernah aku raih dalam hal menulis puisi. Aku tidak punya. Akhirnya…ya masuk laci meja penerbit. Syukur kalau tidak dibuang”&lt;br /&gt;“Bud, aku baca puisimu yang berjudul Pohon Mangga itu…,” entah mendapat keberanian dari mana Santi akhirnya mengutarakan keingintahuan yang telah dipendamnya semenjak ia pertama kali menemukan puisi tersebut.&lt;br /&gt;Sungguh pemandangan yang tidak disangka-sangka oleh Santi. Budi mendadak tersedak. Santi menghentikan kalimatnya. Sambil membersihkan beberapa tetes kopi yang tumpah ke meja Budi memotong kalimat Santi seolah sudah mengerti kelanjutannya,”Uh oh iya yang itu.”&lt;br /&gt;“Aku menulisnya untukmu”&lt;br /&gt;Penantian akan rasa penasarannya sirna sudah. Yang aneh, jawaban Budi ternyata membuatnya kehilangan rasa yang selama ini disimpannya diam-diam. Rasa yang ingin dicumbuinya setiap hari. Santi merasa mengalami antiklimaks atas segala euphoria bertemu dengan Budi dengan cara yang tidak diinginkannya. Santi menginginkan perasaan itu terus bersembunyi. Ia sangat menikmatinya. Keterusterangan Budi barusan telah memusnahkan kenangan indah yang hanya diinginkannya untuk terus menjadi kenangan. Bukan tumbuh menjadi berbentuk dan berupa seperti sekarang ini. Lidahnya kelu sekarang. Santi seolah dihadapkan pada sebuah rencana pengkhianatan. Pengkhianatan dirinya akan kesetiaannya pada Anto. Ia tak ingin menyalakan bara di dalam keluarganya. Dan kini ia telah melakukannya.&lt;br /&gt;Santi mengerti, apapun yang diucapkannya saat ini tidak akan menolongnya sedikitpun. Dirinya perlu udara segar. Tapi tak mungkin dilakukannya. Pembicaraan belumlah usai. Ia tahu orang dihadapannya akan menceritakan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengarnya. Baik hari ini, esok, maupun seterusnya. Santi mengharapkan kehebohan muncul di tempatnya makan siang kali ini dan meredam segala kemungkinan kalimat demi kalimat meluncur dari mulut Budi sehubungan dengan pernyataannya tadi. &lt;br /&gt;“Aku ngga mengira kamu membaca puisi itu,” Budi melanjutkan.&lt;br /&gt;Santi diam saja.&lt;br /&gt;“Aku tak tahu apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu”&lt;br /&gt;Santi memelintir ujung rambutnya dengan jari telunjuknya. Ia resah dan berharap Budi membaca keresahannya. Meskipun kemungkinan yang tidak diinginkan Santi yang akan terjadi. Yaitu, Budi mengira dirinya menanti penjelasan demi penjelasan dengan antusias.&lt;br /&gt;“Kamu ngga keberatan kan kalau aku bilang sekarang?”&lt;br /&gt;Santi kehilangan akal. Saat-saat seperti ini adalah saat dimana otak seorang wanita bekerja tidak sesuai dengan gerak bibirnya.&lt;br /&gt;“Ngga, ngga apa-apa,” sahut Santi.&lt;br /&gt;Kini hanya ada penyesalan, gumam Santi dalam hati. Mestinya ia tidak menggunakan sisi kewanitaannya saat ini.&lt;br /&gt;Akhirnya, saat itu tiba. Sebuah cerita mengalir dari mulut Budi. Menceritakan bahwa dirinya merasakan getaran yang berbeda saat harus berpisah dengan Santi selepas SD. Getaran yang hingga kini masih dirasakannya. Santi tidak mengerti mengapa dirinya harus merasa berdosa waktu itu. &lt;br /&gt;Budi mendapati Santi memperhatikan kisahnya. Satu demi satu.&lt;br /&gt;Perasaan senasib sudah tumbuh kala Budi, Santi dan Titin menjadi pusat perhatian di sekolah karena hukuman terberat yang harus mereka pikul di kelas 6 SD. Santi tidak pernah tahu beberapa rencana jahat mengatasnamakan dirinya, Titin dan Budi telah direncanakan oleh teman-teman nakalnya waktu itu. Seperti mengempeskan ban sepeda motor wali kelasnya, agar mereka dianggap menaruh dendam padanya karena hukuman yang telah ia berikan. Budi tidak memberikan kesempatan pada Santi untuk tahu. Ia juga tidak memberi kesempatan pada geng bengal di sekolahnya itu untuk melakukan eksekusi atas rencana tersebut. Ia memata-matai pekerjaan mereka dan melaporkannya pada sang wali kelas. Apapun resikonya. Semua ia lakukan untuk melindungi Santi. Selain itu, ada cukup banyak kejadian yang membuat Santi terkesima akan pengorbanan Budi baginya dan Titin.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Kematian orang tua Budi menjadi titik balik rasa percaya dirinya selama ini. Banyak yang hilang dari dirinya. Saat itu terjadi, Santi selalu ada di dekatnya. Menemaninya dan membuatnya mengerti bahwa sekian banyak orang disekelilingnya mengharapkan dirinya tegar dan berhasil melanjutkan hidupnya. Meraih apa yang telah dijanjikan pada orang tuanya kala mereka bertanya tentang cita-citanya.&lt;br /&gt;Budi memberikan jeda pada kisahnya. Tatapannya beralih dari mata Santi ke atas meja. Kemudian ia merapatkan jemarinya di depan dada seperti sedang berdoa. Kemudian lanjutnya…&lt;br /&gt;“Sejak aku tinggal bersama nenekku di Bandung itulah semangatku untuk menulis puisi mulai tumbuh. Aku menulis apa saja yang aku mau menjadi puisi. Kamu boleh percaya boleh tidak, hampir setiap puisi yang aku tulis waktu itu mewakili perasaanku padamu. Disaat-saat kita bersama. Dalam berbagai kegiatan sekolah, bermain selepas pulang sekolah dan juga hukuman demi hukuman yang harus kita hadapi dulu”&lt;br /&gt;“Kamu boleh tidak suka dengan semua yang aku katakan barusan. Itu hakmu. Aku memang lancang mengatakan hal ini padamu. Tapi penting bagiku untuk mengungkapkan rasa yang telah berpuluh tahun membatu ini”&lt;br /&gt;Ya. Benar katamu. Kamu lancang, Budi. Kamu lancang karena telah menerobos dinding yang telah lama aku kunci rapat-rapat. Dinding yang selalu membatasiku dari kejujuran terhadap diriku sendiri. Dinding yang selalu membuatku selalu ingin menghindar dari kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan keinginan banyak orang. Santi yang dulu menghendaki kehidupan ‘normal’ kini harus berhadapan dengan kehidupan ‘nyata’. Beraninya kamu melakukan ini padaku!&lt;br /&gt;“Kamu melamun?” tiba-tiba Budi berbicara sambil mencondongkan tubuhnya kea rah Santi.&lt;br /&gt;Santi salah tingkah untuk kesekian kalinya,”Ngga, cuma heran aja sama kamu.”&lt;br /&gt;“Aku aneh ya?” ketegangan masih mewarnai raut wajah Budi.&lt;br /&gt;“Bukan kamu. Tapi aku yang aneh” sahut Santi.&lt;br /&gt;“Why?”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Karena aku tidak pernah menyukaimu. Tidak dari dulu sampai sekarang. Tapi untuk mengakui bahwa aku bahagia saat kita bersama mungkin iya,” Santi merasa kata-kata yang meluncur dari bibirnya makin lama makin sulit dimengerti.&lt;br /&gt;“Aku berandai-andai kamu menginginkan pertemuan kita hari ini,” Budi berkata lirih.&lt;br /&gt;Santi tidak menjawab. Ia merasa tidak perlu menjawab. Suasana menjadi hening, sesaat sebelum kemudian Santi membuka pembicaraan,”Istrimu tau kita bertemu?”&lt;br /&gt;“Titin tau,”jawab Budi singkat.&lt;br /&gt;“Aku tidak menanyakan Titin, aku tanya istrimu”&lt;br /&gt;“Titin istriku…”&lt;br /&gt;Suasana kembali hening. Budi menundukkan kepala. Santi memandang takjub pada raut wajah Budi yang lunglai. Bibirnya bergerak ingin memulai berpuluh, beribu atau bahkan berjuta kata. Tapi tak satu patah pun terlontar darinya. Santi merasakan pertahanan dirinya runtuh satu per satu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-8199459508235009434?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/8199459508235009434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sebelas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8199459508235009434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/8199459508235009434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sebelas.html' title='SEBELAS'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-4181561546050868702</id><published>2012-01-17T19:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T19:45:52.007-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>SEPULUH</title><content type='html'>Hari ini adalah hari pertama aku mempunyai akun facebook. Tidak muluk-muluk rasanya kalau aku bilang bahwa sosial media yang satu ini telah berhasil menjadi raja di bidangnya. Tampilannya lugas namun informatif. Menurut Irma, dirinya tidak bisa sehari saja terlepas dari makhluk yang satu ini. Irma selalu berhasil membuatku penasaran. Atas bantuan Irma juga aku mendapatkan akun Titin. Dan tidak cuma Titin, tapi Budi, &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;teman-teman anggota geng iseng pengganggu dan masih banyak lagi. Aku mengirim permintaan pertemanan pada masing-masing dari mereka. Belum ada satu pun yang menerima. Mungkin mereka lupa, mungkin juga ragu. Tapi menurut Irma, tidak semua orang terhubung setiap hari dengan benda yang memudahkannya mengakses facebook. Permintaan pertemanan bisa jadi baru terbaca oleh empunya akun sehari, dua hari, atau bahkan seminggu kemudian. Irma dan suaminya, Bima adalah gadget freak. Tidak heran bila mereka berdua tidak pernah melepaskan tangannya dari blackberry miliknya. &lt;br /&gt;Selesai memperlihatkanku bagaimana facebook bekerja, Irma memintaku untuk mengunggah beberapa foto yang aku punya baik itu foto sekarang ataupun saat aku masih sekolah. Aku masih menyimpan beberapa foto SMP, SMU dan tentunya masa-masa kuliah yang terhitung paling dekat. Selama aku memilah dan memilih foto-foto yang akan aku unggah, Irma banyak bercerita tentang kisah-kisah di dalam facebook yang ia tahu. Sebagian juga ia alami.&lt;br /&gt;Berita yang paling santer terdengar tentang facebook adalah sarana untuk bertemu mantan pacar. Menurut Irma, hampir seluruh teman masa kecilnya bertemu dengan mantan pacarnya di facebook. Sebagian akhirnya berteman biasa, sebagian berpacaran sembunyi-sembunyi, dan sebagian yang lain mengambil keputusan untuk kembali pada mantan pacarnya itu. Irma termasuk golongan yang pertama. &lt;br /&gt;Alex kalau tidak salah namanya. Seingatku, Irma sempat dekat dengan Alex sampai lulus SMU. Kedekatan mereka cukup serius. Kepindahan Alex ke luar negri membuat hubungannya dengan Irma merenggang hingga berakhir dengan keputusan untuk berpisah. Alex saat ini menetap di Jakarta. Irma sempat bertemu Alex beberapa kali setelah pertemanan mereka di facebook. Irma mengakui kalau dirinya dan Alex sama-sama antusias untuk bertemu awalnya. Ingin tahu apakah perawakan mereka masih seperti dulu, gaya bicaranya juga, dan yang terakhir, yang malu-malu untuk diakui adalah, masihkah ada getaran yang sama seperti dulu. Sekedar ingin tahu, tanpa ada keinginan untuk membuatnya tumbuh subur seperti dulu. Itu kata Irma. Bukankah dengan mengetahui hal semacam itu akan membuka peluang untuk menumbuhkan perasaan yang sudah dihapus waktu? Entahlah, Irma dan aku memang berbeda dalam hal yang satu ini. Aku tidak tahu rasanya bertemu dengan mantan pacar. Mungkin memang menggetarkan sekali. Terlebih kalau banyak kisah dan kenangan indah telah dirajut bersama. Aku bertanya apakah Bima tidak cemburu dengan pertemuan-pertemuan Irma dan Alex berikutnya? Irma tersenyum mengenang peristiwa itu. Katanya, awalnya ia tidak berterus terang pada Bima tentang Alex. Tapi, Bima yang juga mempunyai akun facebook, memperlihatkan mantan pacarnya pada Irma. Bercerita panjang lebar tentang masa lalunya. Irma memberanikan diri juga akhirnya untuk bercerita. Setelah paling tidak dua kali pertemuan rahasianya dengan Alex. