Selasa, 31 Januari 2012

DUA PULUH LIMA

Santi mendesah. Mengapa semuanya datang sebagai potongan puzzle yang tidak menyatu satu sama lain. Sebuah bentuk yang harusnya saling melengkapi ternyata masih saja menyisakan lubang yang mesti kembali diisi dengan potongan yang lain. Yang belum ditemukannya hingga kini, saat dirinya sudah hampir mantap dengan keputusan yang dibuatnya.

DUA PULUH EMPAT

Irma mengendap-endap memasuki rumah dimana ia pernah tinggal bersama suaminya, Bima. Pagi hari setelah Bima berangkat ke kantor, pintu pagar memang jarang dikunci oleh pembantunya. Tukang sayur yang biasa mangkal di dekat rumah itu akan memanggil para langganannya di pagi hari sekitar jam 9. Irma sengaja datang pada waktu yang sama dengan saat pembantunya melangkah keluar pagar untuk berbelanja di tukang

DUA PULUH TIGA

Teh manis yang ada dihadapannya kali ini akan mengawali sebuah hari dimana moment penting dalam hidupnya akan diputuskan. Santi menghirup nafas dalam dalam. Sesekali ia melihat kearah kepulan asap yang  keluar dari cangkir teh dihadapannya. Aku akan meminumnya sampai habis lalu berangkat. Berangkat ke tempat dimana aku harus menyelesaikan sesuatu. tak dapat lagi tempat itu kusebut sebagai rumah. Bagiku

DUA PULUH DUA

Langit biru yang menaungi pantai di wilayah Jakarta utara itu cerah. Biru kelabu. Asap pabrik dan kendaraan telah turut menghiasi langit di atas Jakarta entah sejak kapan. Seingat Anto, hari pertama dirinya menginjakkan kaki ke tempat ini bersama perempuan yang berdiri di sebelahnya kini, langit diatas sudah berwarna keabuan.

DUA PULUH SATU

Santi membuka matanya perlahan. Ia berada di sebuah ruangan bercat putih. Jendela kaca yang menghadap ke tempatnya berbaring saat ini juga tertutup korden putih.  Ruangan ini begitu hening dan dingin. Inikah dunia penantian dimana manusia yang sudah meninggalkan alam fana berkumpul untuk menunggu pengadilan terakhir?

DUA PULUH

Santi memeluk teman setianya. Berusaha menenangkan luapan emosi yang tak kunjung padam. Ia sendiri belum dapat benar-benar memahami yang terjadi dalam hidupnya sebulan terakhir ini. Terlalu banyak. Terlalu bertubi-tubi. Kalau bukan karena harapan untuk merenda hidup yang lebih baik dari pada orang tuanya, mungkin Santi memilih untuk pergi meninggalkan semua kenangan yang menyisakan luka yang makin hari

SEMBILAN BELAS

Anto menemukan rumahnya dalam keadaan sepi. Tidak seperti biasa. Pukul 8 dirinya baru tiba di rumah sepulang kerja. Ipah, pembantunya, mempunyai kebiasaan tidur sebelum pukul 9 malam. Selesai menutup garasi dan pintu pagar untuk Anto, ia langsung masuk ke kamarnya. Anto menangkap keheningan kala memasuki ruang keluarga. Dilihatnya televisi yang sehari-hari menemani dirinya dan Santi merenung sendirian.