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan rahasia itu menurutnya. Mereka hanya bertukar cerita sambil makan siang. Sesuai dengan yang diduga Irma sebelumnya, Bima antusias mendengar cerita Irma tentang dirinya dan Alex. Ah, Bima memang berbeda dengan Anto. Entah apa jadinya kalau hal itu terjadi pada dirinya. Ia tidak yakin Anto akan menerima kehadiran orang yang telah mengisi masa lalunya dengan tangan terbuka. &lt;br /&gt;Irma tak henti-henti bercerita tentang teman-teman lamanya di facebook. Ada sebuah kisah yang menarik buatku. Irma bercerita bahwa ia menerima permintaan pertemanan di facebook hanya berdasarkan jumlah mutual friend. Bila jumlah mutual friend diatas 2 orang saja sudah membuat Irma menerima ajakan pertemanan dari seseorang. Alasannya katanya, kemungkinan mereka adalah teman lama yang kita sudah lupa wajah dan namanya. Selain itu ia juga bercerita bahwa ia senang mendapat teman baru yang belum pernah dikenalnya sekalipun. Tapi, akhirnya ia mengaku bahwa itu semua terjadi sebelum ia mengenal seseorang yang bernama Lani. Lani mengaku mengenal Irma melalui Alex, mantan pacar Irma. Lani rajin memberikan komentar pada hampir setiap status yang ditulis Irma di dinding facebook. Irma merasa ada yang ganjil dengan sikap Lani di facebook. Menurut Irma, Lani seperti memata-matai dirinya. Setiap Irma mengunggah foto, Lani dengan bersemangat menanyakan ini itu perihal foto tersebut. Kapan dibuat, dimana, dan pada waktu acara apa. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan konyolnya tentang keadaan Irma bila sehari saja Irma tidak terlihat menulis sebuah status mengenai kegiatannya hari itu. &lt;br /&gt;Irma tak perlu menunggu lama untuk mengetahui apa yang tersembunyi dibalik keinginan Lani untuk mengetahui hampir setiap aktifitas yang di postingnya ke facebook. Lani ternyata adalah adik ipar Alex. Adik kandung istri Alex yang diminta oleh kakaknya untuk memata-matai Irma. Entah bagaimana istri Alex menaruh curiga terhadap Irma. Sesungguhnya aku tidak benar-benar mengerti apakah yang diceritakan Irma tentang hubungannya dengan Alex yang ‘biasa-biasa’ saja hingga kini memanglah yang sesungguhnya terjadi. Tapi selama ini, Irma yang aku kenal bukanlah orang yang menyalahgunakan kepercayaan orang lain padanya. terlebih rasa percaya Bima, suaminya, terhadap Irma setelah mereka saling terbuka tentang masa lalunya masing-masing. Untuk kesekian kalinya, aku dibuat penasaran dengan cerita Irma ini. irma mengetahui tentang hubungan Lani dengan istri Alex melalui foto-foto Lani yang diunggah di profilnya. Mereka mirip. Dalam sebuah kesempatan, Irma meminta nomor telepon Lani dan kemudian langsung menelponnya. Tidak menduga akan aksi yang dilakukan irma secara spontan ini, Lani tidak dapat lagi mengelak bahwa dirinya adalah adik ipar Alex.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa geleng-geleng mendengar beragam cerita seputar facebook yang dibawakan Irma. Hidup memang memberikan pelajaran berharga pada setiap orang yang mau menyadarinya. Itu pula yang diyakini Irma dan Bima. Peristiwa berharga seputar jalinan kasih, masa lalu, dan cemburu ini dijadikan momen penting bagi mereka untuk saling memperlihatkan kedekatan masing-masing di dunia maya. Terlebih, Bima, yang kerap mendapat tugas dari tempat kerjanya untuk pergi ke luar negri akhir-akhir ini sedikit memberi jarak dalam kesehariannya bersama istrinya. Irma dan Bima sepakat untuk menggunakan facebook tidak hanya sebagai sarana untuk reuni dengan teman-teman, tapi lebih dari itu adalah untuk menjaga keharmonisan yang kian hari kina besar potensinya untuk diguncang prahara. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi masih bersemangat menulis kisahnya kala pertama kali berkenalan dengan facebook di laptopnya. Saat telepon genggamnya berbunyi.&lt;br /&gt;“Mau dibelikan apa buat makan malam nanti?” suara Anto terdengar merdu.&lt;br /&gt;“Apa aja, Say. Ini Ipah di rumah juga udah masak kok”&lt;br /&gt;“Aku beli kue aja ya, buat teman nonton tv nanti malam” Anto mengganti penawarannya.&lt;br /&gt;“Boleh, boleh…jangan yang terlalu manis ya. Seperti yang minggu lalu kita makan di rumah Rinto itu tuh, yang rasa jahe. Trus kue kacangnya juga enak. Tanyain Rinto ya Say belinya dimana”&lt;br /&gt;“Ok, Sayaaang…baik-baik di rumah ya…,” Anto menutup penawarannya.&lt;br /&gt;Santi kembali menghadap laptopnya. Masih ada yang ingin ia tulis.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sampai sekarang, setelah 5 jam Irma meninggalkan rumahnya, aku masih mengecek permintaan pertemananku pada Titin setiap setengah jam. Aku begitu merindukannya. Titin aku anggap seperti kakakku sendiri. Kulitnya yang kuning langsat, matanya yang indah, tawanya yang renyah seolah mengajak setiap orang untuk berdamai dengan kesedihannya, dan tak ketinggalan rambutnya yang indah. Semua hadir dihadapanku saat ini. Dalam diam aku berharap, segala keindahan yang melekat padanya tidak lenyap begitu saja ditelan waktu. Semenjak aku mendengar kabar tentang kepergiannya, aku sempat kehilangan nafsu makan selama hampir satu minggu. Sebelum akhirnya ia menelponku memberi kabar bahwa dirinya baik-baik saja bersama nenek tercintanya. Ketegaran Titin memberiku energi tersendiri dalam menghadapi hidup saat itu. Aku dan Titin mempunyai kesamaan. Kami sama-sama merasa terluka oleh kenyataan yang terjadi dalam hubungan kami dengan orang tua kami masing-masing. Meski jarak memisahkan, aku masih berkirim kabar melalui surat dengan Titin. Terlalu sering menelpon Titin membuat tagihan telpon di rumah membengkak. Begitu pula Titin. Kami sama-sama belum memiliki penghasilan. Tak mungkin membebani orang rumah terlalu berat.&lt;br /&gt;Perjodohan berlatar belakang materi yang dialami Titin bagiku seperti dongeng saja. Aku berharap kisah Titin berakhir bahagia. Aku tak sabar mendengarnya. Kecemasan sejenak menghampiriku kala membayangkan Titin yang ditemukan oleh orang yang semula dijodohkan dengannya di facebook, kemudian ia membayangi kehidupan Titin sekarang. Aku memang sering kelewat berkhayal. Tentunya ada security system yang digunakan oleh facebook untuk menutup akses informasi yang dibagikan di facebook untuk orang-orang tertentu. Jaman sekarang sudah canggih, Santi, jangan berkutat dengan pola pikir lama. &lt;br /&gt;Satu hal menjadi catatanku mengenai facebook. Seperti halnya Irma dan Bima, aku akan menggunakan facebook untuk membuat hubunganku dengan Anto kian harmonis. Anto dengan akunnya, dan aku dengan akunku. Kami akan saling sapa setiap hari. Mungkin Anto akan membagi berbagai kisah yang dialaminya di kantor sebagai status di dinding facebooknya agar aku dapat dengan mudah mengetahui apa yang sedang dikerjakannya. Kemudian aku akan menyapanya, menanyakan apakah ia sudah makan, dan lain sebagainya. Lucu juga. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi menutup kisahnya setelah mengetahui bahwa sebentar lagi Anto akan sampai di rumah. Ia mematikan laptopnya dan beranjak menuju ruang makan. Mencicipi masakan yang disediakan Ipah diatas meja. Ia menyadari banyak perubahan harus terjadi dalam dirinya. Kemampuan memasak yang mesti ditingkatkan. Selera akan tata ruang dalam mengatur rumahnya harus lebih diasah lagi. Semua dilakukan secara bertahap olehnya. Ia tidak ingin menyiksa dirinya sendiri dalam menghadapi kehidupan barunya ini. meskipun waktu sepertinya masih enggan berpihak padanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Anto sibuk memindah-mindahkan saluran tv. Sepertinya sedang tidak ada acara khusus yang ingin ditontonnya. Santi membawa teh hangat yang dibuatnya sendiri untuk ia dan Anto ke meja kecil didepan Anto. Kue yang dibawa Anto untuknya telah tersusun rapi dalam stoples warna warni berbentuk unik hasil berburu perlengkapan rumah tangga di sebuah ITC bersama Irma.&lt;br /&gt;“Say, aku tadi buat akun di facebook,” &lt;br /&gt;Santi mengharapkan reaksi Anto yang pandangannya belum juga lepas dari layar televisi meski teh hangat mengepul didepannya. Tak lama kemudian.&lt;br /&gt;“Oya? Buat sendiri, atau…”&lt;br /&gt;“Dibuatkan Irma. Emang kenapa kalau buat sendiri?”&lt;br /&gt;“Ngga, ngga apa-apa juga. Heran aja, rasanya istriku yang satu ini ngga pernah tertarik sama begituan”&lt;br /&gt;“Bukan ngga tertarik sih sebenernya selama ini. Cuma belum tau aja”&lt;br /&gt;Anto merangkul istrinya, menenggelamkan dalam pelukannya.&lt;br /&gt;“Trus, udah ketemu sama siapa aja? Banyak teman lama?”&lt;br /&gt;“Belum. Kan baru buka hari ini. Lagian baru sedikit sih yang aku kirimin permintaan pertemanan” &lt;br /&gt;Anto kembali diam, seperti menahan kantuk. Perlahan melepaskan pelukannya.&lt;br /&gt;“Banyak surprise kata orang-orang kalau bergabung di komunitas facebook”&lt;br /&gt;“Maksudnya?” ujar Santi pura-pura belum tahu. Terbersit keinginan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan Anto tentang facebook. Jangan-jangan, selama ini sebenarnya Anto punya akun facebook tanpa sepengetahuannya. &lt;br /&gt;“Ya..itu kata teman-teman yang pada punya akun. Aku kan ngga punya,” Anto nyengir sambil perlahan menyeruput teh hangatnya.&lt;br /&gt;“Memang kenapa sih ngga punya? Ngga kepingin setelah mendengar kata ‘surprise’ dari teman-teman kantor?” Santi tidak mau menyerah. &lt;br /&gt;“Ngga lah, buat apa?”&lt;br /&gt;“Kalau aku yang minta kamu tetap tidak mau buka?”&lt;br /&gt;“Santi, tidak semua orang merasa nyaman berkomunikasi dengan orang lain melalui media sosial. Kamu kan tau itu. Kamu sendiri selama ini juga ngga pernah tertarik kan? Mungkin waktu luangmu yang banyak aja sekarang membuatmu merasa ingin.”&lt;br /&gt;“Tapi teman-teman kamu dikantor yang sibuk bekerja juga pada punya kan?” Santi mulai merajuk. Ia tidak ingin kisah saling curiga tumbuh dalam keluarganya hanya karena salah paham seperti yang diceritakan Irma banyak terjadi setelah kemunculan facebook yang fenomenal itu.&lt;br /&gt;“Ya iya…lalu kenapa? Kan aku ngga harus seperti mereka”&lt;br /&gt;Kenapa sih, Anto, kamu bisa sedemikian terobsesi untuk menjadi berbeda dengan yang lain? &lt;br /&gt;“Apa sih salahnya kalo akrab di dua tempat? Maksudku di kehidupan biasa dan di dunia maya?”&lt;br /&gt;“Ngga ada salahnya. Aku cuma merasa ngga nyaman aja,” Anto menutup percakapan. Ia terlihat sangat mengantuk. Santi tidak tega untuk terus memaksanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi memandang langit gelap tanpa bintang melalui jendela kamarnya. Udara sejuk merasuki paru-parunya. Tanah basah bekas hujan menguarkan aroma harum yang sangat disukai Santi. Memuaskan diri dalam sunyi sepi malam ini membuka pemikirannya akan sesuatu. Santi teringat pernak pernik yang semula akan dijualnya melalui ruang pamer kecil di rumahnya. Ia akan memindahkan ruang pamernya ke facebook saja. Tidak repot menata ini itu. &lt;br /&gt;Santi membatalkan niatnya untuk tidur. Ia segera membuka kembali laptopnya dan log in ke facebook. Sebuah bendera merah kecil terlihat di bagian atas beranda facebook. Sebuah pemberitahuan! Santi tidak menduga sama sekali dirinya akan dipertemukan dengan seorang yang selama ini dinantinya. Menyadari bahwa penantiannya membuahkan hasil, Santi tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk segera melihat profil yang dimaksud. Aku punya akses sekarang. Sebuah akses ke kehidupan seseorang. Oh, menyenangkan sekali. Andai facebook adalah sebuah rumah, ia adalah rumah berdinding kaca. Transparan. Rumah semacam itu tentunya membutuhkan penghuni dengan ketegaran mental yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan rumah biasa. Karena kaca adalah pelindung yang mudah rapuh. Kini, wajah seseorang yang dinantinya muncul dihadapannya. Budi Susanto. Demikian nama yang tertulis disamping sebuah foto seorang pria yang Santi kenal sebagai seseorang yang setia membela kepentingannya sejak Santi duduk di bangku SD. Santi menanti pertemanan dengan Titin di facebook. Itu benar. Tapi hal itu ia lakukan karena ia tak ingin Irma tahu siapa yang sesungguhnya ia nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-4181561546050868702?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/4181561546050868702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sepuluh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4181561546050868702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/4181561546050868702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sepuluh.html' title='SEPULUH'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-18523802074504824</id><published>2012-01-17T15:40:00.000-08:00</published><updated>2012-01-17T15:40:34.883-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>SEMBILAN</title><content type='html'>“Benar, Ir, namanya Titin?” Santi terkejut. Spontan ia menginjak pedal rem mobilnya.&lt;br /&gt;“Begitu yang tertulis di akun facebook nya”&lt;br /&gt;“Ohh…” &lt;br /&gt;Sebuah sepeda motor menyalip mobil yang ditumpangi Santi dan Irma sambil memaki. Santi menyesal telah &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;menginjak rem mendadak. Seandainya sang pengendara sepeda motor itu tahu berita apa yang baru saja didengarnya. Mungkin ia akan bereaksi lain. &lt;br /&gt;“Kenapa sih, kayak baru nemuin apa aja”&lt;br /&gt;“Kamu nggak ngerti, Ir… aku tuh kangen banget sama dia kalau memang benar ia Titin temanku SD dulu. Dan lagi terlalu banyak kenangan indah…”&lt;br /&gt;“Dia bilang apa aja sama kamu?”&lt;br /&gt;“Awalnya dia tuh lihat foto kita waktu di pameran handycraft kemarin…umm, sorry bukan maksudku mengingatkan kejadian yang satu itu”&lt;br /&gt;“Udah, cerita dulu aja!”&lt;br /&gt;“Iiih…nggak sabaran banget sih. Sekarang aku malah yang jadi penasaran…”&lt;br /&gt;Santi tertawa melihat reaksi Irma. Irma belum mengerti betapa berartinya Titin dalam kehidupan Santi. Sebagian kenangan masa kecil Santi tersimpan di dalam memori otak Titin. Itu kalau Titin masih seperti dulu. Titin yang dikenalnya adalah anak perempuan kurus dan tinggi yang mempunyai memori di kepala dengan daya tampung yang tinggi. Tidak seperti dirinya dan Budi. Trio Pupuk Bawang. Santi tersenyum mengingatnya.&lt;br /&gt;“Dia tulis komen dibawah foto kita itu. katanya, apa benar ini Santi Rahmawati yang sekolah di SDN 10. Aku tidak yakin. Lalu ia menanyakan alamat orang tuamu. Aku bilang iya, betul alamatnya. Gitu aja sih. Oya, dia juga bilang minta tolong disampaikan salamnya ke kamu.”&lt;br /&gt;Santi melamun mengenang masa kecilnya yang indah bersama Titin. Melihat gelagat sang supir yang sibuk melamun, Irma menepuk bahu Santi,”Neng, tahu nggak kalo kita udah mau sampai?”&lt;br /&gt;Santi memarkir mobilnya di area parkir basement. Cuaca kota Jakarta yang tidak menentu dapat menyebabkan mobil yang baru saja keluar dari sebuah salon mobil ini berubah menjadi basah dan kotor. &lt;br /&gt;Irma mengajak Santi untuk menyusuri deretan kios yang terletak di lantai dasar sebuah ITC di bilangan Jakarta Pusat. Santi memahami keinginan teman sekaligus sahabatnya ini. irma gemar sightseeing, window shopping atau apapun itu namanya, yang penting matanya terpuaskan dengan memandangi beragam produk yang dijual di pusat-pusat perbelanjaan. Dulu Santi menganggap kegemaran Irma ini adalah sesuatu yang sangatlah tidak penting. Baginya, browsing di internet, menemukan barang yang disukai, mencatat tempatnya dijual kemudian langsung menuju tempat tersebut. Focus dan tidak banyak membuang waktu. Namun kini Santi punya pandangan yang berbeda terhadap kegiatan Irma. Dengan berjalan-jalan, Irma tidak hanya mengamati puluhan bahkan ratusan manusia yang melakukan jual beli. Mempelajari bagaimana sebaiknya sebuah ruang pamer toko atau kios menyusun barang dagangannya, melihat antusiasme yang muncul dari pengunjung disana, dan bagaimana keputusan untuk membeli itu terjadi. This is so excited! Sejak saat itu, Santi menganggap bahwa berjalan-jalan di pusat perbelanjaan untuk sekedar window shopping ini adalah sebuah kegiatan yang layak mendapatkan porsi dalam hidupnya setiap minggunya. &lt;br /&gt;Tapi kali ini terasa ada yang mengganjal di benak Santi. Ia tidak yakin rencananya untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya yang telah disusun dengan sedemikian rapi ini akan dilanjutkan. Anto belum bereaksi apa-apa. Keraguan itu tumbuh dalam diri Santi sendiri. Merayap dan membiak menjadi keraguan yang entah sudah berapa kali timbul tenggelam setiap ia ingin mengambil keputusan dalam hidupnya semenjak ia menikah dengan Anto. &lt;br /&gt;Komunikasi, Santi. Bicara! Kamu tidak menikah dengan seonggok batu yang bisa berjalan. Itu selalu yang diutarakan ibunya, pertama kali, kemudian Irma. Dan Santi selalu mengangguk setuju kemudian meninggalkan ucapan mereka di telinganya tanpa pernah mewujudkannya.&lt;br /&gt;Lelah berjalan kaki menyusuri lorong demi lorong di lantai 1, Santi dan Irma berhenti di sebuah tempat makan yang menjual beragam masakan mie, bakso dan beragam masakan chinese food berlabel halal. Tempat yang bersih dan aroma bakso kuah hangat yang menguar ke sekitarnya membuat Santi dan Irma tidak tahan untuk tidak segera duduk dan memesan makanan.&lt;br /&gt;“Jadi, menurutmu, apa yang harus aku lakukan?” Santi membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Buat akun facebook”&lt;br /&gt;&amp;nbsp;“Does it work?”&lt;br /&gt;“Aduh Santiiiii….kamu hidup di jaman apa siiiiihhh…”Irma menjawab gemas.&lt;br /&gt;“Aku bukan nggak tau, Irmaaaa… aku cuma tidak pernah tertarik. That’s all!”&lt;br /&gt;“Kamu pernah dengar kalau orang tidak bisa bilang tertarik atau tidak sebelum ia masuk ke dalamnya?”&lt;br /&gt;“I know it”&lt;br /&gt;“So, just have fun in it! Kamu tidak hanya akan menemukan Titin dan beberapa teman lama kamu. Kamu akan menemukan dunia baru disana. Kalau kamu anggap omonganku barusan kekanak-kanakan, terserah. Tapi tidak sedikit juga yang dapat mewujudkan keinginannya untuk menjadi entrepreneur dari media yang satu ini”&lt;br /&gt;Santi sibuk mengunyah bakso daging berisi telur puyuh kegemarannya. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Anto sibuk membolak-balik agenda kerjanya. Rasanya baru 10 menit yang lalu ia selesai meeting dengan customer service department untuk mengolah rencana kerja tahun 2008. Tapi sekarang ia kebingungan menyusun minutes of meeting yang harus dikirimkan ke Direksi hari ini. Pikirannya masih saja dipenuhi oleh kejadian yang menimpa rumah tangganya. Salah paham. Hanya itu sebenarnya yang terjadi antara dirinya dengan Santi, istrinya. Tapi cukup membuat kepalanya berat dari hari ke hari. Karena salah paham itu berakhir dengan pertengkaran. 2 hari tanpa tegur sapa. Hari berikutnya sudah terlihat kelelahan dari kubu sang istri. Tegur sapa mulai berjalan. Namun kebekuan masih terasa. Meski Santi sudah mulai melepasnya di garasi mobil pagi hari saat Anto berangkat ke kantor, tetap saja acara minum teh bersama sepulang Anto kerja masih belum bisa terwujud. Dan, yang lebih parah lagi, dirinya masih tidur di sofa di depan televisi ruang keluarga. Anto sadar itu pilihannya. Istrinya sejak awal tidak pernah memintanya untuk tidur di tempat tersebut. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;Tanpa Anto sadari, Rinto, koleganya di kantor, tiba-tiba muncul dihadapannya.&lt;br /&gt;“Hei, ada yang nyelonong nggak pake permisi nih” tegur Anto.&lt;br /&gt;Rinto dengan ringan menjawab,“Siapa suruh pintu dibiarkan terbuka gitu aja”&lt;br /&gt;“Kenapa sih, lo, To, suntuk banget kayaknya,”lanjut Rinto.&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa. Ini lagi susun minutes of meeting buat bos”&lt;br /&gt;“Gua ganggu nggak nih?”&lt;br /&gt;“Nggak, lah, kebetulan gua lagi kehilangan mood juga nih,” Anto menyahut lemas.&lt;br /&gt;“Lo sama istri lo ada acara nggak malam minggu ini?”&lt;br /&gt;“Mmm…nggak ada, Rin, kita nggak ada acara kantor kan? Kalo istri gua kan udah nggak kerja…”&lt;br /&gt;“Jadi bisa dong ya datang ke acara nujuh bulan kandungan istri gua”&lt;br /&gt;“Nujuh bulan? Wah, selamat ya, Rin, nggak ngira nih, bakal ada bapak baru! Selamat, sekali lagi selamat!”&lt;br /&gt;“Dimana acaranya?”&lt;br /&gt;“Ya di rumah gua lah…masak iya di rumah elo!”&lt;br /&gt;Anto dan Rinto tertawa bersama. &lt;br /&gt;“Eh, jangan lupa ya, ajak istri lo. Gua nggak bakalan bukain pintu buat lo kalau lo nggak ajak Santi…”&lt;br /&gt;“Aku ajak dia, Rinto. Aku pastikan itu”&lt;br /&gt;Anto tahu Rinto tidak sungguh-sungguh dengan ancamannya. Tak urung dirinya tetap memikirkan bagaimana ia akan memulai ajakannya pada Santi. Mungkinkah Santi menyambut ajakannya? Atau Santi lebih memilih untuk di rumah bersama Ipah, pembantunya? Dan membiarkan dirinya menghadiri acara nujuh bulan, acara yang identik dengan kegiatan wanita ini? Ah, sudahlah. Apa yang terjadi biarlah terjadi. &lt;br /&gt;Anto kembali mencoba memusatkan pikirannya pada pekerjaan dihadapannya. Pukul 4 sore. Itu artinya tidak lebih dari 1 jam lagi email yang sedang disiapkannya harus terkirim. Tapi lagi-lagi bayangan Santi mengganggu. Anto meragu dengan sikap yang ditunjukkan Santi akhir-akhir ini. Semenjak istri yang dinikahinya 2 tahun yang lalu ini berhenti bekerja. Benarkah Santi berhenti bekerja untuk dirinya? Seringkali keraguan menyapa. Mengajaknya untuk berfikir ulang atas sikapnya selama ini pada istrinya. Lebih tepatnya selama istrinya masih bekerja. Keengganannya untuk ikut serta pada&amp;nbsp; setiap acara Santi, tidak perduli apakah itu family gathering ataupun undangan pernikahan. Meski dirinya terus berjanji akan mendukung apapun keputusan Santi akan hidupnya. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi sedang asyik mengutak-atik barang-barang yang sedianya akan dijual entah kapan realisasinya. Kiriman paket yang tiba siang hari tadi melengkapi sejumlah barang yang dipesannya. Mereka harus bersedia teronggok sementara di gudang hingga sang empunya memutuskan akan dikemanakan lagi mereka. Merenung di ruang pamer rumah tersebut menunggu pembeli, atau menetap di tempatnya kini hingga melapuk di makan usia. Kini mereka semua gamang, demi menatap gelisah di mata Santi dalam diam.&lt;br /&gt;Santi merasa seseorang mengawasi gerak-geriknya. Ia menoleh dan mendapati Anto memandangnya dari luar gudang. Santi bingung, apa yang mesti ia katakana pada Anto seandainya Anto menanyakan nasib barang-barang itu nantinya. Don’t worry, Santi, tell Anto that you’re gonna sell it via social network. Kata hatinya berbicara.&lt;br /&gt;“Malam minggu ada acara?” suara Anto mengagetkan Santi. Yang ditanya menoleh sebentar lalu berkata,”Nggak. Memang ada apa?”&lt;br /&gt;Santi menerka-nerka dalam hati. Apakah Anto kali ini berubah? Akan bersikap lebih lunak padanya? Menyesali perbuatannya? Ah, sudahlah Santi. Don’t expect too much.&lt;br /&gt;“Malam minggu nanti, Rinto undang kita buat makan malam di rumahnya. Acara nujuh bulan kandungan istrinya. Katanya, ia mau kita datang, siapa tahu berkah atas keluarga Rinto menular ke kita.”&lt;br /&gt;Yah, gara-gara orang lain lagi, gerutu Santi dalam hati. Benar, mestinya ia tidak usah berharap terlalu banyak. &lt;br /&gt;Anto menghela nafas. Mensyukuri bibirnya yang berhasil melontarkan kalimat panjang lebar di hadapan istrinya.&lt;br /&gt;Kemudian keadaan kembali hening.&lt;br /&gt;Selesai menyibukkan diri dengan pernak-perniknya, Santi bergegas ke dapur, menjerang air.&lt;br /&gt;“Sekarang kalau buatin teh gulanya dikurangin ya. Bukan apa-apa sih, jaga kesehatan aja,” Anto berbicara seolah seluruh rumah mendengarkan suaranya.&lt;br /&gt;Santi belum ingin menghiraukan. Tapi hatinya mulai bergetar perlahan. Ada rindu yang terasa namun tak ingin terlihat oleh siapapun. Santi merasakan pipinya menghangat. &lt;br /&gt;Berada di ranjang yang sama dengan Anto adalah hadiah bagi Santi. Ia merasakan tangan Anto tak lepas membelai keningnya, kemudian pipinya, hingga sentuhan lembut perlahan pada bibirnya. Akhirnya kerinduan itu menyatu, melebur dalam kehangatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-18523802074504824?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/18523802074504824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sembilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/18523802074504824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/18523802074504824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/sembilan.html' title='SEMBILAN'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-5298721681667847602</id><published>2012-01-10T20:50:00.000-08:00</published><updated>2012-01-10T20:50:29.754-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>DELAPAN</title><content type='html'>Perih. Hanya itu sesungguhnya yang ingin aku utarakan. Tidak lebih. Tapi aku tidak akan pernah bisa menjelaskan mengapa jemari ini begitu kuat keinginannya untuk terus menari diatas tuts keyboard. Mendung di luar masih terus menggelayut. Aku mengharapkan hujan turun. Mengguyur semua yang mengganjal di benakku hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Ingatanku begitu kuat mengenai beberapa hal dalam hidupku. Setidaknya sejak aku lulus SD, mengenyam pendidikan SMP dan SMA di Jakarta dan terakhir kuliah di Jogja. Mereka memberiku warna. Beragam warna tanpa suara. Kini aku ingin memanfaatkan waktu luangku untuk menuliskannya. Sedikit demi sedikit. Sekedar menjadi perintang waktuku yang berlebih.&lt;br /&gt;Aku berumur 11 tahun waktu itu. Selisih 1 tahun dengan kebanyakan teman sekelasku. Meski demikian, aku bukanlah satu-satunya yang berumur muda. Ada 2 teman lain yang berumur sama denganku. Yang satu laki-laki bernama Budi dan yang satu perempuan bernama Titin. Hebat ya, aku masih mengingat mereka semua. Kalau nama belakangnya, sudah dipastikan saat ini aku lupa-lupa ingat. Mungkin juga Budi dan Titin itu adalah nama panggilan. Ah, sudahlah, yang pasti mereka adalah teman sepermainanku. Tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah. Tahu kenapa aku dekat dengan mereka? Bukan hanya karena usia. Atau ya, mungkin usia itulah penyebabnya. Yang pasti, teman-temanku yang lain, yang telah berusia 12 tahun waktu itu menganggap kami bertiga ‘pupuk bawang’. Itu istilah yang dipakai budeku yang tingga di Jogja hingga kini. saat aku mengejar gelar sarjana di Jogja, bude masih saja mengingatkanku akan sebutan itu. ‘Ponakanku Pupuk Bawang yang manis’ begitu ia biasa memanggilku.&lt;br /&gt;Sebagai trio pupuk bawang di sekolah, tidak jarang kami menjadi sasaran kenakalan teman sekelas kami yang lain. Menurut mereka, aku dan dua orang teman seusiaku tidak akan berani membalas kelakuan mereka. Satu hal yang paling melekat kuat diingatkanku adalah ketika teman-teman nakalku di kelas memasukkan vcd porno bajakan kedalam tas sekolahku, Titin dan Budi. Tiga vcd porno sekaligus mereka beli atau dapatkan entah mana yang benar, untuk menjebak kami bertiga. Sudah dapat diduga akibatnya. Tiga buah kamar mandi paling kotor di sekolah kami menjadi tempat kami berkubang selama seminggu sepulang sekolah. ‘Sikat sampai bersih!’. Demikian perintah bapak guru wali kelas kami waktu itu. Geng nakal kelas kami tidak puas sampai disitu saja. Kerap kali mereka dengan sengaja memasukkan kotoran atau sengaja menyumbat saluran air keluar di masing-masing kamar mandi agar aku dan kedua temanku makin sulit membersihkannya. Waktu itu kami bertiga tiap hari baru bisa tiba di rumah pukul 4 sore, sementara sekolah sudah selesai pukul 12 siang. Tidak hanya itu. Kepala sekolah juga melaporkan kami ke orang tua kami masing-masing dan mengancam untuk mengeluarkan kami dari sekolah.&lt;br /&gt;Banyak hal yang belum aku mengerti waktu itu. Diantaranya yaitu mengapa Tuhan membiarkan kecurangan terus berlangsung begitu saja dihadapanku. Aku belum tahu kalau besi itu harus ditempa untuk menjadikannya makin keras. Aku hanya tahu bahwa aku di’bully’ secara terus menerus oleh geng nakal di sekolahku tanpa ada yang membela. Wali kelas dan kepala sekolah menganjurkan orang tua kami untuk mengkonsultasikan kelakuan kami ke psikiater. Mengapa harus aku yang dibawa ke psikiater, mengapa bukan mereka, orang-orang yang menghukumku tanpa bertanya terlebih dahulu? Atau setidaknya bapak wali kelasku yang akhirnya ketahuan mengkoleksi vcd porno di kamar kostnya dan menjadikan vcd dari tas kami sebagai bagian dari koleksinya?&lt;br /&gt;Keadilan baru sedikit aku mengerti kala aku mendengar bahwa salah satu pentolan geng nakal itu akhirnya digelandang ke kantor polisi. Ia bertikai dengan teman mainnya dan berujung pada luka tusukan di lambung temannya itu. &lt;br /&gt;Lain cerita di sekolah, lain pula cerita di rumah. Demi mendengar kelakuan anaknya, orang tuaku sangat risau. Bapak mengurungku di dalam kamar tamu sehari penuh. Kamar tamu yang didalamnya hanya terdiri dari dua buah benda. Tempat tidur dan lemari pakaian. Keduanya adalah benda kuno peninggalan nenek. Konon kedua benda itu seumur ibuku. Aku hanya bisa menangis hingga akhirnya tertidur. Bangun tidur, pintu masih belum juga terbuka. Sayup-sayup terdengar suara keras. Aku mempertajam pendengaranku, mencoba meraih jawaban atas suara itu. Sebuah benda menyentuh benda keras berulang kali. Aku mencoba mengintip melalui celah di lubang kunci. Gagal. Tak terlihat apapun. &lt;br /&gt;Suara keras itu mendekat. Aku dapat merasakan hawa panasnya memasuki kamar tempat aku dikurung. &lt;br /&gt;‘Sekarang baru kamu menyesal?’&lt;br /&gt;‘Aku tidak merasa ada yang perlu disesali’&lt;br /&gt;‘Apa maksudmu tidak ada yang perlu disesali? Liat kelakuan dia. Memalukan! Kalau saja dulu ide gila ibumu untuk memberikan anak pertama kita ke saudaramu yang mandul itu tidak begitu saja kau turuti, kita tidak hanya akan memelihara anak yang ternyata kelakuannya seperti ini!’&lt;br /&gt;Aku berharap ada yang salah dengan pendengaranku. Tidak! Tidak mungkin aku punya kakak. Dimana kakakku sekarang?&lt;br /&gt;‘Diam! Anak kita sudah tenang di alamnya!’&lt;br /&gt;‘Dia tidak akan secepat itu meninggalkan kita seandainya kita tidak menyerahkannya pada saudaramu itu! Ingat itu! Kamu pikir aku, ibunya, mudah melupakannya begitu saja?’&lt;br /&gt;‘Diam, Ana! Diaaaaammmm!!&lt;br /&gt;Aku mendengar benda keras jatuh menghantam lantai. Mungkin tumpukan buku yang ada diletakkan bapak disamping tv atau benda yang lain, aku tak tahu. Tapi tidak ada suara kesakitan. Hanya tangisan ibu yang terdengar menyayat hati.&lt;br /&gt;Hari itu aku baru tahu kalau aku sesungguhnya bukanlah anak tunggal. Aku punya kakak. Ia sudah berbahagia di alam keabadian. Ia tidak mengalami apa yang aku alami saat ini. Di bully teman sendiri, di hukum tanpa peradilan, dan dikejutkan oleh kenyataan yang tidak pernah aku duga sebeumnya. Bapak lupa kalau ia menghukumku di kamar ini. Membuatku mendengar apa yang mungkin mereka ingin sembunyikan dariku selamanya.&amp;nbsp; &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi mendengar bunyi klakson. Anto pulang kerja lebih awal dari biasanya. Tak perlu menyambutnya. Toh Anto sedang tidak ingin. Begitu juga dirinya. Kebekuan mereka dua hari ini membuat Santi terbiasa dengan kedatangan dan kepergian Anto yang dianggapnya sebagai angin lalu. Anggap saja Anto sedang tidak ingin diganggu oleh kehadirannya. Mereka memang sedang saling tak mengacuhkan. Biar saja, pikir Santi. Kesempatan untuk merenung dan menuliskan kisah hidupnya yang masih tercecer diingatan. Siapa tahu nanti ada majalah yang mau memuat sedikit kisahnya ini.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Aku tidak ingat lagi kapan tepatnya celah selebar 60 cm diantara tempat tidur dan lemari kuno yang ada di kamar tamu itu mulai menjadi tempatku bersembunyi, merenung sambil ketakutan. Rasanya sih hari itu. Hari yang sama dengan kenyataan pahit yang aku dengar dari mulut orang tuaku sendiri. Aku merasa menjadi sosok yang tidak dikehendaki kehadirannya. Ibu memilih berandai-andai tentang keberadaan kakakku. Atau mungkin maksud beliau adalah seandainya Santi punya kakak, maka kelakuannya akan lebih terkendali. Aku tidak sempat menduga-duga waktu itu. Sembilu yang merajam hatiku terlalu tajam. Atau malah terlalu tumpul sehingga perih sayatannya terasa. Tidakkah memintaku untuk mengklarifikasi apa yang sesungguhnya terjadi membuatku lebih merasa bangga memiliki mereka ketimbang mengurungku di kamar ini tanpa penjelasan apapun? &lt;br /&gt;Mereka menemukanku dalam keadaan demam di kamar hukumanku. Ibu menyalahkan bapak karena memperlakukanku semena-mena. Mengurung tanpa memberi makanan dan minuman. Aku ingin berkata kalau aku butuh kasih sayang mereka saat itu. Bukan yang lain. Bukan makanan ataupun minuman. Bapak balik menyalahkan ibu dengan tuduhan pola didik, terlalu sering meninggalkanku dengan segudang aktifitasnya. Mereka kembali ribut. Aku yang menggigil dengan temperature tubuh yang tinggi mencoba menggapai tangan ibu. Sekedar untuk mendapatkan kehangatan. Begitu tangannya kusentuh, ia seperti baru diingatkan bahwa anaknya demam dan membutuhkan pertolongan. &lt;br /&gt;Sejak saat itu aku lebih banyak diam. Kurasakan bapak dan ibu berusaha untuk mengurangi intensitas pertengkaran diantara mereka dan lebih banyak bersikap manis padaku. Sebenarnya, aku sangat ingin menanyakan pada ibu tentang kakakku. Apakah wajahnya mirip denganku, apa makanan kesukaannya, mengapa ia harus pergi dari rumah ini, dan lain sebagainya. Tapi aku tidak berani. Aku khawatir akan dua hal. Pertama pertanyaanku akan membuat ibu teringat akan peristiwa itu dan bersedih. Kedua karena sesungguhnya akupun tidak siap untuk menerima kenyataan itu. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi mendengar Anto mengisi cangkirnya dengan air panas dari dispenser. Pasti ia sedang membuat teh. Itu adalah pekerjaan Santi tiap kali Anto pulang kerja. Menyapanya di garasi. Menanyakan kabar hari ini, dan menyiapkan secangkir teh hangat. Tapi sekarang… Terbersit keinginan di benak Santi untuk membuatkan teh di teko dari tanah liat yang mereka miliki untuk kemudian menghabiskan petang dengan minum teh sambil menonton televisi. Berdua. Bukan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Tapi niat itu ia urungkan. Ia merasa saatnya belum tepat. Ekspresi wajah Anto belum kunjung melunak. Membuatnya ragu. Santi memilih untuk melanjutkan mengisi catatannya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Orang tuaku tidak kesulitan mendapatkan sekolah untukku selepas SD. Aku mendapat nilai ujian nasional nomor dua tertinggi di sekolah. Urutan pertama ditempati Budi, teman bermainku. Aku merasa beruntung mendapati diriku kembali satu sekolah dengan Budi dan Titin. Hingga suatu hari keadaan memisahkanku dari dua orang teman baikku. Budi, harus pindah kota karena kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Ia kemudian diasuh oleh nenek dan kakeknya yang tinggal di Bandung. Sedang Titin, menurut orang tuanya ia kabur dari rumah. Tapi seorang teman yang kutemui di Jogja selagi aku kuliah disana bercerita kalau Titin enggan dijodohkan dengan anak seorang teman ayahnya yang ingin menikahkan anaknya dengan Titin yang saat itu masih kelas 2 SMP. Titin memang cantik tapi perjodohan semacam itu tidaklah mungkin terjadi tanpa latar belakang materi. Aku bangga pada Titin yang berani memutuskan sesuatu untuk hidupnya sendiri. Sementara sekian banyak wanita di kota ini menyerahkan hidupnya pada lelaki karena uang. Aku rindu pada kedua temanku itu. ingin rasanya bertemu dan berbagi cerita lagi pada mereka seperti dulu. Tapi saat ini aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaan mereka.&lt;br /&gt;Kisahku selama SMU tak banyak yang menarik. Beban pelajaran dari hari ke hari semakin berat. Di rumah, aku tak lagi terlalu perduli dengan segala perdebatan yang terjadi pada kedua orang tuaku. Aku memilih menyibukkan diri dengan belajar. Melihatku bertambah dewasa, ibu dan bapakku kerap memanggilku untuk memberikan wejangan yang sesungguhnya lebih mirip ajang pencarian pembenaran atas pendapatnya masing-masing. Atas tuduhan negatifnya pada pasangannya sendiri. Meski demikian, tak jarang rasa haru menyelimuti diriku kala kudengar masing-masing dari mereka berkata padaku seperti ini ‘apapun yang kau lihat saat ini di keluargamu, pada diri bapak dan ibumu, tetaplah berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Baik-buruk, bahagia-tidak bahagia tidak pernah absolut. Tapi bermanfaat bagi orang lain adalah keharusan. Kebaikan dan kebahagiaan, apapun itu bentuknya akan mengiringi orang-orang yang senantiasa bermanfaat bagi orang lain.’ Aku ingat betul mereka mengatakan itu di hari yang berbeda. Pada suasana yang berbeda pula. Tapi saat itu aku duduk di bangku kelas 3 SMU. Aku menduga ada kekhawatiran yang sulit diungkapkan padaku saat itu. Diantara semua peristiwa yang terjadi dalam hidupku selama aku tinggal bersama mereka, diantara kemarahan, canda tawa, dan mungkin beragam rasa kecewa, nasihat yang aku ceritakan barusan membuatku meneteskan air mata. Manusia memang makhluk yang sempurna. Sesempurna segala keragaman sikap dan tingkah lakunya. Harapan dan kecamannya pada kehidupan. Aku menutup lembar pengalamanku tinggal seatap dengan mereka kala seluruh barang-barang milikku kukemasi ke dalam 2 buah kopor berukuran raksasa untuk dibawa ke Jogja. Kota kedua yang membesarkanku. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi melirik ke arah penunjuk waktu yang berada di laptopnya. Pukul 10.05pm. Anto masih menonton tv.&amp;nbsp; Sejak kekacauan di hari ulang tahunnya 2 hari yang lalu, Anto selalu tidur di sofa di depan tv. Ia membiarkan Santi tidur di ranjang mereka berdua seperti biasa. &lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Kalau bukan karena budeku yang di Jogja itu, yang suka memanggilku dengan istilah ‘pupuk bawang’, mungkin selamanya aku tidak pernah tahu peristiwa yang menimpa kakakku. Seorang yang namanya selalu terungkit tiap kali bapak dan ibu berteriak saling mempertahankan pendapatnya. &lt;br /&gt;Bude adalah kakak kandung ibu yang memilih untuk tinggal di Jogja sewaktu ibu mengajaknya ke Jakarta untuk mengadu nasib selepas kuliah. &lt;br /&gt;‘Kamu yakin sudah siap mendengar cerita bude? Jangan paksa kalau belum, Nduk. Nanti malah kamu ndak bisa tidur’&lt;br /&gt;‘Ya siaplah, Bude. Aku sudah menanti saat seperti ini sejak SD loh. Sekarang aku sudah mahasiswa. Kalau bukan sekarang, kapan lagi?’&lt;br /&gt;‘Baiklah’ katanya. Ia pergi ke kamarnya yang pintunya terhubung langsung dengan ruang keluarga tempat kami biasa bercakap-cakap. Selembar foto ada di tangannya sewaktu ia keluar dari kamar.&lt;br /&gt;‘Ini, Nduk. Jangan bilang-bilang ibumu ya, kalau bude memperlihatkan foto ini ke kamu. Bude rasa memang sudah waktunya kamu mengerti tentang kakakmu’&lt;br /&gt;Foto itu memperlihatkan seorang wanita yang sedang menggendong bayi dan seorang pria berdiri di sampingnya. Pria dan wanita itu memperlihatkan ekspresi yang umum diperlihatkan oleh pasangan muda yang baru saja dikaruniai anak. Wajah-wajah segar penuh harap itu menatapku satu persatu. Aku pernah melihat foto serupa di album foto di lemari ibu. Tapi pakaian yang dikenakan berbeda. Wajah wanita dan prianya pun sudah agak lebih tua. Wajarlah karena bayi dalam gendongan itu adalah aku, sementara di foto yang berada di tanganku kini adalah kakakku.&lt;br /&gt;Aku pandangi lama-lama foto tersebut sambil duduk di atas lincak yang ditaruh bude di depan tv. Rumah bude cukup besar. Terasa lebih luas lagi karena bude saat itu tinggal sendirian. Dua orang anaknya, Wira dan Dwi, telah berkeluarga kemudian pindah ke Jakarta. Pakde sudah meninggal 5 tahun yang lalu karena serangan jantung. Rumah bude nyaman. Aku betah tinggal disana. Terlebih setelah tahu bude adalah salah satu saksi kunci sebuah rahasia yang ingin kuketahui.&lt;br /&gt;‘Sudah puas, Nduk, lihat fotonya? Serius banget kamu’, kata Bude. Kulihat piring berisi jadah goreng ditangannya. Bude memang paling pandai menjamu tamu dengan baik. Makanan dari beras ketan ini nikmat sekali dimakan di sore hari bersama dengan minum teh. Itu menurut versiku.&lt;br /&gt;‘Benarkah kakak dititipkan atau semacam diberikan ke salah satu saudara kandung bapak yang mandul?’&lt;br /&gt;‘Benar, Santi’&lt;br /&gt;‘Kenapa?’&lt;br /&gt;‘Karena hutang budi. Itu yang bude tahu’&lt;br /&gt;Aku terdiam. Aku percaya bude tahu betul aku ingin mendengarkan ceritanya hingga tuntas.&lt;br /&gt;‘Bapakmu pernah diangkat ginjalnya. Kalau ndak salah waktu remaja.’&lt;br /&gt;‘Lalu keluarga bapak tidak mampu membeli ginjal dari bank ginjal yang tidak ada di Indonesia? Trus, saudara bapak yang mandul ini yang menyumbangkan ginjalnya?’&lt;br /&gt;Aku nyerocos tanpa sanggup dibendung. Kisah semacam ini kerap aku saksikan di televisi. Hanya di layar kaca. Cibiran kerap aku perlihatkan kala menonton tayangan serupa. Sinetron banget sih, produser acaranya kurang kreatif, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Dan kini, anggukan setuju kepala bude seperti palu godam yang menghantam kepalaku. Bertubi-tubi, tanpa aku bisa mengelak sama sekali.&lt;br /&gt;Kelanjutan kisah drama hutang budi ini tak perlu lagi aku dengar dari bude. Aku dapat menebaknya sendiri. Dan bude, ia membisu sambil menghela nafas panjang.&lt;br /&gt;‘Apa yang terjadi semua sudah digariskan yang di atas, Nduk.’ Bude membelai rambut sebahuku. ‘Tidak ada yang perlu disesali’, lanjutnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Santi merasakan beban di pelupuk matanya. Ia kembali melirik jam digital laptopnya. Pukul 12.07. ia mematikan layar laptopnya untuk pergi ke kamar tidur. Televisi di depan Anto masih menyala. Sementara sang penonton sudah tertidur pulas di sofanya. Santi ke kamarnya mengambil selimut, menutupkan selimut tersebut ke tubuh Anto, kemudian mematikan televisi. Sebelum ia naik tangga yang menuju ke kamar tidurnya, ia menyempatkan diri untuk mengecup dahi Anto perlahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-5298721681667847602?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/5298721681667847602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/delapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5298721681667847602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/5298721681667847602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/delapan.html' title='DELAPAN'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-2414490197891337344</id><published>2012-01-09T04:19:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:19:02.015-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>TUJUH</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto memandang jam dinding di rumahnya. Pukul 9 lebih 10 menit. Usahanya untuk menghubungi Santi yang tak kunjung menunjukkan titik cerah membuatnya melamun di depan televisi. Liputan mengenai banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta sejak dirinya tiba di rumah sore tadi membuatnya makin cemas. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tiramisu Cake yang sedianya dinikmati berdua dengan istrinya malam ini seolah turut merenung di bawah &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;temaram lampu ruang makan. Anto ragu memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Terlebih dua buah lilin angka 3 dan 1 telah bertumpu dengan indah pada cream yang menghias bagian atas cake tersebut. Memasukkannya ke lemari pendingin akan mengharuskannya mencabut lilin-lilin tersebut terlebih dahulu. Ruang yang ada di lemari pendingin miliknya tidak memungkinkan cake tersebut masuk beserta lilin yang menancap di bagian atasnya. Dan itu berarti cream yang menghias bagian atas cake tersebut akan berubah. Membentuk jejak lilin yang dicabut. Tidak, Anto tidak ingin melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Jarum jam bergeser ke pukul 9 lebih 15 menit. Belum ada tanda-tanda kepulangan Santi. Dalam hening, kekalutan menguasai dirinya. Melemahkan segala prasangka positifnya terhadap sang istri yang sangat ia khawatirkan saat ini. Santi berjanji untuk sampai di rumah pukul 5. Seharusnya ia tahu pukul berapa ia mesti menyelesaikan segala urusannya di Bogor untuk segera kembali ke Jakarta. Jangan sampai ia terjebak dalam genangan air saat ini hanya karena terlalu lama berbelanja roti dan beragam makanan Italia di Bogor. Atau lupa waktu di factory outlet. Argh!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mondar mandir dari ruang satu ke ruang yang lain dan membolak-balik majalah yang dibawanya dari kantor menjadi kegiatan Anto ditengah gemuruh jiwanya. Bagaimana kalau orang tua Santi menelpon karena melihat tayangan di televisi dan ternyata menemukan bahwa Anto tidak tahu menahu dimana Santi berada saat ini. Bagaimana kalau orang tuanya juga menanyakan hal yang sama? Sore tadi ibunya sempat menghubungi handphonenya menanyakan mengapa Santi tidak dapat dihubungi. Anto dengan ringan memberi tahu kalau kemungkinan handphone Santi tidak mendapatkan sinyal dengan baik karena ia sedang berada di luar kota. Cuma ke Bogor dan hanya sebentar. Memang itulah yang seharusnya terjadi&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ulang tahun kok malah ke luar kota…”Anto mencoba mengingat percakapan dengan ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ya nggak apa-apa lah Bu. Memang ada hubungannya ulang tahun dengan luar kota? Lagian, dia cuma ke Bogor kok sama temannya. Sore nanti juga udah sampai rumah. Coba ibu hubungi lagi nanti sore. Tapi sms aja juga nggak apa-apa kok Bu. Santi biasanya juga udah senang”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak lama kemudian pembicaraan segera berakhir.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Seandainya ia tahu yang akan terjadi sore hari ini. Seandainya Santi tidak perlu pergi ke Bogor. Seandainya tidak ada rencana membuka toko. Seandainya… Urgh! Anto mencoba mengendalikan penyesalannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bergesernya jarum detik yang biasanya terasa cepat kini ia rasakan begitu merayap. Menjelajahi ruang demi ruang yang telah dilewatkannya bersama istrinya. Pertemuan pertamanya di rumah seorang teman Anto yang sengaja mengenalkan Anto pada Santi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;‘Lo belum pernah aja ketemu dengan dia. Orangnya asyik kok, baik, manis lagi. Dia orangnya dewasa, To, ngga kayak cewek-cewek temen kita. Itu menurut gua ya. Nanti kalau udah ketemu, lo bisa menilai sendiri’&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau dilihat dari semangatnya mengejar karir, menabung, dan kemampuannya mendengar keluh kesah orang lain, istrinya memang bisa dikategorikan dewasa. Santi pendengar yang baik. Meski Anto tahu kalau tidak ada yang mampu Santi dengarkan dari dirinya yang introvert dan lebih suka mengeluh diatas kertas ketimbang mengutarakannya lewat kata-kata. Mungkinkah Santi menginginkan kegiatan di rumah agar ada seseorang yang ia dengarkan keluh kesahnya? Cerita kesehariannya? Ataupun curhat-curhatnya? Tanpa sadar Anto menggeleng perlahan. Menyadari sekian banyak hal yang mungkin tidak ia ketahui tentang istrinya. Di tahun kedua pernikahannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hujan diluar sudah mulai reda. Tapi suara ketukan perlahan seperti masih terdengar. Anto menajamkan telinga. Ya ampun, Santi kah itu yang mengetuk-ngetuk pintu pagar?! Ia melihat jam dinding. Pukul 10.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto berlari mengambil kunci pagar dan garasi rumahnya. Wajah istrinya terlihat letih dan pucat. Anto ingin memeluk istrinya segera. Tapi ia ragu. Santi terlihat terlalu tegar dalam keletihannya. Entah mengapa Anto merasa menyesal telah mengasihani istrinya. Dirinya menanti dalam ketidakpastian, kekhawatiran, kegundahan akan kehilangan belahan jiwanya dan Santi kini terlihat biasa-biasa saja? Anto mendengus perlahan sembari mengunci pintu garasi. Ia melhat istrinya membeku di depan mobil. Tak lama kemudian berkata,”Maaf ya, Say. Jalanan macetnya bukan main. Banyak pohon tumbang di jalan, belum lagi banjir yang menggenangi beberapa jalan raya menyebabkan lalu lintas semrawut. Aku juga mesti antar Irma dulu ke rumahnya”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Masuklah dulu,” ujar Anto datar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sambil menenteng barang bawaannya, Santi masih terus saja berbicara seolah seluruh bagian dari hidupnya selama setengah hari terakhir ini hanyalah segudang penyesalan. Ia tak perduli lagi apakah Anto bersedia mendengarkan atau tidak. Ia hanya bisa berharap dewi fortuna berpihak padanya kali ini. Kediaman Anto selama ini lebih banyak menebar rasa bimbang tak berkesudahan bagi Santi. Dan sekarang, di hari ulang tahunnya, Anto terlihat berbeda. Tidak ada senyum ceria seperti di hari ulang tahunnya yang sudah-sudah. Ia berharap kicauannya kali ini mendapat tanggapan yang dapat membuat dirinya mengerti jalan pikiran dan perasaan Anto terhadap kejadian yang ia alami hari ini. Meski ia sesungguhnya sedang merasa sangat lelah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Santi mengeluarkan sedikit demi sedikit sampel dan barang-barang yang sempat dibeli langsung di beberapa home industry di Bogor dan sekitarnya. Selebihnya akan dikirim minggu depan karena sedang di produksi. Barang-barang tersebut disimpannya terlebih dahulu di gudang. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto bergeming di depan televisi yang sengaja tidak dimatikannya. Meski pikiran dan hatinya tidak menyimak siaran yang sedang berlangsung sama sekali. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Waktu Irma kamu antar pulang, bagaimana reaksi suaminya?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Deg. Santi mendengar degup jantungnya sendiri. Akhirnya Anto bereaksi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Baik-baik saja. Bima namanya. Ia membukakan pagar dengan membawa baju hangat untuk Irma. Ia memeluk istrinya begitu pintu pagar terbuka. Ia juga sempat menyilakan aku untuk duduk dulu. Tapi aku menolak. Ia terlihat sangat khawatir.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Bukan. Bukan begitu seharusnya, Santi. Hampir semua laki-laki akan merasa tersinggung bila dibandingkan dengan laki-laki lain. Cara kamu berbicara tadi seolah membandingkan apa yang dilakukan Bima dengan apa yang ia lakukan terhadapmu. Ini kesalahan fatal.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada bagian dari diri Santi yang terus menerus mengetuk kepalanya. Menyadarkan bahwa apa yang barusan terlontar dari mulutnya adalah pedang yang siap menebas kepalanya setiap saat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Jadi menurutmu, aku tidak merasa khawatir akan keadaanmu!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Nah!&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bukan begitu…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Jadi?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku cuma cerita, Anto. Kan kamu yang tanya barusan…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada ‘Say’ atau kata-kata mesra penggantinya yang lain dari mulut keduanya. Santi tidak berani menduga-duga yang akan diucapkan Anto berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kenapa handphone tidak dibawa?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku lupa, ketinggalan waktu sibuk siapkan proposal dan surat-surat yang harus kubawa”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ketahuilah, Santi. Masalah handphone yang ketinggalan barulah awal dari kegiatan memukul genderang perang. Akan ada lebih banyak masalah kecil yang terungkit hanya untuk memuaskan ego seseorang yang merasa terhina karena dibandingkan. Bersiaplah…&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kamu tau berapa banyak ucapan selamat ulang tahun yang kamu sia-siakan begitu saja karena kelalaianmu? Ibu tadi telepon bilang kalau ia ingin mengucapkan padamu langsung tapi tidak diangkat!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Maaf, Anto…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Orang tuamu mungkin tidak terlalu perduli dengan ulang tahun anaknya. Berbeda dengan orang tuaku. Mereka akan selalu berusaha untuk menyampaikan sebuah ucapan ulang tahun langsung”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Jangan bicarakan orang tuaku seperti itu”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lalu jam berapa kamu selesaikan semua urusanmu di Bogor tadi? Seandainya jam 3 sore kamu berangkat dari Bogor tidak akan begini jadinya”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Tidak semudah yang aku rencanakan sebelumnya… Beberapa orang yang ingin kutemui terlambat datang ke kantornya. Ada juga yang melimpahkan urusannya ke bagian lain yang kebetulan berada di lokasi yang berbeda”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Perencanaan waktu gunanya untuk membatasi kegiatan kita dalam satu hari. Bukan untuk merubahnya seenak kita sendiri!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku tidak merubah seenak aku sendiri!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lalu apa itu namanya!” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak bisakah Anto, kamu berterima kasih pada Tuhan, karena istri yang kamu nanti kembali ke rumah dalam keadaan utuh tidak kurang suatu apapun? Tidakkah kamu mengerti berapa banyak orang yang tidak dapat kembali di hari yang sama saat banjir seperti hari ini melanda Jakarta. Belum lagi kerusakan beberapa gardu listrik dimanfaatkan sebagian orang untuk melakukan tindak kriminalitas? Sulitkah menciptakan rasa syukur didirimu sendiri? Aku lelah, Anto, sungguh, aku tidak berbohong. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Beginikah keadilan memperlakukan wanita selama ini? Hati Santi memberontak. Ia ingin berteriak. Tapi tak mungkin.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Santi ingin mengakhiri perdebatan, tapi rupanya Anto belum menginginkannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku makin lama makin tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu inginkan dalam hidupmu, Santi”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bisakah kita lanjutkan pembicaraan ini besok pagi?” Santi menyahut lemah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Bisakah kamu belajar mengerti orang lain?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Kita sama-sama belajar, Anto…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sama-sama? Itu menurutmu!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Lalu sekarang apa yang kamu ingin aku lakukan?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto tidak menjawab, bergegas ke kamar tidur dan membanting pintu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Santi menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tulang yang menyusun tubuhnya terasa luruh perlahan. Ia ingin bertahan di tengah gemuruh jiwanya yang menolak sekaligus menerima cobaan yang dirasakannya hari ini. Cobaan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk terus meyakini bahwa semua kesedihannya adalah ‘cobaan’ yang akan menempa dirinya. Menjadikannya baja, bukan besi atau aluminium.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ia tertatih mendekati meja makan, mencoba mengisi kerongkongannya yang kian mengering semenjak kedatangannya di rumah ini. Pandangannya tertumbuk pada sebuah benda indah berhiaskan angka yang menunjukkan usianya kini. Lilin berwarna putih dan merah. Santi merasakan kehangatan menjalari tubuhnya. Tiramisu Cake kesukaannya. Sebagian krim dinginnya sudah tidak lagi beku. Ia hanya tahan 3 jam berada di luar lemari pendingin. Sementara, di dalam lemari pendingin ia tahan lebih dari seminggu. Meski demikian, kelembutan tekskturnya sudah akan berkurang di hari ketiga. Santi ingat betul semua pesan sponsor yang diucapkan customer service toko kue langganannya itu. Seingat dirinya akan semua kejutan kecil Anto di setiap hari ulang tahunnya. Bahkan sewaktu mereka belum menikah. Kini, krim dingin yang mulai terlihat lembek itu meleleh perlahan. Melebur bersama tetes air mata yang jatuh menimpanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-2414490197891337344?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/2414490197891337344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tujuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2414490197891337344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2414490197891337344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/tujuh.html' title='TUJUH'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-2413442679302408438</id><published>2012-01-09T04:12:00.000-08:00</published><updated>2012-01-09T04:12:40.380-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>ENAM</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading"/&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}&lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari 30 kartu nama berserakan di meja yang berada di depan televisi rumah Santi. Setelah kurang lebih 2 jam berkeliling di pameran handycfart yang diadakan di Jakarta Convention Center, Santi dan Irma duduk kelelahan di sofa ruang keluarga Santi sambil sesekali memijit-mijit betis mulai mengeras. Ipah, asisten setia Santi di rumah menyiapkan teh dan mendoan hangat untuk majikan dan temannya yang terlihat terkuras &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;energinya sore itu. &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang jalan menuju pameran, Santi dan Irma disibukkan dengan segudang rencana yang akan mereka lakukan sepulang dari pameran. Tidak kurang dari 5 jadwal pameran serupa di berbagai tempat telah tersedia di dalam tas Irma. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Aku tahu bagaimana rasanya berhenti bekerja… So, don’t give up, Santi. You would have another challenge,”ucapnya sambil mengeluarkan beberapa bungkus permen pelega tenggorokan untuk dibagikan ke Santi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“You look so nervous. Biasa aja kan? Kamu bilang Anto tidak keberatan…” Irma berkata sambil membuka satu bungkus permen untuk diletakkan di telapak tangan Santi yang berkeringat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Santi masih membisu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Look, Santi… perhaps I have too much words to say to you. Tapi kamu nggak bisa ragu sebelum bertindak. Apa yang dihasilkan dari kegiatanmu kali ini sangat ditentukan oleh keyakinanmu terhadap semua yang telah kamu rencanankan. My goodness! Orang sepertimu pastinya sudah seringkali merapalkan apa yang aku bilang tadi kepada anak buahmu dulu di kantor kan?!” Irma masih terus saja mengoceh sembari menebak-nebak jalan pikiran Santi melalui ekspresi wajahnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;‘Kekhawatiran yang terlalu berlebihan’, bisik Santi dalam hati. Sesaat dirinya ragu. Untuk siapa isi hatinya barusan lebih pantas ditujukan? Untuk Irma, atau dirinya sendiri? Hanya Santi yang tahu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Minum, Ir, tehnya, mumpung hangat,” Santi mempersilakan Irma kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ibu mau Ipah buatkan mie bakso? Enak Bu dimakan di cuaca mendung begini,” Ipah menawarkan untuk membantu mengisi perut dua orang nyonya kelelahan yang seperti mau pingsan ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Boleh deh,” sahut Santi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak lama setelah kehangatan menjalari tubuh Santi dan Irma, semangat untuk melihat-lihat perolehan selama menonton pameran kembali datang. Beberapa kartu nama perusahaan yang didapat Santi ternyata adalah supplier yang menyediakan barang untuk tujuan ekspor. Sebagian dari mereka bahkan mungkin masih mengingat Santi sebagai manager yang tidak jarang membantu pengurusan barang-barang produksi perusahaan mereka untuk dijual ke luar negri. Meski demikian, hampir semua perusahaan yang menghasilkan barang untuk dijual ke luar negri tersebut menghendaki pembelian dalam partai besar. Santi mengesampingkan kemungkinan itu. Banyak yang harus dipertimbangkan apabila ia ingin berdagang dalam skala besar. Hal itu bukan tujuannya. Ia hanya ingin mempunyai kegiatan sampingan yang tidak mempertaruhkan terlalu banyak uang dan tenaga dalam mengelolanya. Ia tidak ingin berorientasi pada hasil yang melimpah. Hasil yang melimpah identik dengan tanggung jawab yang lebih besar. Pengorbanan waktu yang tak henti menuntut untuk dipenuhi. Apa kata Anto nanti? Apa kata keluarga Anto? Dan yang terpenting, apa kata obsesinya kelak? Santi tidak dapat membayangkan dirinya dicibir oleh nuraninya sendiri. Oleh harapan-harapan indahnya akan sebuah perkawinan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebuah perusahaan berkelas CV yang menghasilkan beragam kerajinan dari anyaman bambu menarik minat Santi untuk bekerjasama. Beberapa lagi yang menghasilkan mainan anak dan pernak-pernik perhiasan wanita seperti gelang dan kalung turut ia masukkan ke sebuah kotak yang siap untuk di follow up dalam waktu dekat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mendung masih menutup langit Jakarta. Santi duduk di kursi teras rumahnya sambil memandang langit. Irma belum lama berpamitan pulang. Awan hitam nun jauh di batas pandang membentuk gumpalan yang kian pekat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut pengamatan Santi, kepadatan lalu lintas di Jakarta berbanding lurus dengan intensitas sinar matahari di pagi hari. Makin terang matahari bersinar, makin banyak makhluk Tuhan yang menjalani sebagian hidupnya di jalan. Tidak peduli apakah mereka memang makhluk yang diharuskan berada di jalan seharian seperti tukang pos atau pengantar pesanan delivery service ataukah ibu rumah tangga seperti dirinya. Matahari memang memberi banyak harapan pada manusia. Meski Santi bukanlah seorang yang mempercayakan sinar matahari pada kegiatan kesehariannya, tak urung cerahnya matahari di awal Februari kali ini membuat semangatnya meletup.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Setelah berbicara panjang lebar dengan Anto tentang kemungkinan kegiatan di rumahnya sejak seminggu yang lalu, akhirnya diputuskan bahwa Santi berhak menggunakan sebagian kamar tamu rumah mungilnya untuk dijadikan ruang pamer pernak-pernik jualannya. Brosur pun dirancang untuk disebarkan ke kantor-kantor yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Tidak ketinggalan mini market juga akan ia jadikan tempat untuk mempromosikan toko barunya kelak. Bila pemilik mini market tersebut berniat untuk bekerjasama dengan sistem bagi hasil, Santi berencana untuk tidak menolak. Pangsa pasarnya jelas, anak perempuan yang beranjak dewasa hingga wanita paruh baya yang masih memperhatikan penampilan. Santi juga berencana untuk menyediakan jasa pembungkusan kado seandainya ada pelanggan yang membeli untuk dijadikan hadiah. Kertas kado yang digunakan rencananya akan dipesan khusus bertuliskan nama dan alamat toko. Tidak perlu kertas yang mahal, yang penting target penjualan berulang tercapai. Irma akan didaulat sebagai penasihat utama untuk segala yang berhubungan dengan penataan ruang pamernya kelak. Santi menuliskan segala sesuatu yang telah direncanakan dan dirapatkan berulang-ulang dengan Irma dan Anto ke dalam sebuah organizer yang akan dibawanya kemana-mana nanti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditemani matahari yang sinarnya menabur harap ini, Santi menanti Irma di teras rumah. Santi dan Irma akan melakukan perjalanan ke sebuah produsen kerajinan yang terletak di Bogor. Janji bertemu dengan bagian pemasaran telah dilakukan 3 hari sebelumnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Santi sengaja memakai mobil Anto setelah Anto memberi izin. Kebetulan hari itu, Senin, tanggal 4 Februari, Anto mendapat tugas dari kantornya untuk mengunjungi sebuah pabrik di daerah Krawang bersama dengan seorang kolega yang menjemputnya pagi hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sukses ya, Say,” ujar Anto seraya mengecup kening Santi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hati Santi berbunga-bunga hari itu. Kecupan berisi semangat dari suaminya membuat dirinya yakin akan keputusannya kali ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Proposal dan surat-surat sebagai kelengkapan yang dibutuhkan telah tersimpan rapi dalam beberapa amplop coklat yang dimasukkan ke dalam map plastik. Tampil sempurna dalam mempersiapkan keperluan administrasi adalah keharusan bagi Santi. Tak sedikitpun kotoran dibiarkan menempel di lembaran proposal maupun&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;amplop coklat yang melindungi arsip pentingnya. &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Irma memandang teman dan sahabatnya ini penuh kekaguman. Irma menduga, semua ini Santi lakukan karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Santi. Kebahagiaan yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya tentunya tidak akan disia-siakan begitu saja, pikir Irma. Irma sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun terlebih dahulu. Ia telah mempersiapkan sebuah kado mungil untuk diserahkan kepada Santi nanti sepulang dari Bogor. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Berdua mereka melaju di tengah jalanan kota Jakarta yang sudah mulai memadat. Sesuai dengan perkiraan Santi sebelumnya. matahari, sumber segala aktivitas manusia telah disambut oleh gempita kegiatan di awal minggu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditengah jalan, Santi mencoba mengingat sesuatu. Handphonenya. Ia merasa salah satu handphonenya tertinggal di rumah. Ah, sudahlah, toh Anton dapat menghubunginya ke handphone yang saat ini ada bersamanya. Tidak menjadi masalah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sepanjang perjalanan Santi memupuk optimisme atas pekerjaan yang akan ditekuninya ini sambil berbincang dan bercanda dengan Irma. Banyak hal ingin Santi sampaikan kepada Irma. Begitu banyak hingga ia tak menyadari bahwa awan gelap mengikuti laju mobilnya dari belakang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pak Anto jadi order Tiramisu Cake?” Yuli, asisten Anto menanyakan melalui telepon.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;“Ya ampun, hampir saja lupa. Makasih ya, Yul, diingetin. Jadi. Bisa minta tolong pesankan? Bilang kalau nanti aku ambil jam 6 sore pulang kantor”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Baik, Pak. Sampaikan salam saya juga ya Pak untuk Bu Santi. Selamat ulang tahun”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Hahaha…beres, Yul”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Kalau bukan karena tuntutan pekerjaan dan keinginan orang tua, ingin rasanya Anto saat ini berada di depan laptopnya menulis sebuah cerita atau duduk di kursi malasnya di rumah menuntaskan beberapa buku yang belum selesai dibaca. Keinginan itu sementara harus dikubur terlebih dahulu. Ada bagian dari jiwa Anto yang ingin memberontak. Tak bisa. Ia tak ingin mengecewakan orang tuanya. Tapi pekerjaan ini sesungguhnya melelahkan tubuh dan jiwanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pukul 4 sore, Anto dan rombongan yang mengikuti meeting di Krawang tiba di kantor. Langit Jakarta hitam pekat. Hujan besar sepertinya akan mengguyur Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto buru-buru meminta Yuli untuk memesan taksi untuk mengantarnya mengambil cake ulang tahun Santi lalu pulang. Ia tak ingin istrinya menunggu terlalu lama. Menurut perkiraan Santi, kurang lebih pukul 5 sore dirinya sudah akan tiba di rumah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Pak Anto sudah kasih hadiah apa nih pagi tadi buat ibu?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Belum, Yul. Kami biasa memilih kado ulang tahun sendiri. Jalan berdua ke mal, lalu pilih sendiri sesuai selera” Anto berdiri disamping Yuli sambil menyerahkan oleh-oleh berupa makanan kering. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Asyik juga ya, Pak”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto tersenyum. Menerka-nerka jawaban Yuli barusan apakah untuk kebiasaannya dengan Santi atau untuk kue kering yang dibelikan untuk cemilan sore hari.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ngomong-ngomong, kapan rencana nikah, Yul?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Belum tau, Pak. Belum ada rencana. Mau kerja dulu aja…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Sampai kapan, Yuul… Perempuan suka keterusan kejar karir loh kalo nggak diingetin bisa…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Cheese stick nya enak, Pak. Bapak paling tau deh kesukaan anak buah…”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Yuli sudah mulai mengalihkan pembicaraan. Begitulah perempuan masa kini dengan pendiriannya. Anto tidak ingin melanjutkan pembicaraannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Yul, aku kan pulang awal hari ini. Kalau ada masalah yang mendesak untuk diselesaikan, kamu serahkan ke Pak Wiwid dulu ya. Aku udah bilang barusan sama dia”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Siap, Pak!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Tidak ada yang menyangka Jakarta akan mendapat guyuran hujan sedahsyat hari itu. Petir menyambar-nyambar. Angin bertiup bak puting beliung yang marah. Santi dan Irma menanti dalam kemacetan di pintu tol dalam kota Jakarta. Hujan deras kali ini terasa menghantam jendela mobil Santi lebih keras dari pada biasanya. Irma sibuk mengirim sms untuk Bima, suaminya, mengabarkan bahwa kepulangannya akan terlambat. Kemacetan yang mereka hadapi berbeda dari biasanya. Terlihat dari beberapa pengendara mobil yang terlihat gelisah sambil sesekali keluar dari mobil yang mereka tumpangi dengan menggunakan payung untuk melihat perkembangan kemacetan yang terjadi. Santi berkali-kali mencoba menghubungi Anto. Gagal dan gagal lagi. Gelisah mulai merajai pikirannya. Irma melalui kado mungilnya yang berisi parfum import 30ml mengingatkannya bahwa hari ini adalah hari istimewa baginya. Tentunya bagi Anto juga. Santi ingat bagaimana ia dan Anto selalu melewatkan hari ulang tahunnya dengan indah. Sederhana namun indah. Santi kecewa dengan dirinya sendiri. Bagaimana ini semua bisa terjadi. Bagaimana ia begitu saja melupakan hari ulang tahunnya dan menganggap kecupan hangat Anto tadi pagi adalah sebuah rutinitas belaka? Pasti orang tuanya dan orang tua Anto menghubungi no handphone nya yang tertinggal di rumah. Ohh..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Mengapa Irma bisa menghubungi Bima sementara dirinya belum juga bisa terhubung dengan Anto? Ah, handphone mereka menggunakan operator yang berbeda dengan Santi dan Anto. Atau, ya Tuhan jangan sampai yang tidak ia inginkan terjadi pada Anto.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;“Ir, tolong telponin Anto dong. Nomornya ada di handphoneku”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Irma mencoba membantu temannya yang kebingungan meski akhirnya gelengan kepalanya menjadi jawaban atas keingintahuan Santi atas kondisi Anto.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Anto tetap tidak bisa dihubungi. Anto, dimana kamu? Santi mendesah perlahan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/95940907114706859-2413442679302408438?l=kotakkupu-kupu.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/feeds/2413442679302408438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/enam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2413442679302408438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/95940907114706859/posts/default/2413442679302408438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kotakkupu-kupu.blogspot.com/2012/01/enam.html' title='ENAM'/><author><name>Nastiti Denny</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00456411803536169787</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-95940907114706859.post-7874607406838653648</id><published>2012-01-07T20:30:00.000-08:00</published><updated>2012-01-07T20:30:18.052-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='J50K'/><title type='text'>LIMA</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:OfficeDocumentSettings&gt;   &lt;o:AllowPNG/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:WordDocument&gt;   &lt;w:View&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:Zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:TrackMoves/&gt;   &lt;w:TrackFormatting/&gt;   &lt;w:PunctuationKerning/&gt;   &lt;w:ValidateAgainstSchemas/&gt;   &lt;w:SaveIfXMLInvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:IgnoreMixedContent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:DoNotPromoteQF/&gt;   &lt;w:LidThemeOther&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:LidThemeAsian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:LidThemeComplexScript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:Compatibility&gt;    &lt;w:BreakWrappedTables/&gt;    &lt;w:SnapToGridInCell/&gt;    &lt;w:WrapTextWithPunct/&gt;    &lt;w:UseAsianBreakRules/&gt;    &lt;w:DontGrowAutofit/&gt;    &lt;w:SplitPgBreakAndParaMark/&gt;    &lt;w:EnableOpenTypeKerning/&gt;    &lt;w:DontFlipMirrorIndents/&gt;    &lt;w:OverrideTableStyleHps/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathPr&gt;    &lt;m:mathFont m:val="Cambria Math"/&gt;    &lt;m:brkBin m:val="before"/&gt;    &lt;m:brkBinSub m:val="&amp;#45;-"/&gt;    &lt;m:smallFrac m:val="off"/&gt;    &lt;m:dispDef/&gt;    &lt;m:lMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:rMargin m:val="0"/&gt;    &lt;m:defJc m:val="centerGroup"/&gt;    &lt;m:wrapIndent m:val="1440"/&gt;    &lt;m:intLim m:val="subSup"/&gt;    &lt;m:naryLim m:val="undOvr"/&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"  DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"  LatentStyleCount="267"&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"   UnhideWhenUsed="false" Name="Light List"/&gt;   &lt;w:LsdException Locked="false" Pr
